Danau Paling Jernih di Dunia, Airnya Dilarang untuk Disentuh

2 hours ago 3

CNN Indonesia

Minggu, 15 Feb 2026 00:00 WIB

Danau Rotomairewhenua di Selandia Baru, yang menyandang predikat sebagai perairan terjernih di dunia ini tengah ancaman penyebaran alga mikroskopis invasif. Danau Rotomairewhenua di Selandia Baru. (iStockphoto/Peter Kolejak)

Jakarta, CNN Indonesia --

Wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Nelson Lakes di Selandia Baru harus mematuhi aturan yang ketat saat memasuki kawasan Danau Rotomairewhenua, atau yang lebih dikenal sebagai Blue Lake.

Seperti dilansir CNN, danau yang menyandang predikat sebagai perairan terjernih di dunia ini tengah terancam oleh penyebaran alga mikroskopis invasif.

Pertama kali ditemukan oleh suku Maori dari iwi Ngati Apa, danau ini kini menjadi perhatian serius otoritas lingkungan. Meski alga tersebut sudah berada di hilir, keberadaannya dikhawatirkan terbawa naik ke hulu melalui sepatu bot pendaki atau botol air minum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guna menangani ancaman ini, badan konservasi setempat bersama Te Araroa Trust dan iwi Ngati Apa ki te Ra To telah menerapkan langkah-langkah biosekuriti di sepanjang jalur pendakian.

Wisatawan wajib membersihkan sepatu dan peralatan mereka di pos yang telah disediakan sebelum mendekati danau. Selain itu, terdapat tanda peringatan yang meminta pendaki memastikan perlengkapan mereka bebas dari kontaminasi alga.

Hal terpenting yang wajib dipatuhi turis adalah larangan menyentuh air danau dengan cara apa pun. Hal ini mencakup larangan berenang atau berendam di danau, bahkan termasuk sekadar membasuh handuk untuk mendinginkan badan.

Wisatawan juga dilarang menggunakan kamera bawah air, yang digunakan dengan cara mencelupkan perangkat ke dalam air seperti GoPro untuk mengambil gambar.

Larangan ini tidak hanya didasari oleh kekhawatiran biosekuriti, tetapi juga demi menghormati nilai budaya lokal. Dalam budaya Maori, Rotomairewhenua adalah perairan yang dianggap sangat sakral.

Selama musim panas, seorang petugas dari Departemen Konservasi atau perwakilan Ngati Apa akan berjaga di lokasi untuk mengawasi pendaki sekaligus mengedukasi mereka mengenai bahaya biologis dan nilai luhur danau tersebut.

Sejauh ini, tingkat kepatuhan wisatawan menunjukkan tren positif dengan berkurangnya insiden turis yang nekat menceburkan diri setelah pendakian yang melelahkan.

Meski demikian, hasil survei menunjukkan masih ada segelintir pengunjung yang merasa bahwa risiko pencemaran hanya disebabkan oleh orang lain, bukan diri mereka sendiri.

Otoritas setempat menilai bahwa membatasi jumlah pengunjung bukanlah solusi terbaik. Sebaliknya, mereka terus mendorong konsep pariwisata bertanggung jawab, yang mengajak wisatawan menikmati keindahan Rotomairewhenua tanpa membahayakan ekosistemnya yang sangat rapuh.

(wiw)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |