Deret Negara Ini Makin Ngebut Beralih ke Energi Bersih, RI Gimana?

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Negara-negara di berbagai belahan dunia berlomba menambah kapasitas energi terbarukan, bahkan di wilayah yang sebelumnya tak terduga. Para analis menilai, ini bisa menjadi awal era energi baru yang ditopang Matahari dan angin.

Pada paruh pertama 2025, energi terbarukan untuk pertama kalinya melampaui batu bara sebagai sumber listrik global terbesar. Tonggak ini dinilai krusial karena sektor energi merupakan penyumbang emisi terbesar di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Listrik bersih juga menjadi kunci untuk menekan emisi di sektor lain, termasuk transportasi dan industri berat.

Kenaikan pesat ini diperkirakan akan terus tumbuh secara eksponensial seiring semakin murahnya teknologi tenaga surya, angin, dan baterai dibandingkan bahan bakar fosil.

Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kapasitas energi terbarukan global akan berlipat ganda dalam lima tahun ke depan bertambah sekitar 4.600 gigawatt (GW), setara dengan total kapasitas listrik China, Uni Eropa, dan Jepang digabungkan.

"Tidak ada jalan kembali," kata analis listrik senior Ember, Malgorzata Wiatros-Motyka, mengutip CNN, Jumat (7/11).

Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa lonjakan ini belum otomatis menurunkan emisi global. Permintaan energi yang tumbuh cepat membuat energi bersih di banyak negara belum sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil. Akibatnya, tingkat polusi masih meningkat dan risiko dampak iklim ekstrem tetap membayangi.

"Transformasi penuh sektor listrik ke energi bersih bukan sesuatu yang pasti.Kita belum bisa memastikan keberhasilannya," ujar Hannah Pitt dari Rhodium Group.

Masih 'tersandera' fosil

Negara-negara pengemisi terbesar dunia mulai beralih ke energi bersih, terutama karena alasan ekonomi. Energi terbarukan khususnya surya kini menjadi pilihan paling murah.

China menjadi contoh paling mencolok. Dalam setahun terakhir, negara ini memasang pembangkit angin dan surya lebih banyak daripada total kapasitas yang saat ini beroperasi di Amerika Serikat.

Hingga akhir tahun lalu, kapasitas tenaga surya dan angin di China telah menembus 1.400 GW, dengan tambahan 500 GW lainnya masih dalam tahap konstruksi.

Amerika Serikat, meski dukungan politik terhadap energi bersih melemah di era Presiden Donald Trump, tetap mencatat pertumbuhan signifikan. Tenaga Angin dan surya mendominasi kapasitas listrik baru, dan AS kini berada di peringkat kedua dunia dalam pertumbuhan tenaga surya, di bawah China.

Dorongan ini datang dari perusahaan yang mengejar kredit pajak era Biden sebelum berakhir, serta fakta bahwa surya, baterai, dan angin darat tetap menjadi energi termurah dan tercepat untuk dibangun.

Uni Eropa, dengan dukungan kebijakan energi hijau, menargetkan hampir 43 persen bauran energinya berasal dari energi terbarukan pada akhir dekade ini.

Namun, transisi ini masih setengah hati. China mencatat produksi batu bara tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Amerika Serikat di sisi lain juga kembali meningkatkan ketergantungan pada PLTU, sementara India memperluas penggunaan fosil demi pertumbuhan ekonomi, dan Uni Eropa terpaksa meningkatkan pembangkit fosil akibat kekeringan yang menurunkan produksi angin dan air.

Realisasi dan komitmen Indonesia di halaman selanjutnya...


Read Entire Article
| | | |