WAWANCARA EKSKLUSIF
CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 21:30 WIB
Moana live action tayang 2026. (dok. Disney via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tahun ini Disney akan lebih jor-joran dibanding tahun sebelumnya. Studio Hollywood tersebut memiliki sederet rilisan besar tahun ini, seperti live action Moana, Toy Story 5, hingga Avengers: Doomsday.
Mereka juga sadar bahwa konten-konten tersebut memiliki banyak penggemar di Indonesia. Namun di sisi lain, pasar film Indonesia sejak beberapa tahun terakhir didominasi oleh konten lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghitungan mandiri CNNIndonesia.com menemukan, sepanjang 2025, penonton film nasional sudah mencapai lebih dari 79 juta penonton dan menguasai sekitar 60 persen pasar film di Indonesia.
Dengan situasi tersebut, bagaimana Disney akan mengatur strategi mereka tahun ini?
Executive Director and General Manager Studio Southeast Asia The Walt Disney Company, Rachel Fong, dan Head of Integrated Marketing South East Asia The Walt Disney Company, Allie Benedicto, berbincang dengan CNNIndonesia.com dalam membahas strategi mereka hingga peluang untuk kolaborasi dengan talenta Indonesia.
Disney punya banyak film besar tahun ini, dari Moana, Toy Story 5, sampai Avenges: Doosday, strategi spesifik apa yang sudah kalian siapkan supaya proyek-proyek ini sukses?
Rachel Fong:
Saya sangat senang Anda menyebutkan judul-judul tersebut karena memang itulah rilisan kunci kami tahun ini. Dan berdasarkan judul-judul itu, Anda bisa melihat bahwa Disney sebagai sebuah perusahaan, strategi kami dalam hal film adalah benar-benar bersandar pada IP (Intellectual Property), merek, dan waralaba (franchise) yang sangat kuat.
Anda mungkin sudah melihatnya melalui Lilo & Stitch tahun lalu, juga dengan Zootopia. Jadi, untuk urusan film, seluruh bagian perusahaan ikut mendukung. Saya rasa itu adalah strategi jangka panjang kami.
Allie Benedicto:
Menambahkan Rachel, meski IP dan waralaba ini benar-benar populer di Indonesia, kami tetap mencari cara untuk memperkuatnya karena menonton film saat ini sudah menjadi hal yang dibicarakan orang lebih dari sekadar ke bioskop dan menonton. Mereka membicarakannya setelah menonton; itulah yang Anda lihat di media sosial.
Jadi kami mencari cara untuk bisa melibatkan konsumen. Entah Moana ataupun Toy Story, karakter kami sangat populer. Jadi, aktivitas apa yang bisa melibatkan konsumen hingga mereka mau berbagi di media sosial?
Kami sudah pernah melakukannya untuk Fantastic Four, pertunjukan drone penuh yang pertama di Indonesia. Lalu ada juga melokalkan lagunya saat merilis Moana dan menjadi hit. Jadi, selain dari IP itu sendiri, kami mengaktifkannya dengan cara yang lokal dan sangat relevan di Indonesia.
Executive Director and General Manager Studio Southeast Asia The Walt Disney Company, Rachel Fong. (dok. The Walt Disney Company)
Apa ada yang lebih spesifik untuk ketiga rilisan tersebut?
Allie Benedicto:
Kami masih dalam tahap perencanaan awal, jadi kami belum bisa membagikan detail spesifik untuk ketiganya. Namun, Anda bisa melihat bagaimana kami merilis teaser Doomsday yang menimbulkan kehebohan besar. Sudah mencapai satu miliar views dan terus bertambah. Ini memberi kami gambaran betapa antusiasnya penggemar. Kami pastinya akan menyiapkan sesuatu yang besar untuk menyambut ketiga film ini.
Apa ada rencana bawa aktor Avengers: Doomsday untuk premier di Indonesia?
Rachel Fong:
Saya tidak akan pernah mengatakan tidak. Itu sangat tergantung pada jadwal mereka. Namun, itu selalu menjadi sesuatu yang ingin kami usahakan. Bahkan jika tidak di satu pasar spesifik di wilayah ini, kita bisa menggunakan satu negara untuk mengumpulkan semua orang dari Asia Tenggara. Itu juga bagus. Kami selalu mencoba melakukan hal seperti itu, contohnya pada Content Showcase di mana kami berhasil mengumpulkan begitu banyak talenta di satu tempat.
Bicara soal MCU, seberapa yakin Disney akan MCU tahun ini?
Rachel Fong:
Seperti yang disebutkan Allie tentang jumlah penonton trailer terbaru, kami sangat optimis dan bersemangat untuk Doomsday. Penantian panjang ini sebenarnya disengaja untuk menciptakan "landasan untuk terbang", dimulai dari rilis trailer untuk membangun semangatnya.
Di masa ini, kami mendengarkan apa yang dikatakan konsumen agar kami bisa memastikan proyek ini sukses besar. Masa penantian ini juga merupakan cara studio kami untuk lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas. Jadi, kami sangat bersemangat tentang masa depan Marvel.
Terlepas dari itu, pasar film Indonesia semakin dikuasai konten lokal dari tahun ke tahun. Tahun lalu sekitar 60 persen penonton memilih film lokal. Bagaimana Disney memandang ini?
Rachel Fong:
Pertama-tama, saya harus mengatakan bahwa kami sangat senang melihat betapa kuatnya pertumbuhan industri perfilman Indonesia. Hingga tahun lalu, Indonesia telah kembali ke level pra-Covid. Jadi itu fantastis. Dan seperti yang Anda sebutkan, hal itu sangat didorong oleh kekuatan film lokal. Film lokal benar-benar kuat, terutama dalam dua tahun terakhir pasca-Covid.
Dan dari perspektif kami, hanya dengan melihat jenis konten yang disukai penonton lokal, seperti Jumbo dan Agak Laen yang sangat sukses, dua film lokal terbesar tahun lalu, kami juga belajar bahwa penonton Indonesia mencari konten yang relevan secara budaya.
Jadi sebagai studio Disney, kami banyak belajar tentang bagaimana kami mendekati pemasaran film kami untuk memastikan bahwa kami tetap relevan secara budaya.
Kemudian, dengan belajar dari apa yang kita lihat dengan konten lokal di Indonesia, kita mulai menciptakan titik sentuh di mana penonton juga dapat terhubung dengan film-film kita. Seperti yang sudah disebut Allie tadi dengan Moana saat kami bekerja sama dengan Lyodra. Saya rasa itulah pendorong utama yang membawa film ini meraih kesuksesan di Indonesia, dan itu adalah sesuatu yang ingin terus kami lakukan di sini.
Head of Integrated Marketing South East Asia The Walt Disney Company, Allie Benedicto. (dok. The Walt Disney Company)
Apakah ada rencana Disney kolaborasi dengan seniman Indonesia atau bikin konten lokal di masa depan?
Rachel Fong:
Ada begitu banyak peluang. Beberapa talenta Indonesia juga pernah terlibat dalam konten kami. Saya rasa Iko Uwais pernah bermain di Star Wars sebelumnya, kan? Jadi kami tidak pernah menolak. Kami juga pernah punya konten yang difilmkan di Thailand, misalnya.
Allie Benedicto:
Jadi, para pembuat film dari Indonesia juga.
Rachel Fong:
Kami juga punya Griselda Sastrawinata (seniman Disney) yang pernah kami bawa ke Jakarta untuk bertemu mahasiswa seni. Dan itu diterima dengan baik. Di luar proses film, seperti dalam hal pemasaran, kami bekerja dengan talenta dari Indonesia. Karena saat ini, ada begitu banyak penutur hebat di Indonesia, salah satunya saat kami membuat aktivasi interaktif untuk Avatar: Fire and Ash di Senayan City.
Jadi, apakah ada rencana konkret membuat serial atau film hasil kolaborasi dengan pembuat film Indonesia?
Rachel Fong:
Saat ini belum ada rencana konkret yang bisa kami sampaikan, tapi saya tidak akan mengatakan bahwa itu tidak mungkin di masa depan.
(end)


















































