Duka dan Doa Dalai Lama untuk Korban Banjir Bandang Nepal-Tibet

5 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemimpin tertinggi Budhisme Tibet, Dalai Lama, menyampaikan pesan belas kasih dan doa atas bencana banjir bandang yang melanda Nepal, Rabu (26/8) dan menewaskan lebih dari 150 orang dan 1.000 lainnya masih hilang.

Pesan tersebut diunggah melalui laman resmi kantor yang Mulai Dalai Lama, dalailama.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan judul "Pesan Belas Kasih" Dalai Lama menuliskan:

"Saya turut berduka cita atas bencana banjir dahsyat di wilayah Rasuwa, Nepal, dan Kyirong, Tibet, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerusakan bangunan yang parah.

Saya berdoa untuk semua yang telah kehilangan nyawa, dan menyampaikan simpati serta belasungkawa terdalam saya kepada keluarga yang ditinggalkan dan semua yang terkena dampak tragedi ini.

Karena wilayah ini juga pernah mengalami bencana di masa lalu, ini tentu merupakan gejala dari penyebab mendasar yang lebih dalam - baik itu perubahan iklim atau faktor lainnya. Saya berharap tindakan tindak lanjut yang tepat akan diambil, di mana pun memungkinkan, untuk membantu memastikan bahwa bencana seperti itu tidak terulang kembali.

Dengan doa-doaku,

Dalai Lama

27 Agustus 2026"

Penyebab banjir

Banjir bandang yang melanda wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) dapat ditelusuri hingga ke Pegunungan Himalaya. Para ahli geofisika mengungkapkan "peristwa geofisika masif" terjadi di pegunungan itu hingga ke bawah dan menyebabkan banjir besar.

Pakar geofisika dari Earth Observatory di Universitas Columbia Goran Ekstrom mengatakan kepada ABC News bahwa sebuah tanah longsor di celah pegunungan terjadi pada siang hari dan meluruhkan gletser besar, atau sebagian dari gletser, di Himalaya.

Peristiwa tersebut begitu dahsyat hingga tercatat sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di seluruh dunia.

Peristiwa semacam ini pernah terjadi sebelumnya di Himalaya, namun menurut Ekstrom, kali ini merupakan "peristiwa geofisika berskala masif" hingga menyebabkan banjir bandang yang amat mematikan.

Menurut Ekstrom bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan sehingga menghasilkan energi luar biasa besar dan memicu peningkatan suhu yang mencairkan gletser. Peristiwa ini yang kemungkinan menjadi penyebab besarnya volume air yang mengalir sangat deras hingga ke kaki gunung.

Ekström memperkirakan bahwa ketinggian air banjir tersebut "luar biasa tinggi" akibat es, material reruntuhan, dan air yang meluncur sangat cepat turun ke lembah.

Ketinggian air kemungkinan mencapai 130 hingga 160 kaki atau 39 hingga 48 meter dengan kecepatan aliran yang mungkin mencapai 44 mil per jam.

Menurut profesor tersebut, perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia. Peristiwa semacam ini sebenarnya bisa saja terjadi tanpa ada perubahan iklim sekalipun, namun Ekstrom menilai ada kemungkinan perubahan iklim memperparah kejadian tersebut

"Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi, hal ini telah dipastikan, dan kejadian tersebut berkaitan dengan mencairnya gletser," katanya.

(imf/bac)

placeholder

Read Entire Article
| | | |