Jakarta, CNN Indonesia --
Industri hasil tembakau dinilai melibatkan ribuan pelaku dari hulu hingga hilir, menciptakan ekosistem ekonomi yang luas dan saling terhubung.
PT HM Sampoerna Tbk menyatakan salah satu peran perseroan adalah menghubungkan ribuan mitra dalam rantai pasok, termasuk petani tembakau dan cengkeh, tenaga kerja manufaktur, mitra distribusi, serta jaringan ritel tradisional.
"Saat ini, kegiatan operasional Sampoerna menyerap lebih dari 90.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui jaringan sembilan fasilitas produksi di Pulau Jawa dan 43 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang dimiliki dan dioperasikan oleh koperasi dan pengusaha daerah," demikian Sampoerna dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan studi Litbang Kompas pada 2025, aktivitas ekonomi Sampoerna tidak saja memberikan dampak langsung bagi karyawan, petani, dan mitra usahanya, melainkan juga menghasilkan dampak berganda senilai Rp204,1 triliun per tahun, setara dengan sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Sampoerna menyatakan, mengutip studi tersebut, efek itu tecermin dalam rasio multiplier sebesar 1,7 kali lipat, di mana setiap Rp1.000 yang dihasilkan dari aktivitas bisnis Sampoerna mampu menggerakan nilai ekonomi hingga Rp1.700.
Di sektor hulu, Sampoerna menuturkan pihaknya bersama mitra pemasok melakukan program kemitraan dengan lebih dari 19.500 petani tembakau dan cengkih melalui pendampingan teknis.
"Bahkan, sebagian besar petani mitra tersebut juga menanam komoditas pangan dan turut mendukung swasembada pangan," demikian perusahaan.
Di sektor produksi, Sampoerna mengoperasikan sembilan fasilitas produksi dan bermitra dengan 43 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang dimiliki oleh koperasi dan pengusaha daerah yang tersebar di 31 kota/kabupaten di Pulau Jawa.
(asa)
















































