Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia melemah dan bersiap mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut. Hal itu seiring meredanya risiko konflik dengan Iran serta kekhawatiran kelebihan pasokan tahun ini.
Mengutip Reuters, Jumat (13/2), harga minyak relatif stabil pada perdagangan akhir pekan setelah merosot di sesi sebelumnya.
Minyak mentah Brent naik tipis 3 sen atau 0,04 persen ke level US$67,55 per barel pada pukul 02.05 GMT, setelah sehari sebelumnya anjlok 2,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1 sen atau 0,02 persen menjadi US$62,85 per barel, usai turun 2,8 persen pada sesi sebelumnya.
Sepekan, tren harga minyak Brent diperkirakan turun sekitar 0,8 persen, sedangkan WTI melemah 1,1 persen.
Sebelumnya harga sempat menguat pada awal pekan, di tengah kekhawatiran bahwa Amerika Serikat (AS) dapat menyerang Iran terkait program nuklirnya.
Namun, pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (12/2) untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran Dalam waktu dekat, justru menekan harga minyak pada sesi sebelumnya.
Analis dari IG Group Tony Sycamore mengatakan harga minyak melemah di tengah sinyal bahwa AS masih mengupayakan waktu tambahan untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, sehingga menurunkan premi risiko geopolitik jangka pendek.
Selain meredanya tensi geopolitik, laporan bulanan International Energy Agency (IEA) pada Kamis (12/2) memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Secara keseluruhan, pasokan minyak diperkirakan akan melampaui permintaan.
Penurunan harga pada Kamis (12/2) juga diperparah data lonjakan persediaan minyak mentah AS, serta ekspektasi meningkatnya pasokan dari Venezuela dalam waktu dekat.
Sycamore menyebut pasar memperkirakan produksi minyak Venezuela akan kembali ke level sebelum pemblokiran dalam beberapa bulan ke depan, dari sekitar 880 ribu barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari.
Sementara itu, Departemen Keuangan AS disebut akan kembali menerbitkan izin pelonggaran sanksi terhadap sektor energi Venezuela pekan ini, menurut pejabat energi Gedung Putih.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan penjualan minyak Venezuela yang dikendalikan AS telah mencapai lebih dari US$1 miliar sejak penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari. Dalam beberapa bulan ke depan, penjualan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan tambahan US$5 miliar.
(lau/ins)
















































