Jakarta, CNN Indonesia --
Pasar saham di seluruh kawasan Asia-Pasifik, kecuali Indonesia, dibuka melemah pada Jumat (4/4). Tren loyo ini mengikuti anjlok penutupan pasar Amerika di New York karena pengumuman tarif baru Presiden Donald Trump.
Pembukaan indeks acuan Jepang Nikkei 225, yang melacak lebih dari 200 perusahaan terdaftar terbesar di negara itu, terpantau turun 2,6% dibanding kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks Topix yang lebih luas turun lebih jauh, sebesar 3,5%. Reuters melaporkan bahwa kedua indeks tersebut menuju penurunan mingguan terburuk sejak Maret 2020, selama puncak pandemi Covid-19.
Di Hong Kong yang merupakan tempat pasar saham didominasi oleh perusahaan-perusahaan China, Indeks Hang Seng juga dibuka turun sekitar 1,5%.
Di Korea Selatan, situasi politik terkini usai Presiden Yoon Suk Yeol resmi dimakzulkan membuat indeks Kospi turun 1%.
Meski begitu, perkembangan soal Yoon mengakhiri ketidakpastian dan pertikaian hukum selama beberapa bulan terakhir usai geger pengumuman darurat militer pada Desember 2024 dan menjerumuskan Korea Selatan ke dalam kekacauan politik.
Sementara itu, IHSG masih belum dibuka sejak ditutup pada 27 Maret 2025 lantaran libur Lebaran 2025.
Pasar saham global sebelumnya terguncang setelah pengumuman Presiden Donald Trump pada Kamis (3/4), terkait penetapan tarif tambahan ke banyak negara dan menimbulkan kekhawatiran akan resesi AS dan global.
Menurut laporan CNN pada Kamis (3/4), Dow Jones turun 1.679 poin atau 3,98%, S&P 500 turun 4,84% dan Nasdaq anjlok 5,97%. Ketiga indeks utama membukukan penurunan satu hari terbesar sejak 2020.
Selain itu, pasar global juga turun tajam pada hari yang sama. Indeks acuan Eropa STOXX 600 anjlok 2,57%, DAX Jerman turun 3%, indeks acuan Prancis merosot 3,31% yang jadi penurunan harian terbesar sejak Juli 2023. Indeks acuan Italia merosot 3,6%, penurunan harian terbesar sejak Maret 2023.
Saham perusahaan-perusahaan raksasa AS pun berjatuhan sejak pengumuman Trump tersebut. Apple (AAPL) anjlok 9,3%, Nike (NKE) jatuh 14,4%, Best Buy (BBY) anjlok 17,8%, dan Ralph Lauren (RL) anjlok 16,3%.
Menurut data FactSet, Apple kehilangan lebih dari US$310 miliar nilai pasar dari penutupan pada Rabu (2/4) hingga penutupan pasar pada Kamis (3/4).
Chip Hughey, direktur pelaksana untuk pendapatan tetap di Truist Advisory Services, mengatakan investor membeli obligasi karena kekhawatiran tentang "hambatan yang disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan ditambah tarif yang lebih ketat terhadap pertumbuhan di masa mendatang."
(end)