Jakarta, CNN Indonesia --
Kelompok milisi Houthi Yaman diduga berupaya memanfaatkan model kecerdasan buatan (AI) besutan Anthropic, a, untuk merancang perangkat lunak rudal balistik.
Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Anthropic beberapa waktu lalu. Dalam laporannya, Anthropic tidak menyebut Houthi secara spesifik, dan hanya mengidentifikasi pelaku sebagai "sel aktor ancaman yang berbasis di Yaman utara yang menjalankan tiga program pengembangan senjata."
Melansir New York Post pada Kamis (11/9), deskripsi itu merujuk kuat pada kelompok Houthi yang saat ini menguasai wilayah tersebut. Kelompok ini mencoba merancang roket pemadu yang menggunakan komputer penerbangan kelas smartphone biasa dengan sistem pemandu tahap akhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, mereka juga berupaya mengembangkan rudal balistik bertingkat serta rudal multipredikat yang mencakup varian wahana luncur hipersonik.
"Para pelaku menggunakan Claude Code sebagai pengganti insinyur perangkat lunak manusia untuk mengembangkan perangkat lunak panduan, navigasi, dan kendali yang mengarahkan dan menstabilkan kendaraan terbang," kata perusahaan tersebut dalam laporannya.
Untuk mengelabui sistem pengaman bawaan pada Claude, kelompok ini coba menyembunyikan tujuan akhir serta jenis produk yang sedang dikembangkan. Mereka juga membagi permintaan instruksi ke dalam beberapa sesi penggunaan secara terpisah.
Anthropic menjelaskan bahwa sistem keamanan mereka berhasil memblokir sebagian besar permintaan tersebut. Perusahaan menambahkan bahwa belum ada bukti yang menunjukkan para pelaku berhasil membuat perangkat operasional.
Namun, Houthi sempat melakukan percobaan penembakan roket pemandu, meski uji coba tersebut tampaknya gagal, karena beberapa jam kemudian pelaaku kembali menggunakan Claude untuk menganalisa kegagalan tersebut.
Laporan Anthropic juga mengungkap sejumlah insiden lain yang melibatkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Menurut perusahaan, para pelaku berupaya menyalahgunakan model AI buatan mereka.
Salah satunya adalah kelompok yang terhubung dengan Iran meminta Claude untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipakai untuk menargetkan militer Amerika Serikat, termasuk pergerakan kapal dan pesawat tempur AS, serta celah kelemahan pada sistem komunikasi mereka. Di tempat lain, Anthropic berhasil menggagalkan upaya sejumlah ilmuwan yang mencoba menggunakan AI untuk mendukung penelitian senjata biologis.
Anthropic juga mengidentifikasi upaya dari individu di Rusia dan China yang memanfaatkan AI untuk menyusun rancangan senjata konvensional, seperti sistem senjata anti-torpedo.
Laporan tersebut turut memuat aktivitas aktor asal Rusia yang mencoba menggunakan Claude untuk menyebarkan propaganda daring, serta upaya dari China dan Iran untuk memata-matai kelompok oposisi.
Laporan dari Anthropic ini makin memperkuat kekhawatiran global atas bahaya penyalahgunaan AI untuk persenjataan. Para ahli terus mengingatkan bahwa risiko AI tidak hanya datang dari penyalahgunaan oleh manusia, tetapi juga dari potensi model AI itu sendiri yang bergerak di luar kendali.
Awal pekan ini, Jacob Coxon, mantan peneliti di Anthropic dan OpenAI, turut menyuarakan keprihatinannya. Ia menilai kedua perusahaan tersebut tidak bertindak secara bertanggung jawab di tengah persaingan mengembangkan model AI yang makin canggih, serta memperingatkan risiko besar dari perlombaan menuju kecerdasan buatan tingkat tinggi tersebut.
(dmi)

















































