Ini Ciri Anak dengan EQ Rendah, Koreksi Sebelum Terlambat!

4 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Anak dengan EQ rendah biasanya mengalami kesulitan dalam memahami emosi sendiri, sulit berempati, hingga sulit beradaptasi. Orang tua sering menganggapnya sebagai perilaku wajar karena usia masih belia, tetapi sebenarnya ini ciri anak EQ rendah yang perlu diwaspadai.

Adapun menurut WebMDkecerdasan emosional atau EQ merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Anak dengan EQ tinggi cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika tanda EQ rendah tidak dikenali sejak dini, kondisi ini dapat berdampak pada hubungan sosial, prestasi belajar, hingga kesehatan mental anak di masa depan. Jadi, penting bagi orang tua untuk memahami ciri-cirinya agar bisa segera mengoreksi perilaku anak sekaligus pola asuh Anda selama ini.

Merangkum dari berbagai sumber, ini beberapa ciri anak EQ rendah yang perlu diwaspadai:

1. Sulit berempati pada orang lain

Salah satu ciri paling umum dari anak EQ rendah, yakni kurangnya empati. Menurut Simply Psychology, ini bisa terlihat dari anak yang tidak peka terhadap perasaan orang, sulit memahami mengapa temannya sedih, atau tidak peduli saat orang lain kecewa.

Kondisi ini membuat mereka cenderung dianggap cuek, tidak peduli, bahkan menyakiti perasaan orang lain tanpa sadar. Jika dibiarkan, anak akan kesulitan membangun hubungan yang sehat dan hangat.

2. Egois dengan makanan atau mainan

Mengutip Laodong, anak yang tak suka berbagi makanan atau mainan dengan temannya bisa menjadi tanda yang menunjukkan EQ-nya belum berkembang.

Banyak orang tua menganggap perilaku ini biasa, tetapi jika terjadi terus-menerus tanpa arahan, anak bisa tumbuh dengan pola pikir egois.

Mereka jadi sulit belajar bekerja sama dan berbagi dengan orang lain. Padahal, kemampuan berbagi adalah dasar penting dalam hubungan sosial.

3. Mudah kehilangan kontrol emosi

Ciri lain dari anak EQ rendah, yakni sulit mengendalikan emosi saat keinginannya tidak terpenuhi. Mereka bisa marah, berteriak, melempar barang, atau menangis berlebihan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Perilaku seperti ini menunjukkan anak belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik. Orang tua perlu tetap tenang, memberi waktu anak untuk menstabilkan diri, lalu membantu mereka memahami apa yang sedang dirasakan.

4. Sering menyalahkan orang lain

Sering menyalahkan orang lain jadi salah satu ciri anak EQ rendah.Ilustrasi. Sering menyalahkan orang lain jadi salah satu ciri anak EQ rendah. (istockphoto/JonathanLesage)

Saat ada masalah, anak dengan kemampuan refleksi diri yang rendah cenderung langsung mencari kesalahan di luar dirinya. Mereka sulit melihat peran diri sendiri dalam sebuah konflik atau kegagalan.

Ini bukan semata-mata sikap membangkang, melainkan tanda bahwa mereka belum belajar mengevaluasi diri.

Orang tua bisa mengoreksi dengan pertanyaan sederhana seperti, "Apa yang sebenarnya bisa kamu kontrol dari situasi ini?" agar anak bisa introspeksi diri. Jangan lontarkan pertanyaan, "Kamu tahu apa salahmu?" karena bisa membuat anak malah defensif.

5. Tak bisa menamai perasaannya

Jika ditanya sedang merasa apa, anak dengan EQ rendah sering menjawab, "Enggak tahu," "Biasa saja," atau "Baik-baik saja." Ini menunjukkan mereka belum memiliki kosakata emosi yang cukup.

Padahal, kemampuan memberi nama pada emosi sangat penting untuk mengelolanya. Perkenalkanlah satu per satu kosakata yang bisa mendeskripsikan perasaan kepada anak. Lalu lakukan permainan untuk menjelaskan perasaannya saat ini.

6. Sulit mencari dan menjaga pertemanan

Pertemanan membutuhkan kemampuan penting, seperti mendengarkan, bergiliran berbicara, membaca situasi sosial, dan menyelesaikan konflik.

Anak dengan EQ rendah sering kesulitan dalam aspek ini. Mereka bisa terlalu dominan saat berinteraksi, atau justru menarik diri dari pergaulan.

Orang tua bisa melatih dengan melakukan bermain role playing atau simulasi di rumah. Sesederhana menyampaikan pertanyaan bagaimana tindakan anak jika ia mengalami kendala dengan temannya di sekolah.

7. Sulit minta maaf dengan tulus

Anak yang sulit meminta maaf biasanya belum memahami arti tanggung jawab atas tindakannya. Mereka mungkin hanya mau mengucapkan maaf kalau dipaksa, tanpa benar-benar mengerti kesalahan yang dilakukan.

Untuk mengoreksi perilaku ini, orang tua perlu jadi role model dengan menyampaikan permintaan maaf tulus ketika berbuat salah. Jika permintaan maaf dipaksakan, Anda hanya mengajarkan kepatuhan, bukan kemampuan memperbaiki kesalahan.

Mengenali ciri anak EQ rendah sejak dini sangat penting agar orang tua bisa segera mendeteksi dan membantu perkembangan emosinya.

Perlu diingat, tanda-tanda di atas bukanlah sifat yang menetap. Semuanya merupakan keterampilan yang belum berkembang dan masih bisa dilatih dengan kesabaran, contoh baik, serta pendampingan konsisten.

(rti)

Read Entire Article
| | | |