Medan, CNN Indonesia --
Puluhan siswi sekolah dasar (SD) di Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara (Sumut) diduga menjadi korban pencabulan yang dilakukan oleh kakek pedagang mainan berinisial L (63).
Kepala Dusun XX, Desa Sampali, Kecamatan Percut Seituan Zulfan mengatakan kejadian itu terungkap setelah salah seorang siswi mengadukan pencabulan yang dialami temannya kepada guru pada Kamis (5/2).
"Perbuatan asusila itu terungkap setelah salah satu murid mengadu ke gurunya yang melihat temannya dilecehkan oleh terduga pelaku di depan sekolah saat para korban membeli barang dagangannya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi itu kemudian dilaporkan kepada kepala sekolah dan diteruskan ke perangkat desa serta aparat setempat. Dari hasil penelusuran, ternyata murid yang menjadi korban pencabulan diperkirakan mencapai 20 orang.
"Terungkapnya ada salah seorang siswi yang mengadu ke gurunya. Lalu guru melapor ke kepala sekolah. Akhirnya setelah ditelusuri anak anak ini mengakui bahwa mereka telah dilecehkan oleh terduga pelaku," ujarnya.
Setelah itu, para guru didampingi Bhabinkamtibmas pun mendatangi L yang saat itu tengah menyusun barang dagangannya. Saat diinterogasi, L mengaku telah melecehkan puluhan murid yang membeli barang dagangannya.
"Guru dan kepala sekolah langsung menemui terduga pelaku di lapangan pintu masuk sekolah. Kebetulan beliau itu tengah menyusun barangnya. Kami menanyakan kepada pihak Bhabinkamtibmas bahwa terduga pelaku ini mengakui mencium bibir dan pipi korban," jelasnya.
Tak hanya itu, L mengiming-imingi para korbannya dengan uang sebesar Rp2.000. Setelah melakukan aksinya, L memfoto para korban dengan handphone miliknya. L yang sehari hari berjualan mainan dan beras ini diketahui sudah berkeluarga.
"Terduga pelaku ini mengakui hanya mencium bibir dan pipi para korban. Dia mengaku memberi Rp 2.000 untuk setiap siswa. Dari hasil pengembangan ada sekitar 20 orang korbannya," paparnya.
Peristiwa pelecehan itupun sampai ke masyarakat yang langsung mendatangi sekolah. Untuk menghindari amukan massa, L langsung diamankan ke kantor desa. Kemudian L diserahkan ke Polrestabes Medan.
"Karena massa sudah berkumpul di kantor desa makanya terduga pelaku langsung dibawa ke Polrestabes Medan," paparnya.
(fnr/isn)
















































