Kebiasaan Mager Ini Ternyata Tanda EQ Tinggi Seseorang

6 hours ago 1

CNN Indonesia

Rabu, 19 Agu 2026 12:45 WIB

Bersantai sejenak bukan berarti malas. Malah, ada beberapa kebiasaan yang tampak malas sebenarnya tanda EQ tinggi seseorang. Ilustrasi. Bersantai sejenak bukan berarti malas. Malah, ada beberapa kebiasaan yang tampak malas sebenarnya tanda EQ tinggi seseorang. (iStock/Adene Sanchez)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Dalam budaya kerja yang serba cepat, orang sering menilai seseorang dari kesibukannya. Mereka yang tidak selalu terlihat sibuk kerap dicap malas, kurang ambisi, atau tidak produktif.

Padahal, tidak semua perilaku yang tampak santai benar-benar mencerminkan kemalasan. Bisa jadi, kebiasaan itu justru merupakan tanda EQ tinggi. Di tengah hustle culture yang menuntut kita selalu bergerak, orang dengan EQ tinggi sering memilih cara yang lebih sehat dan sadar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak semua yang tampak seperti kemalasan itu kurang motivasi. Terkadang orang melindungi waktu, energi, atau kesehatan mental mereka dengan menetapkan batasan yang sehat," kata psikolog dan terapis hubungan Mindy DeSeta, seperti dilansir Parade.

Artinya, perilaku yang tampak 'mager' belum tentu buruk. Berikut tujuh kebiasaan yang sering disalahpahami tetapi sebenarnya tanda EQ tinggi seseorang.

1. Sering ambil istirahat saat bekerja

Orang yang sesekali meninggalkan meja kerja untuk makan siang atau berjalan sebentar, sering dianggap kurang serius. Padahal, memecah slot waktu istirahat menjadi beberapa bagian kecil merupakan cara cerdas.

"Pada kenyataannya, istirahat singkat membantu orang untuk menyegarkan diri, tetap fokus, dan membuat keputusan yang lebih baik ketimbang bekerja hingga kelelahan mental," ujar DeSeta.

2. Pulang tepat waktu

Pulang sesuai jam kerja sering disalahartikan sebagai kurang dedikasi terhadap perusahaan. Padahal, seseorang yang suka pulang 'tenggo' justru paham hidup tidak hanya soal kerja.

Ia tahu kapan harus berhenti agar tetap punya energi untuk keluarga, kesehatan, dan kehidupan pribadi. Yang penting, ia tak menyalahi aturan dengan datang telat ke kantor.

3. Tak segan berkata "tidak"

Mau membantu semua orang memang terdengar baik, tetapi tidak realistis kalau kamu mengiyakan semua permintaan. Kebiasaan ini sering dianggap tanda pemalas, padahal belum tentu.

"Orang yang cerdas secara emosional mengetahui batasan mereka dan memahami bahwa melakukan beberapa hal dengan baik sering kali lebih berharga ketimbang melakukan banyak hal dengan buruk," tutur DeSeta.

4. Tidak langsung membalas pesan

Tak langsung membalas pesan merupakan tanda EQ tinggi pada seseorang, belum tentu karena malas.Ilustrasi. Tak langsung membalas pesan merupakan tanda EQ tinggi pada seseorang, belum tentu karena malas. (iStockphoto/Sitthiphong)

Di era digital, orang sering merasa harus selalu responsif. Padahal, menunda balasan pesan bukan berarti tidak peduli. Bisa saja seseorang sedang bersama keluarga, menyelesaikan pekerjaan penting, atau sekadar butuh jeda dari notifikasi.

Kemampuan menjaga jarak sehat dari tuntutan komunikasi nonstop adalah tanda EQ tinggi yang penting.

5. Sengaja menciptakan momen tanpa distraksi

Orang yang bisa multitasking selalu dianggap rajin dan sering diandalkan. Padahal belum tentu demikian. Seseorang dengan EQ tinggi justru senang menciptakan momen tanpa distraksi.

Momen bebas distraksi membantu seseorang lebih sadar diri dan memproses pengalaman hidup dengan lebih jernih. Ini bukan kemalasan karena ogah melakukan banyak hal sekaligus, melainkan bentuk refleksi yang menumbuhkan ketenangan batin.

"Tujuannya adalah untuk meningkatkan perhatian Anda terhadap rangsangan yang tepat," kata asisten profesor psikiatri di Harvard Medical School, Ashwini Nadkarni, seperti dilansir Real Simple.

6. Berhenti sejenak sebelum bereaksi

Saat menanggapi sesuatu, orang dengan EQ tinggi tidak langsung memberi tanggapan. Ini bukan karena malas bereaksi. Mereka memilih diam sejenak, menarik napas, lalu merespons dengan tenang.

Kebiasaan ini penting karena membantu seseorang tidak dikendalikan emosi sesaat. Menunda reaksi sesaat justru menunjukkan kontrol diri yang kuat.

7. Minta bantuan saat perlu

Sebagian orang menganggap meminta bantuan sebagai kelemahan. Padahal, orang dengan EQ tinggi tahu kapan harus bekerja sama.

Mereka memahami, tidak semua hal harus dikerjakan sendirian. Berani meminta bantuan menunjukkan kerendahan hati, kesadaran diri, dan kemampuan membangun hubungan yang sehat.

Pada akhirnya, kebiasaan yang dianggap malas belum tentu negatif. Banyak di antaranya justru mencerminkan kedewasaan emosi dan pengelolaan diri yang baik. Jadi, jika kamu punya kebiasaan seperti di atas, bisa jadi itu bukan tanda malas, melainkan tanda kamu punya EQ tinggi.

(rti)

Read Entire Article
| | | |