CNN Indonesia
Selasa, 28 Apr 2026 10:30 WIB
Ilustrasi. Benarkah kotoran telinga yang basah memengaruhi bau badan? Ini dia jawabannya menurut sejumlah penelitian. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belakangan, media sosial ramai membahas anggapan tentang kotoran telinga basah berkaitan dengan bau badan. Sekilas terdengar seperti mitos atau cocok-cocokan, apalagi karena dua hal ini tampak tidak berhubungan.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan, hubungan itu memang ada. Kotoran telinga dan bau badan ternyata sama-sama dipengaruhi oleh faktor genetik, terutama gen yang mengatur aktivitas kelenjar apokrin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kunci dari hubungan ini ada pada satu gen bernama ABCC11. Penelitian terbaru oleh Yu Toyoda dkk. di jurnal Human Cell (2024), menyebut varian tertentu dari gen ini berperan dalam aktivitas kelenjar apokrin, jenis kelenjar keringat yang berkaitan dengan bau badan.
Gen yang sama juga menentukan apakah seseorang memiliki kotoran telinga tipe basah (wet earwax) atau kering (dry earwax).
Orang dengan tipe kotoran telinga basah cenderung memiliki aktivitas kelenjar apokrin lebih tinggi. Aktivitas ini menghasilkan zat yang kemudian diurai oleh bakteri kulit menjadi bau khas tubuh.
Studi lain di Scientific Reports pada November 2024 juga menjelaskan, kelenjar apokrin menghasilkan senyawa prekursor bau yang kemudian diubah oleh bakteri menjadi senyawa berbau, seperti 3M3SH, salah satu komponen utama bau ketiak.
Hubungan ini sudah lama diamati. Studi lama di jurnal BMC Genetics (2009) tentang axillary osmidrosis (bau badan di ketiak) menemukan, tipe kotoran telinga basah sangat berkaitan dengan kondisi tersebut.
Dalam studi tersebut, varian gen ABCC11 tertentu (GG dan GA) disebut sebagai faktor yang memungkinkan munculnya bau badan. Adapun varian lain (AA), yang umum pada tipe kotoran telinga kering, cenderung menghasilkan sekresi yang lebih sedikit.
Meski demikian, penting dipahami bahwa gen bukan satu-satunya faktor. Bau badan juga dipengaruhi oleh sejumlah hal:
- Mikrobioma kulit (jenis bakteri di kulit)
- Kebersihan tubuh
- Pola makan
- Hormon
- Jenis pakaian dan lingkungan
Tidak semua orang dengan kotoran telinga basah pasti memiliki bau badan yang kuat. Begitu juga sebaliknya, orang dengan kotoran telinga kering bukan berarti sama sekali bebas dari bau badan.
Hal ini karena bau badan tidak hanya dipengaruhi gen, tetapi juga kebersihan, hormon, bakteri di kulit, jenis pakaian, makanan, hingga lingkungan.
Fakta menariknya, varian gen ABCC11 ini berbeda-beda pada tiap populasi. Sejumlah penelitian menunjukkan sekitar 80-95 persen orang Korea dan Jepang memiliki varian ABCC11 yang berkaitan dengan kotoran telinga kering dan produksi keringat apokrin yang lebih rendah.
Karena produksi keringat apokrin lebih sedikit, kecenderungan bau badan pada populasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan beberapa populasi lain.
(anm/rti)
Add
as a preferred source on Google


















































