Kran Ekspor Pupuk Dibuka, Wamentan Jamin Kebutuhan RI Tetap Aman

5 hours ago 10

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan kebutuhan pupuk untuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah meski Indonesia mulai meningkatkan ekspor pupuk urea ke sejumlah negara, termasuk Australia dan India.

Sudaryono mengatakan keputusan ekspor dilakukan setelah pemerintah menghitung adanya surplus produksi pupuk yang tidak terserap kebutuhan domestik.

Karena itu, ekspor hanya dilakukan terhadap alokasi pupuk yang dinilai berlebih setelah kebutuhan petani dalam negeri terpenuhi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah dalam hal ini BUMN Pupuk (Indonesia) dan Kementerian Pertanian memastikan bahwa pupuk untuk kebutuhan domestik itu yang diutamakan. Kami melihat ada selisih antara produksi dengan kebutuhan dalam negeri, itu yang kemudian bisa diekspor," kata Sudaryono dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Rabu (17/6).

Ia menjelaskan pemerintah telah melakukan komunikasi dengan sejumlah negara yang membutuhkan pasokan pupuk dari Indonesia.

Selain Australia dan India, beberapa negara lain seperti Brasil dan Filipina juga telah menyampaikan minat untuk membeli pupuk urea produksi Indonesia.

[Gambas:Youtube]

Menurut Sudaryono, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta kebutuhan pupuk dalam negeri dipastikan aman terlebih dahulu sebelum pemerintah membuka keran ekspor.

"Sesuai perintah Presiden (Prabowo), domestik dipenuhi dulu, dipastikan dulu. Kalau sudah penuh dan ada alokasi yang cukup, maka Indonesia harus hadir membantu negara-negara sahabat yang membutuhkan," ujarnya.

Ia menyebut Australia menjadi negara yang telah menerima pengiriman pupuk urea dari Indonesia. Sementara India masih dalam tahap pembahasan lanjutan menyesuaikan kebutuhan musim tanam di negara tersebut.

"Yang saat ini sudah konfirmasi adalah Australia yang sudah kita kirim, dan juga India yang sekarang menunggu penyelesaian kesepakatan karena mengikuti musim tanam masing-masing negara," katanya.

Sudaryono menambahkan Indonesia berada dalam posisi yang relatif aman di tengah gejolak pasar global karena mampu memenuhi kebutuhan pupuk utama secara mandiri, khususnya pupuk urea yang menjadi komponen terbesar dalam kebutuhan pertanian nasional.

"Kebutuhan pupuk yang menjadi kebutuhan dasar petani kita alhamdulillah tidak perlu membeli dari negara lain," ujarnya.

Kendati, ia mengakui Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku tertentu untuk memproduksi pupuk majemuk atau NPK.

"Kalau untuk NPK memang kita masih membutuhkan potasium dan fosfat yang diimpor. Tetapi komponen terbesar yang dibutuhkan petani adalah pupuk urea," kata Sudaryono.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan Indonesia akan mengekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai total mencapai sekitar Rp7 triliun melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government-to-government (G2G).

Pengiriman perdana dilakukan dari Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, pada Mei lalu sebanyak 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar.

Amran mengatakan volume ekspor ke Australia ditargetkan meningkat secara bertahap dari 250 ribu ton hingga mencapai 500 ribu ton. Selain Australia, pemerintah juga tengah menjajaki pasar ekspor ke India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh yang disebut membutuhkan tambahan pasokan pupuk.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan ekspor dilakukan di tengah kondisi pasokan pupuk domestik yang dinilai mencukupi.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga melakukan berbagai pembenahan tata kelola pupuk, mulai dari peningkatan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton, penyederhanaan distribusi, hingga revitalisasi industri pupuk nasional.

(del/ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |