Mark Zuckerberg Batal Ganti Karyawan Meta dengan AI, Ini Alasannya

3 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Meta Mark Zuckerberg dan para eksekutif lainnya merencanakan restrukturasi berupa perombakan sistem kerja perusahaan di era kecerdasan buatan (AI). Rencana ini bernama Project OT (Organization Transformation).

Project OT berfokus pada pemangkasan biaya melalui PHK dan pengalihan tugas bagi staf terampil. Rencana ini awalnya akan dijalankan dalam 2 gelombang, dengan skenario pengurangan ukuran tim hingga 60 persen.

Namun, setelah melakukan PHK terhadap 10 persen stafnya pada Mei, Meta memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Reuters (26/8), Meta mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa ini sebatas latihan perencanaan skenario untuk melihat dampak potensial dari pengalihan tugas, penutupan posisi terbuka, dan pemangkasan staf.

"Pada akhirnya, kami tidak melanjutkan setiap skenario dari latihan tersebut. Lagipula sejak awal kami tidak pernah mengasumsikan akan menjalankannya." kata perusahaan.

"Dalam permainan basket, serangan cepat memungkinkan tembakan lebih banyak dan mungkin lebih baik. Kami harap begitu pula dengan AI, alat ini memungkinkan kami eksplorasi lebih banyak ide dengan biaya lebih rendah dan keberhasilan yang lebih tinggi," tulis Wakil Kepala Manajemen Produk Ime Archibong.

Tim Archibong telah menyiapkan panduan bagi tim lain berjudul AI-Native Playbook. Posisi tradisional untuk desainer produk dan teknisi akan digantikan dengan posisi yang disebut "builder" yang akan berkoordinasi dengan agent-assisted analysis untuk menentukan tugas harian.

Meta kemudian mulai menugaskan beberapa staf ke unit AI terapannya untuk membuat perangkat lunak yang meningkatkan keterampilan coding model AI Meta. Perusahaan melaporkan adanya kemajuan dari pengalihan tugas ini.

Perusahaan juga meluncurkan alat atau mekanisme yang dapat mengidentifikasi irreplaceable talent yang merujuk pada istilah klise "10X Performer" untuk menggambarkan 1 orang yang mampu melakukan pekerjaan 10 orang sekaligus.

Meta juga sempat mewajibkan pemasangan perangkat lunak yang melacak dan merekam setiap klik pada keyboard serta kursor mouse stafnya. Perangkat tersebut digunakan agar agen AI mampu meniru cara manusia berinteraksi dengan komputer.

Pada awal rumor reorganisasi beredar, banyak staf merasa posisinya terancam akibat pemangkasan tersebut. Perusahaan membantah dengan menyatakan bahwa kabar ini merupakan pelaporan spekulatif tentang pendekatan teoretis.

Merasa mereka mungkin sedang melatih AI yang akan menggantikan mereka sendiri, juga kurangnya kejelasan yang diberikan perihal PHK, para staf Meta menunjukkan protesnya di Workplace, jaringan komunikasi internal mereka.

Menurut survei setengah tahunan internal Meta, sentimen karyawan terhadap perusahaan anjlok dari 74% positif menjadi 55% positif. Upaya pengorganisasian serikat pekerja pun menguat.

Di tengah pemberontakan tersebut, data internal lain menunjukkan bahwa teknologi yang menjadi inti rencana tersebut tidak sepenuhnya berjalan sesuai ekspektasi produktivitas yang ditargetkan.

Selain itu, laporan pada bulan April menyebutkan bahwa agen AI tanpa pengawasan melakukan "tindakan disruptif skala besar yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia."

Imbasnya, gangguan layanan dan potensi kebocoran data melonjak 40% dibanding tahun sebelumnya, dengan waktu yang harus dihabiskan staf untuk penyelesaian masalah naik 70 persen, menurut unggahan internal tersebut.

Rentetan insiden ini menjadi pertimbangan Zuckerberg untuk membatalkan gelombang restrukturisasi kedua yang direncanakan untuk bulan November setelah gelombang Project OT dijalankan pada 20 Mei.

Zuckerberg mengunggah memo di Workplace yang memberi tahu karyawan Meta bahwa dia "tidak mengharapkan adanya PHK skala perusahaan lainnya tahun ini" dan menyatakan keinginannya untuk memberikan lebih banyak "stabilitas."

Upaya-upaya restrukturasi tahun ini telah dihentikan, Meta menarik sementara program pelacakan keyboard dan mouse, mengizinkan beberapa karyawan di unit AI kembali ke tim lama mereka, dan menjamin fasilitas pendukung lain bagi para staf.

Meski demikian, masih ada kekhawatiran bahwa Project OT ini hanya ditunda untuk "tahun ini" dan reorganisasi pada akhirnya akan tetap dijalankan.

Pada awal Juli, Zuckerberg mengakui adanya salah perhitungan terkait tempo reorganisasi. Ia mengatakan teknologi agen AI tidak "berakselerasi" secepat yang dia harapkan.

Dalam esai 6.500 kata yang berjudul"The Future is for Everyone", Zuckerberg memprediksi masa depan AI dengan kemungkinan penyusutan jumlah karyawan sebagaimana yang terjadi pada transisi dari raksasa industri ke perusahaan teknologi.

"Namun ini tidak berarti jumlah pekerjaan secara keseluruhan berkurang. Ini mengindikasikan jumlah perusahaan yang lebih banyak dengan jumlah orang yang lebih sedikit di masing-masing perusahaan." tulisnya.

(fat/dmi)

placeholder

Read Entire Article
| | | |