Miris, 363 Ribu Pelajar RI Alami Gejala Depresi

2 hours ago 5

CNN Indonesia

Kamis, 12 Feb 2026 06:31 WIB

Kemenkes mencatat 363 ribu pelajar alami gejala depresi, dua kali lebih banyak dibanding orang dewasa. Ilustrasi. Banyak pelajar di Indonesia mengalami depresi dan kecemasan. (Pixabay/buerserberg)

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 300 ribu lebih pelajar di Indonesia tercatat mengalami gejala depresi. Angkanya bahkan lima kali lipat dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia.

Temuan ini diungkap Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025. Dari hasil pemeriksaan kesehatan jiwa terhadap 27 juta penduduk, kelompok anak dan remaja menunjukkan angka gejala depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi.

"Dari 27 juta penduduk yang diperiksa kesehatan jiwanya, gejala depresi dan gejala kecemasan pada anak remaja ini lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia," ujar Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes Asnawi Abdullah, dikutip dari Antara, Rabu (11/2).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data Kemenkes mencatat sebanyak 363.362 pelajar atau sekitar 4,8 persen mengalami gejala depresi. Sementara itu, 338.316 pelajar atau 4,4 persen lainnya menunjukkan gejala kecemasan.

Sebaliknya, pada kelompok dewasa dan lansia, jumlahnya jauh lebih rendah. Gejala depresi ditemukan pada 174.579 orang atau 0,9 persen, sedangkan gejala kecemasan tercatat pada 153.903 orang atau 0,8 persen.

Perbandingan ini memperlihatkan kesenjangan yang cukup tajam antara kondisi kesehatan mental pelajar dan orang dewasa.

Menurut Asnawi, berbagai faktor berkontribusi terhadap tingginya angka depresi pada pelajar. Salah satu faktor utama adalah tuntutan prestasi yang semakin besar.

"Evaluasi kami pelajar ini mengalami gejala depresi karena banyak faktor. Faktor utama karena tuntutan prestasi. Jangan nanti setelah parah baru diketahui anak ini mengalami persoalan mental. Ini menjadi satu fokus dalam pelaksanaan cek kesehatan gratis bagi pelajar," katanya.

Tekanan akademik, persaingan di sekolah, hingga ekspektasi dari lingkungan sekitar disebut dapat menjadi beban psikologis tersendiri bagi anak dan remaja.

Melalui program CKG, pemerintah berharap persoalan kesehatan mental dapat dideteksi lebih awal. Dengan begitu, penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi memburuk.

Ia juga menekankan peran penting guru dalam mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental pada siswa. Sekolah dinilai menjadi garda terdepan dalam mengamati perubahan perilaku, emosi, hingga penurunan performa belajar yang bisa menjadi sinyal masalah psikologis.

"Dengan CKG ini kami dapat melakukan deteksi lebih awal, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut agar kesehatan pelajar terjaga hingga dewasa nantinya," ujar Asnawi.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |