Daftar Wilayah Indonesia 'Dihantui' Fenomena Tanah Bergerak

2 hours ago 2
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Beberapa wilayah Indonesia mengalami bencana atau fenomena tanah bergerak dalam kurun waktu yang berdekatan, dari Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng) hingga Bukittinggi Sumatra Barat (Sumbar). 

CNNIndonesia.com telah merangkum beberapa daerah yang rawan akan bencana tanah bergerak di Indonesia yang membuat ribuan mengungsi.

Tegal

Fenomena tanah gerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, masih berlangsung aktif hingga pekan kedua Februari 2026. Warga yang terdampak beramai-ramai mengosongkan rumah dengan memindahkan barang yang masih dipakai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kades Padasari, Mashuri mengatakan, sejak Senin (2/2) pekan lalu, pergerakan tanah masih berlangsung hingga sepekan kemudian pada Senin (9/2) kemarin. Per awal pekan ini, Mashuri mengatakan data rumah terdampak sebanyak 464 unit dengan rincian 205 rusak berat, 174 rusak sedang, dan 85 rusak ringan.

Fasilitas sosial 21 unit, peribadatan tujuh unit, fasilitas pendidikan tujuh unit, dan pemerintahan satu unit. Untuk infrastruktur jalan desa dan kabupaten sebanyak tiga titik, satu bendung irigasi dan satu jembatan desa.

Mashuri mengatakan adanya suara retakan bangunan menjadi penanda adanya tanah bergerak. Warga yang rumahnya terdampak diungsikan ke lokasi yang aman. Jumlahnya mencapai 2.460 jiwa dari 596 KK.

"Dari total pengungsi 2.460 jiwa, (terdiri dari) laki- laki 939 perempuan 1.032. Lansia 216, ibu hamil 3, ibu menyusui 4, anak 195, balita 38, batita 67, remaja 1.034 dan dewasa 894," rinci Mashuri.

Semarang

Lurah Jangli, Maria Teresia Takndare, mengatakan tanah gerak terjadi di RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kamis (5/2) dan Jumat (6/2) lalu. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Senin (9/2), beberapa warga mengevakuasi barang di dalam rumah untuk dibawa ke rumah kerabatnya. Sebagian warga juga berkumpul di pengungsian yang didirikan di mushola terdekat karena rumahnya sudah tak bisa dihuni lagi karena terdampak tanah gerak.

Salah satu warga terdampak, Slamet Riyadi (47), mengaku khawatir hingga berencana mengungsi agar tidak tinggal di rumah dengan tanah yang terus bergerak tersebut. Slamet berharap pemerintah dapat membantu dengan menyediakan lahan relokasi bagi warga terdampak.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengaku  kejadian tanah gerak yang terjadi di Jangli akibat fenomena alam. Dalam sehari, kata Agustina, sudah ada 2-3 permohonan masyarakat yang mengajukan bantuan Pemkot Semarang untuk tindak lanjut di wilayahnya masing-masing.

Menurut Agustina, anggaran operasional BPBD untuk penanganan retakan tanah itu tak bisa disetujui karena ranah kewenangannya yang terbatas.

Selain itu, Agustina turut membenarkan kasus longsor di Kota Semarang diakibatkan kurangnya wilayah resapan di daerah Kota Semarang bagian atas. Pemkot Semarang berencana membangun embung.

"Betul (ada 55 kasus longsoran di Kota Semarang). Betul (terjadi karena kurang vegetasi dan resapan), nanti tahun ini akan dibuat embung-embung banyak sekali di tanah-tanah milik Pemkot," jelasnya.

Sumatera Barat

Kepanikan juga terjadi di kawasan Bukit Cangang Kayu Ramang Kota Bukittinggi, Sumatera Barat sejak 23 November lalu. Daerah yang berada di bibir Ngarai Sianok tersebut mengalami pergeseran dan pergerakan tanah yang mengancam keselamatan warga.

Kepala BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri mengatakan, pihaknya telah mengevakuasi dan merelokasi 68 orang dari kawasan tersebut.

Sulawesi Tengah

Gempa bumi yang mengguncang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah pada akhir tahun 2018 sllam memunculkan fenomena tanah bergerak atau likuifaksi. Fenomena tersebut diketahui terjadi di Sigi, Sulawesi Tengah.

Dewan penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan likuifaksi terjadi karena adanya getaran gempa. Fenomena ini menurutnya banyak dan hampir semua fenomena kegempaan muncul likuifaksi.

Fenomena tersebut mengakibatkan turunnya daya dukung tanah terhadap tekanan di atasnya. Likuifaksi merupakan fenomena alamiah yang terjadi karena adanya aktivitas gempa.

"Likuifaksi ini kalau diibaratkan seperti kita sedang mengetuk-ngetuk toples untuk memasukkan suatu benda supaya ada banyak yang masuk ke dalamnya. Ini menyebabkan cairan atau material halus berada di atas," imbuhnya.

Rovicky mengatakan likuifaksi terjadi pada lapisan di bawah tanah yang biasanya berupa butiran berukuran pasir. Air yang tersimpan di dalamnya akan ikut terbawa keluar ketika terjadi likuifaksi. Proses inilah yang kemudian membuat tanah bercampur air menjadi lumpur yang keluar dari dalam perut Bumi.

Aceh 

Fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, semakin meluas dan berpotensi mengancam area perkampungan warga.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai fenomena ini mirip dengan sinkhole, tapi memiliki sisi berbeda. Gerakan tanah di lubang raksasa Aceh itu disebut sudah berlangsung cukup lama. Batuan, kemiringan lereng, dan aliran irigasi juga membuat potensi lubang makin luas.

Menurut informasi dari warga setempat, gerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan masih berkembang sampai sekarang terutama pada musim hujan.

Batuan di lubang raksasa itu menjadi gembur karena lereng tak stabil dan kondisi air. Penyebab lubang semakin meluas juga karena proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air, yang memperlebar tebing atau lembah.

Hal tersebut membuat lereng tidak stabil dan jenuh air, sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah. Ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan.

Kondisi tanah labil, masih bisa dibangun rumah?

Bencana tanah gerak tentu berdampak buruk pada bangunan dan infrastruktur. Bahkan sejumlah bangunan tidak dirancang untuk menahan fenomena tersebut. Alhasil bangunan seperti rumah akan retak hingga roboh dalam sekejap karena pondasi yang tidak kuat menahan pergerakan tanah.

Arsitek Denny Setiawan mengatakan, membangun rumah di daerah Barat dan Selatan wilayah Indonesia jadi tantangan tersendiri karena merupakan patahan gempa, sehingga rawan terjadi pergerakan tanah.

"Indonesia itu di bagian Barat dan Selatan utamanya ya, itu kan daerah patahan gempa ya. Daerah-daerah di mana ahli juga sudah menyimpulkan bahwa akan banyak pergerakan terjadi di tanahnya. Jadi, Pulau Jawa termasuk daerah-daerah yang sebenarnya termasuk rada rawan," kata Denny mengutip detik.com.

Meski berada di kawasan rawan terjadinya pergerakan tanah, masyarakat masih bisa membangun rumah asalkan memperhatikan sejumlah hal. Menurut Denny, salah satu hal penting yang wajib diperhatikan adalah melakukan penyelidikan kekuatan tanah atau sondir.

"Nah proses ini jangan pernah di skip atau diabaikan oleh pembangun bangunan karena ini akan berakibat fatal apabila pergerakan tanah terjadi," ujarnya.

Lebih lanjut, Denny mengatakan jika masyarakat masih bisa membangun rumah di lokasi yang memang terjadi pergerakan tanah. Akan tetapi, dibutuhkan pengamatan mendalam untuk mengetahui fondasi apa yang cocok dan kuat guna menahan struktur bangunan.

"Jadi kalau misalnya ditanya 'apakah kalau misalnya kita sudah tahu tanahnya bergerak apakah kita tidak bisa membangun rumah atau bangunan di situ?' Jawabannya oh tentu bisa. Cuma, memang kita harus bijak memilih fondasi apa yang kita mau pakai," ujarnya.

Apabila sudah mendirikan bangunan di lokasi rawan terjadi pergerakan tanah, masyarakat masih bisa melakukan sejumlah pencegahan dengan melakukan suntik beton atau sering disebut juga injeksi beton.

Proses ini memperbaiki struktur beton dengan cara mengisi celah atau retakan pada beton yang bertujuan untuk memperbaiki kekuatan fungsi beton.

Antisipasi fenomena tanah gerak

Meskipun frekuensi gerakan tanah cenderung naik seiring pertambahan penduduk dan penggunaan lahan, Sutikno dkk dalam buku Geomorfologi Dasar mengutip teori Terzaghi (1960) dan Varness (1977), dikutip detikJateng, menekankan bahwa fenomena tanah gerak tersebut sebenarnya dapat dihindari dengan cara berikut:

Perencanaan pemanfaatan lahan

Setiap rencana pembangunan harus selalu memperhatikan faktor-faktor penyebab gerakan tanah. Pemilihan lokasi untuk permukiman, jalan, hingga tempat rekreasi harus mempertimbangkan besaran frekuensi gerakan tanah di masa lalu.

Memperhatikan kestabilan lereng

Pemanfaatan lahan yang melibatkan biaya besar dan manusia harus menghindari aktivitas yang mengganggu keseimbangan lereng. Hal ini termasuk menghindari pemotongan atau pengupasan lereng secara sembarangan untuk bangunan.

Menghindari perilaku pemicu

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan penggundulan hutan, tidak mencetak sawah di lereng yang terjal, serta tidak mendirikan rumah terlalu dekat dengan tebing yang curam.

Mengenali kondisi geologis

Kewaspadaan harus ditingkatkan pada wilayah dengan lereng curam, terutama jika terdapat lapisan tanah kedap air di bawah permukaan yang berpotensi menjadi bidang luncur saat jenuh air.

(kna/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |