MRT Buka Peluang Bangun Jalur Bawah Tanah di Blok M hingga Senayan?

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

PT MRT Jakarta (Perseroda) membuka peluang pengembangan jalur pejalan kaki bawah tanah atau extended concourse di stasiun lain setelah proyek serupa di Stasiun Bundaran Hotel Indonesia (HI) rampung.

Pengembangan konektivitas serupa disebut berpeluang menyasar kawasan yang memiliki pusat kegiatan dan bangunan komersial, termasuk kawasan Senayan.

Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) Ferdiansyah Roestam mengatakan extended concourse Bundaran HI saat ini menjadi proyek pertama yang dapat menjadi model untuk pengembangan konektivitas bawah tanah di kawasan lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Extended concourse ini belum pernah ada, saya harus akui itu. Jadi sebagai kuli proyek, saya kuli proyeknya sebetulnya dengan teman-teman ITJ, kita ketemu tantangan yang luar biasa. Salah satu tantangan yang paling berat adalah there's no evidence proyek sebelumnya yang similar," kata Ferdi dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (19/8).

Menurutnya, salah satu tantangan pembangunan proyek pertama tersebut berasal dari kondisi utilitas bawah tanah yang tidak selalu sesuai dengan gambar teknis (as-built drawing). Saat proses pengeboran dilakukan, misalnya, kabel atau utilitas lain dapat ditemukan pada posisi yang berbeda dari perkiraan.

"Kemudian kita drill, kita buka, hopefully 1 meter ternyata 30 sentimeter, 40 sentimeter udah ada kabel. Lumayan putar otak kita secara engineering. Nah, dengan tantangan sebanyak itu memang yang paling berat adalah mewujudkan ini, make it happen jadi barang dulu," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Ferdi mengatakan pengalaman menghubungkan transportasi publik dengan bangunan komersial di kawasan MRT menjadi salah satu pertimbangan untuk pengembangan berikutnya.

Ia mencontohkan salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Blok M yang telah terhubung dengan MRT melalui jembatan layang. Menurutnya, konektivitas tersebut ikut mengubah aktivitas dan tingkat keterisian pusat perbelanjaan tersebut.

"Dari yang tadinya abandoned, mal itu, tenancy-nya susah sekali untuk diangkat kembali karena mal lama, udah usianya lebih dari 30 tahun. Dan tiba-tiba sekarang occupancy rate-nya 99,9 persen. Naik, dan mereka udah kehabisan space sekarang. Iya, dan akhirnya rate mereka untuk sewa naik," kata Ferdi.

"It's all about MRT get connected semudah itu akhirnya dan membantu orang dari radius mana pun untuk tersambung. Itu jadi preseden yang cukup berharga untuk kita, preseden yang kuat sekali," lanjutnya.

Atas pengalaman tersebut, Ferdi menyebut peluang pengembangan extended concourse tidak hanya berkaitan dengan pusat perbelanjaan. Ia mengatakan Pemprov DKI Jakarta juga tengah mendorong bangunan di kawasan perkotaan agar memiliki fungsi yang lebih beragam, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran hingga area olahraga.

"Beberapa waktu yang lalu Pak Gubernur (Pramono Anung) memang menyampaikan ada harapannya untuk salah satu, dua mal yang ada di Jalan Asia Afrika untuk tersambung lewat bawah. But again, itu tidak tersambung secara langsung dengan moda transportasi," ujarnya.

Ferdi mengatakan pengembangan fungsi campuran (mixed-use) juga akan didorong di kawasan yang memiliki konektivitas transportasi publik. Menurutnya, konsep tersebut dapat membuka peluang koneksi antara bangunan dan jaringan transportasi.

"Karena ke depannya sekarang DKI memang mengeksersis ulang bangunan-bangunan yang ada tidak hanya menjadi single function, tapi bisa menjadi shopping center, bisa menjadi office, bisa menjadi area olahraga," kata Ferdi.

Meski demikian, pernyataan tersebut belum menunjukkan adanya keputusan pembangunan extended concourse baru di Blok M maupun Senayan. Pengembangan di kawasan lain masih bergantung pada kesiapan proyek, perencanaan kawasan, serta konektivitas dengan pemilik aset dan pemangku kepentingan terkait.


Read Entire Article
| | | |