Rekonstruksi Couture ala Viktor dan Rolf dan Imane Ayissi

3 hours ago 4

Fandi Stuerz | CNN Indonesia

Rabu, 04 Feb 2026 15:30 WIB

Meski hadir dalam dua pertunjukan berbeda, Viktor & Rolf dan Imane Ayissi membawa napas serupa, menempatkan proses berpakaian sebagai pusat narasi. Viktor & Rolf 'menerbangkan layang-layang' dalam pertunjukan koleksinya di panggung haute couture Paris, Prancis. Meski dalam dua pertunjukan berbeda, tapi Viktor & Rolf dan Imane Ayissi sama-sama menempatkan proses berpakaian sebagai pusat narasi. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Paris, CNN Indonesia --

Ketika industri mode menjadi semakin cepat, dan pakaian menjadi semakin murah, banyak orang bertanya, apa esensi dan relevansi dari adibusana alias couture? Namun pertunjukan dari Viktor & Rolf dan Imane Ayissi mampu mengingatkan kembali soal esensi dari haute couture

Inti dari haute couture pada dasarnya adalah konstruksi busana. Bagaimana kain dipotong, disusun, dibongkar, lalu dirakit ulang. 

Kemudian berapa banyak potongan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pakaian, lalu bagaimana sebuah busana dikonstruksi agar benar-benar berdialog dengan tubuh manusia. Haute couture bukan sekadar busana yang menutupi tubuh. Namun apa desainer memahami anatomi tubuh manusia?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panggung haute couture di Paris kali ini memperlihatkan jawaban yang jujur dan nyaris telanjang atas pertanyaan-pertanyaan itu. Lewat dua peragaan yakni, Viktor & Rolf dan Imani Ayissi, keduanya sama-sama menempatkan proses berpakaian sebagai pusat narasi.

Pada Viktor & Rolf Haute Couture, konstruksi dan dekonstruksi bukan sekadar teknik atau strategi show, melainkan dikemas menjadi sebuah dramaturgi.

Koleksi bertajuk Diamond Kite ini dibuat dengan konsep yang bermain di antara mode dan pertunjukan seni, antara busana sebagai objek dan busana sebagai proses.

Motif layang-layang, yang menjadi simbol pelarian, kebebasan, dan transendensi, diterjemahkan secara struktural dan konseptual. Siluet-siluetnya membentang, menggantung, kadang tampak tidak stabil, seolah menantang gravitasi.

Akan tetapi, di balik teatrikalitas itu, tersembunyi presisi teknik yang menjadi ciri khas duo asal Belanda, Viktor Horsting dan Rolf Snoeren, ini sejak awal karier mereka.

Pertunjukan dimulai dengan figur sentral: seorang model di atas plinth, mengenakan mini dress putih berkerah tinggi, berikat pinggang, dengan rambut menyerupai helm penerbang.

Pakaian yang dikenakannya nantinya akan menjadi "fondasi", dasar tempat lapisan-lapisan berikutnya akan dipasang dan dilepas.

Jenama Viktor & Rolf menampilkan koleksi bertajuk 'Diamond Kite' di panggung haute couture Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Layang-layang jadi simbol pelarian, kebebasan, dan transendensi.Jenama Viktor & Rolf menampilkan koleksi bertajuk 'Diamond Kite' di panggung haute couture Paris, Prancis beberapa waktu lalu. Layang-layang jadi simbol pelarian, kebebasan, dan transendensi. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Satu per satu, model-model lain keluar dengan mengenakan busana serba hitam dari duchesse satin, kemudian cloqué, tulle, dan material lain dikenakan di atasnya, dengan elemen warna yang kontras. Kemudian di hadapan penonton, lapisan-lapisan itu dilepas lalu yang tersisa adalah gaun hitam yang skulptural dan sangat wearable.

Proses 'undressing' ini menjadi momen kunci, memperlihatkan bagaimana bentuk ekstrem Viktor & Rolf sering kali menyembunyikan pakaian yang sangat kompleks namun tetap menarik di dalamnya.

Adegan ini mengingatkan pada tradisi revealing dalam seni pertunjukan, dari karya-karya Yoko Ono hingga konstruksi tubuh dalam teater Pina Bausch. 

Pun rasanya ada kesinambungan dengan koleksi Viktor & Rolf sebelumnya, seperti eksplorasi volume oversized dan ilusi optik pada musim-musim couture terdahulu, atau bahkan transformasi Cinderella versi boneka yang baru-baru ini mereka kerjakan bersama Mattel.

Tidak mengherankan jika inspirasi Kate Bush, khususnya citra melayang di antara bumi dan langit, menjadi penutup koleksi: sebuah "kite" final yang menggantung, merayakan aspirasi tanpa kehilangan pijakan.

Sementara itu, di Hôtel Meurice, Imane Ayissi menawarkan pendekatan yang jauh lebih rapuh namun sama pentingnya. 

Imane Ayissi menampilkan kejujuran dalam berproses lewat koleksi 'Bissakarak'. Dengan blak-blakan, Imane Ayissi memperlihatkan proses yang biasanya ada di balik panggung jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.Imane Ayissi menampilkan kejujuran dalam berproses lewat koleksi 'Bissakarak'. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Koleksi Bissakarak, yang berarti "coretan" dalam bahasa Ewondo, ditampilkan tanpa sang desainer, yang absen karena cedera. Presentasi salon ini justru membuka ruang keintiman yang jarang terlihat.

Jean-Marc Chauve, presiden dan partner dari Imane Ayissi, dan timnya mendandani model satu per satu di depan penonton. Ada resleting yang macet, gaun yang sulit dikenakan, rak pakaian yang nyaris roboh.

Semua ketidaksempurnaan itu menjadi bagian dari narasi yang menarik, yang memperlihatkan sebuah proses yang biasanya hanya terlihat di balik panggung, menjadi gamblang di depan seluruh tamu undangan.

Meski demikian, sinilah paralelnya dengan Viktor & Rolf menjadi jelas. Viktor & Rolf merencanakan setiap detik teatrikalitasnya dengan presisi luar biasa, sedangkan Imane Ayissi memperlihatkan kejujuran proses.

Keduanya sama-sama menelanjangi couture, secara harfiah dan konseptual. Ayissi merujuk pada cara berpakaian tradisional di berbagai wilayah Afrika, seperti kain yang dililit, diikat, disimpul.

Sutra berwarna permata dijahit menjadi kolom struktural atau setelan tailored, lalu dilapisi lagi dengan bentangan kain besar, sebagian berpinggiran rafia khas Ayissi. Potongan bias-cut yang ringan menciptakan siluet cair, sementara gaun bergrafik dengan sulaman tali menyerupai coretan memberi dimensi baru pada tubuh.

Imane Ayissi menampilkan kejujuran dalam berproses lewat koleksi 'Bissakarak'. Dengan blak-blakan, Imane Ayissi memperlihatkan proses yang biasanya ada di balik panggung jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.Dengan blak-blakan, Imane Ayissi memperlihatkan proses yang biasanya ada di balik panggung jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Referensi seni rupa muncul kuat di akhir pertunjukan, lewat gaun satin gading bertepi berjumbai yang dilukis tangan, terinspirasi oleh Mark Rothko yang Ayissi temui di MoMA. Seperti lukisan Rothko, busana-busana ini bekerja lewat lapisan dan kombinasi dan kontras warna.

Di tengah lanskap mode yang semakin bergantung pada citra digital dan kecepatan, kedua peragaan ini menegaskan kembali esensi couture, di mana waktu, tangan manusia, tubuh, dan proses masing-masing memainkan perannya.

Dressing dan undressing di depan publik menjadi pernyataan pentingnya memperlihatkan tidak hanya hasil akhir, namun bagaimana konstruksi garmen terjadi, dan menawarkan jawaban bahwa couture masih relevan justru ketika ia berani memperlihatkan bagaimana ia dibuat.

(fas/els)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |