Review Film: Toy Story 5

5 hours ago 8

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Jumat, 19 Jun 2026 20:15 WIB

Kisah Woody dan Buzz serta para mainan yang bisa hidup dan berpetualang kembali hadir dalam Toy Story 5. © 2026 Disney/Pixar. All Rights Reserved. Review Toy Story 5: Lebih dari 30 tahun berselang, Toy Story 5 bukan hanya berusaha konsisten dengan kualitas, tapi juga berupaya relevan dengan zaman. (dok. Disney/Pixar)

Bagi Toy Story 5, bikin cerita yang sama bagusnya itu bukan tantangan, melainkan bagaimana tetap konsisten dan relevan.

Jakarta, CNN Indonesia --

Konsistensi menjadi aset yang paling dijaga dalam waralaba Toy Story yang membentang lebih dari tiga dekade. Toy Story 5 membuktikan hal tersebut, baik dari segi kualitas cerita, produksi, dan yang paling penting: kedalaman rasa.

Konsistensi itu datang dari keberadaan para dalang Toy Story sejak awal yang masih tetap ada untuk kembali menggarap kelanjutan nasib petualangan Woody cs.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kali ini ada Andrew Stanton yang memulai perjalanan Toy Story sebagai salah satu penulis dan penggagas cerita titik awal saga ini pada 1995, berlanjut hingga kini duduk sebagai penulis dan sutradara Toy Story 5.

Meski Stanton 'akhirnya' jadi sutradara kisah Toy Story, ia tak rakus membabat habis posisi pengarah, penulis, dan penggagas cerita. Stanton menggandeng Kenna Harris yang debut ikut menulis naskah, sekaligus membantunya dalam tugas penyutradaraan.

Toy Story 5 ini memiliki pijakan cerita yang sama dengan Toy Story 4 (2019), yakni menyesuaikan dengan dinamisasi perkembangan zaman, setelah trilogi awal lebih banyak berkutat pada perkembangan para anak pemilik mainan.

Pada Toy Story 4 (2019), Stanton bersama Stephany Folsom dan sutradara Josh Cooley, mulai menyinggung bagaimana mainan mulai dilupakan oleh banyak anak, bukan hanya karena pemiliknya tumbuh menuju dewasa.

Dalam Toy Story 5, Stanton dan Harris membawa cerita itu menjadi lebih gelap -untuk para mainan- yakni dengan menghadirkan teknologi dalam narasi anak kecanduan gadget. Fenomena yang dialami banyak orang tua di dunia.

Kisah Woody dan Buzz serta para mainan yang bisa hidup dan berpetualang kembali hadir dalam Toy Story 5. Film animasi ini masih diisi suara oleh Tom Hanks, Tim Allen, dan Joan Cusack. © 2026 Disney/Pixar. All Rights Reserved.Review Toy Story 5: Toy Story 5 ini memiliki pijakan cerita yang sama dengan Toy Story 4 (2019), yakni menyesuaikan dengan dinamisasi perkembangan zaman, setelah trilogi awal lebih banyak berkutat pada perkembangan para anak pemilik mainan. Foto: (dok. Disney/Pixar)

Aspek inilah yang sebenarnya menjadi nilai tambah bagi Stanton. Ia sadar bahwa sekadar membuat cerita yang serupa agar rasanya sama itu bukan lagi sebuah tantangan, melainkan kewajiban dasar. Namun menghadirkan cerita yang "penting", itu jadi sebuah nilai tambah.

Selama 102 menit durasi Toy Story 5 berjalan, Stanton sejatinya mengajak penonton dewasa untuk merenung. Mengapa anak bisa kecanduan gawai? Dari mana semua itu berasal? Apa risikonya? Bagaimana akibatnya, baik untuk anak maupun lingkungannya?

Namun lebih dari itu. Stanton juga menawarkan 'penawar' kecanduan tersebut, justru dengan cara yang terbilang halus, manis, menyentuh, tapi sederhana: kembalikan anak pada nature habit mereka, yakni dunia imajinasi.

Jelas gagasan itu tidak bisa diterapkan untuk semua orang. Akan tetapi setidaknya Stanton bukan cuma menghadirkan kelanjutan salah satu waralaba animasi terlaris sepanjang masa, ia berusaha untuk menjadikan waralaba ini sebagai bagian dari isu yang dihadapi manusia secara global saat ini.

Terlepas dari gagasan cerita Stanton, Toy Story 5 juga menjadi sebuah tribut spesial untuk Jessie, sekaligus mendongkrak energi feminisme dan girl power melebihi apa yang ditampilkan Bo Peep pada Toy Story 4 (2019).

Kisah Woody dan Buzz serta para mainan yang bisa hidup dan berpetualang kembali hadir dalam Toy Story 5. Film animasi ini masih diisi suara oleh Tom Hanks, Tim Allen, dan Joan Cusack. © 2026 Disney/Pixar. All Rights Reserved.Review Toy Story 5: Setidaknya Andrew Stanton bukan cuma menghadirkan kelanjutan salah satu waralaba animasi terlaris sepanjang masa, ia berusaha untuk menjadikan waralaba ini sebagai bagian dari isu yang dihadapi manusia secara global saat ini. Foto: (dok. Disney/Pixar)

Cerita Toy Story 5 membungkus kisah Jessie dengan berbagai balutan emosi, mulai dari menyentuh, sesak, geregetan, berdaya, dan indah. Ditambah, akhirnya terwujud cerita cinta indah yang ditunggu-tunggu sejak lama di geng mainan tersebut.

Bukan hanya soal cerita cinta yang ditunggu di kalangan geng mainan, Stanton dan Harris juga memberikan fan service yang mantap untuk para penggemar Buzz Lightyear, mewujudkan imajinasi yang sebenarnya sudah harus muncul sejak cerita awal.

Tak perlu diragukan bagaimana kualitas gambar animasi dari Pixar dan Disney. Namun tim animator dan sinematografi Matt Aspbury serta JC Kalache memang patut diberikan buket bunga atas kualitas visual Toy Story 5 yang terlihat berkembang signifikan dibanding prekuelnya.

Sang legenda Randy Newman tetap memberikan sentuhan musik magisnya untuk saga kali ini. Pria 82 tahun itu masih konsisten sejak Toy Story berdiri. Namun ada satu yang berbeda, yakni posisi lagu You've Got a Friend in Me karyanya yang tak lagi menyambut di awal film.

Meski agak terasa kehilangan, lagu baru film ini, I Knew It, I Knew You, dari Taylor Swift terasa cukup bisa mengisi relung tersebut pada bagian akhir. Swift dan Jack Antonoff berhasil membuat lagu yang cocok untuk kisah Jessie dalam film ini, tanpa harus menggantikan arti penting dari lagu You've Got a Friend in Me.

Seperti Woody yang menunjuk Jessie sebagai sherif, Andrew Stanton menggandeng Harris, dan Randy Newman yang memberikan restu kepada Taylor Swift, Toy Story 5 juga mengajarkan arti penting untuk memberikan ruang pada sesuatu yang baru, di tengah upaya untuk konsisten pada legasi juga tradisi.

Memberikan ruang pada generasi atau hal baru bukanlah untuk mengganti atau melupakan yang sebelumnya, tapi sebuah langkah survival untuk mempertahankan legasi yang sudah ada, serta adaptif juga relevan terhadap perubahan zaman. Karena yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan itu sendiri.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |