Salah Baca Label Makanan Bisa Picu Stunting hingga Obesitas pada Anak

2 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 29 Jan 2026 11:30 WIB

Kesalahan membaca label pangan kerap tidak disadari orang tua. Padahal, dampaknya bisa serius terhadap status gizi anak, mulai dari obesitas hingga stunting. Ilustrasi. Kesalahan membaca label makanan anak bisa berujung pada obesitas hingga stunting. (iStockphoto/BrianAJackson)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kesalahan membaca label pangan kerap tidak disadari orang tua. Padahal, dampaknya bisa serius terhadap status gizi anak, mulai dari obesitas, anemia, hingga stunting.

Banyaknya makanan dan minuman kemasan serta ketidaktahuan orang tua membedakan kategori produk sering membuat anak mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis anak subspesialis nutrisi dan penyakit metabolik, Klara Yuliarti menilai, literasi label pangan di masyarakat masih sangat rendah.

"Untuk label pangan memang di masyarakat kita masih sangat awam. Jangankan membaca informasi nilai gizi, karbohidrat, protein, lemak saja itu masih merupakan istilah yang tidak biasa," ujar Klara dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (27/1).

Kesalahan paling mendasar sering terjadi sejak tahap paling awal, yakni membaca nama dan kategori produk. Banyak orang tua menganggap produk dengan nama 'susu' otomatis bergizi dan aman untuk anak.

Padahal, persepsi itu keliru. Produk yang selama ini dianggap susu ternyata bukan susu, melainkan krimer dengan kandungan gula tinggi yang mengakibatkan anak stunting dan memiliki gizi buruk.

"Di RSCM itu sudah cukup sering, pasien masuk ternyata dengan nyeri sendi, ternyata pasien ini mengalami defisiensi vitamin C, karena pasien minum susu kental manis," ungkapnya.

Masalahnya semakin serius ketika produk tersebut dikonsumsi dalam jumlah besar dan menggantikan makanan utama anak.

"Dia pikir, oh bagus nih minum susu. Minum susunya banyak, anaknya jadi gizi buruk, jadi stunting. Ternyata yang diminum itu susu kental manis," katanya.

Menurut Klara, susu UHT atau susu segar umumnya tidak diperkaya zat besi, sehingga jika tidak diimbangi sumber zat besi lain dari makanan, anak tetap berisiko mengalami anemia.

ilustrasi label kemasanIlustrasi. Orang tua wajib memahami label dalam kemasan makanan anak. (iStockphoto)

Risiko stunting juga meningkat akibat pola konsumsi camilan kemasan yang tidak tepat. Anak usia dini kerap mengonsumsi makanan ringan tinggi gula dan garam, tetapi rendah protein.

"Anak makan snack kemasan yang rendah protein, tinggi gula dan tinggi garam. Anak menjadi kenyang," ujarnya.

Akibatnya, anak menolak makanan bergizi di rumah karena sudah merasa kenyang. Pada saat pulang ke rumah, diberikan nasi, telur, sayur, tidak mau makan lagi karena anak merasa sudah kenyang.

Menurutnya, kondisi ini menyebabkan makanan bergizi yang seharusnya dikonsumsi anak tergeser oleh produk yang tidak memenuhi kebutuhan nutrisi, terutama pada anak usia 0-3 tahun yang membutuhkan asupan protein tinggi.

Oleh karena itu, kemampuan orang tua membaca dan memahami label pangan dinilai sangat krusial. Tidak semua produk kemasan berbahaya, namun banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak jika dikonsumsi tanpa pemahaman yang tepat.

(nga/asr)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |