Jakarta, CNN Indonesia --
Pasar smartphone global mendulang catatan positif dengan kenaikan angka pengapalan 2 persen secara tahunan (YoY) menjadi 1,25 miliar unit. Dari angka tersebut, Apple dan Samsung bersaing ketat di pucuk daftar, sementara Oppo berada di posisi kelima, menutup jajaran lima besar.
Laporan terbaru dari firma riset Omdia menyebut hampir seluruh kawasan mencatat pertumbuhan dibandingkan 2024, kecuali China yang mengalami penurunan tipis seiring meredupnya efek subsidi nasional yang sempat mendongkrak pasar pada awal 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Omdia mencatat permintaan dari konsumen yang melakukan upgrade maupun penggantian perangkat lama tetap menjadi pendorong utama pasar. Kondisi ini terjadi meski ketidakpastian masih membayangi lingkungan bisnis global.
Pada kuartal IV 2025 (4Q25), pasar smartphone bahkan tumbuh 4 persen YoY, ditopang faktor musiman dan kinerja kuat para vendor.
Meski demikian, Omdia mengingatkan adanya tekanan baru 2026, yakni kenaikan biaya komponen utama, termasuk memori. Kenaikan harga komponen pada paruh akhir 2025 mulai menekan ekspektasi pertumbuhan volume di awal tahun depan.
Pada 2025, Apple kembali mengukuhkan posisinya sebagai vendor smartphone terbesar dunia untuk tahun ketiga berturut-turut. Sepanjang 2025, pengiriman iPhone tumbuh 7 persen menjadi 240,6 juta unit, volume tahunan tertinggi sepanjang sejarah Apple.
Rekor tersebut didorong lonjakan pengiriman pada kuartal IV 2025, termasuk pertumbuhan 26 persen YoY di China berkat kuatnya permintaan iPhone 17 series.
Samsung juga mencatat kebangkitan signifikan setelah tiga tahun berturut-turut mengalami penurunan tahunan. Vendor asal Korea Selatan ini tumbuh 7 persen YoY pada 2025 dengan total pengapalan 239,1 juta unit, yang hanya terpaut tipis dari Apple.
Kinerja kuat Samsung terutama terlihat pada kuartal IV, dengan pertumbuhan pengiriman mencapai 16 persen YoY. Selain menjaga permintaan seri flagship Galaxy S dan Z, Samsung berhasil merebut kembali pangsa pasar di segmen entry-level dan menengah melalui lini A0x dan A1x.
Xiaomi mempertahankan posisi ketiga global pada 2025, meski menghadapi tekanan di akhir tahun. Pengirimannya turun 2 persen akibat melemahnya permintaan di segmen entry-level dan kontraksi tajam pada kuartal IV di sejumlah pasar utama.
Menurut Omdia, strategi perluasan portofolio dari Poco hingga segmen premium dan AIoT disebut menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan Xiaomi ke depan.
Sementara itu, vivo mencetak pencapaian baru dengan menempati posisi keempat untuk pertama kalinya. Vendor ini tumbuh 4 persen menjadi 105,3 juta unit, ditopang kinerja kuat di India dan pasar domestik.
Oppo melengkapi lima besar dengan total pengiriman 100,7 juta unit pada 2025, turun 3 persen dibandingkan 2024. Meski demikian, Oppo mulai menunjukkan pemulihan pada 4Q25 berkat peluncuran seri A6x.
Mulai 2026, integrasi realme ke dalam payung Oppo diperkirakan akan memperkuat posisi dan volume pengiriman perusahaan ini.
Di luar lima besar, sejumlah merek mencatat kinerja positif. Honor dan Lenovo masing-masing tumbuh 11 persen dan 6 persen, mencapai rekor tertinggi berkat ekspansi geografis yang agresif.
Huawei juga melanjutkan tren pemulihan dan kembali menjadi pemimpin pasar di China daratan untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Sementara itu, Nothing menjadi vendor dengan pertumbuhan tercepat di 2025, melonjak 86 persen hingga menembus 3 juta unit pengiriman.
Tantangan 2026
Senior Analyst Omdia Runar Bjorhovde menyebut meski 2025 menjadi tahun positif bagi sebagian besar vendor, tantangan besar mulai menanti di 2026. Tekanan pasokan pada DRAM, NAND, dan semikonduktor lain berpotensi menekan margin, memicu penyesuaian harga, dan melemahkan permintaan konsumen.
Vendor dengan skala kecil, ketergantungan tinggi pada LPDDR4/4X, serta porsi besar di segmen low-end dinilainya paling rentan. Oleh karena itu, pengelolaan rantai pasok dan hubungan jangka panjang dengan pemasok menjadi krusial.
"Keterbatasan ini mengancam akan menekan margin, memaksa penyesuaian harga, dan pada akhirnya mengurangi permintaan konsumen. Namun, para penjual tidak terpengaruh secara sama. Mereka yang beroperasi dengan skala kecil, memiliki hubungan jangka panjang yang terbatas dengan pemasok, paparan tinggi terhadap LPDDR4/4X, dan pangsa pasar kelas bawah yang besar akan sangat rentan," katanya dalam sebuah keterangan, Kamis (29/1).
Senada, Research Manager Omdia Le Xuan Chiew menilai potensi kontraksi pasar pada 2026 akan mendorong vendor untuk lebih fokus pada profitabilitas dan sumber pendapatan alternatif. Di tengah tekanan, periode disrupsi justru membuka peluang strategis bagi vendor yang mampu bergerak lincah untuk merebut konsumen upgrade, memperluas kanal distribusi, dan memperkuat kemitraan jangka panjang.
Menurutnya, kunci persaingan ke depan bukan hanya memahami apa yang diinginkan konsumen, tetapi juga bagaimana dan mengapa mereka membeli perangkat.
"Fokus utama para penjual harus tetap pada pelanggan akhir. Seiring dengan perkembangan perjalanan pembelian, tidak cukup bagi penjual untuk hanya memahami apa yang diinginkan konsumen. Sama pentingnya adalah memahami bagaimana dan mengapa mereka membeli, agar dapat menargetkan titik-titik pengaruh kunci di mana opini harus dipengaruhi," tuturnya.
Vendor yang mampu mengoptimalkan titik pengaruh dalam perjalanan pembelian ini diyakini akan memiliki daya tahan lebih kuat di tengah tekanan pasar yang berkelanjutan.
(lom/dmi)

















































