Studi Ini Bongkar Tren Kematian Manusia Imbas Cuaca Ekstrem

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa sejak 1988, banyak wilayah di dunia mengalami peningkatan dampak fatal akibat cuaca ekstrem, seperti banjir, badai, serta gelombang panas dan dingin yang ekstrem.

Penelitian berjudul 'Climate Hazard Mortality: Diagnosis Trends and Outliers', yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letter pada 4 Desember 2025, menganalisis data bencana iklim global dan menyoroti bahwa dampak cuaca ekstrem terhadap manusia tidak hanya tercermin dari angka kematian, tapi juga dari kerugian ekonomi, hilangnya hari kerja, dan kerusakan properti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan studi juga menunjukkan tren yang tidak seragam antarwilayah. Di Asia, misalnya, jumlah kematian akibat banjir dan badai justru cenderung menurun seiring meningkatnya sistem peringatan dini dan kemampuan adaptasi masyarakat.

Sistem peringatan dini dan kemampuan adaptasi masyarakat itu diperkirakan telah menyelamatkan sekitar 350.000 jiwa sepanjang periode 1988-2024. Analisis statistik juga menunjukkan tingkat keyakinan sebesar 95 persen bahwa jumlah nyawa yang diselamatkan berada dalam kisaran 220.000 hingga 560.000 jiwa.

"Pengurangan kerentanan yang didorong oleh pembangunan di Asia selama periode 1988-2024 telah mengakibatkan ratusan ribu orang lebih sedikit yang meninggal akibat banjir dan badai dibandingkan dengan skenario di mana kerentanan tetap konstan dan populasi Asia terus tumbuh dengan laju yang sama seperti sebelumnya," tulis B.B. Cael, peneliti dari Departemen Ilmu Geofisika Universitas Chicago, melansir Phys, Minggu (25/1).

Sementara itu, di Eropa, kematian akibat gelombang panas justru menunjukkan tren peningkatan, seiring makin seringnya panas ekstrem dan berkurangnya periode cuaca dingin.

Selama periode studi, kasus kematian di Eropa kini lebih banyak terjadi pada musim semi dan musim panas (periode Mei-Agustus), dibanding musim gugur dan musim dingin (periode Oktober hingga Februari).

Meskipun gelombang panas menjadi lebih umum dibandingkan dengan gelombang dingin yang kurang mematikan, ia menyimpulkan bahwa hal ini tampaknya tidak disebabkan oleh paparan, karena populasi Eropa telah tumbuh kurang dari 4 persen sejak 1988.

Kemudian, di Afrika, banjir menjadi semakin mematikan, meski data dipengaruhi oleh beberapa peristiwa ekstrem yang sangat besar dampaknya.

Ia mencontohkan bagaimana kejadian badai Daniel yang melanda kawasan Mediterania pada September 2023 dan tercatat sebagai badai tropis paling mematikan dalam sejarah wilayah tersebut. Berdasarkan data, badai ini menyebabkan sekitar 13.200 korban jiwa.

Korban jiwa tersebut sebagian besar dari Libya, menyusul runtuhnya Bendungan Abu Mansour dan Derna yang melepaskan sekitar 30 juta meter kubik air. Selain menelan korban jiwa, Badai Daniel juga memicu kerusakan dengan nilai sedikitnya €20 miliar atau setara US$21 miliar (sekitar Rp330-340 triliun).

Analisis Cael menunjukkan bahwa banjir mematikan di Afrika telah menjadi lebih sering terjadi akibat pertumbuhan populasi. Namun, ketika Daniel di kecualikan dari kematian akibat badai di Afrika antara tahun 1988 dan 2024, tidak terdapat tren serupa, menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan kejadian luar biasa dan tidak mencerminkan pola yang lebih luas.

Bagaimana studi dilakukan?

Cael menggunakan data dari Basis Data Peristiwa Darurat (EM-DAT) yang tersedia secara publik. Ia memilih subset 1.974 bencana dengan menyaring data dalam empat cara. Peristiwa sebelum 1988 atau setelah 2024 tidak dipertimbangkan.

Cael hanya memasukkan peristiwa dengan sedikitnya 30 korban jiwa dalam analisisnya. Ia menemukan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut menyumbang setidaknya 95 persen dari total korban jiwa, sehingga ambang batas ini dinilai cukup representatif.

Dalam penelitian ini, Cael tidak memasukkan kebakaran hutan, kekeringan, dan letusan danau gletser, karena hanya menyumbang 2 persen dari peristiwa yang tersisa.

Peristiwa cuaca ekstrem ini kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis, yakni suhu ekstrem, banjir, dan badai, serta berdasarkan lima benua, yang mencakup Amerika Latin dan Karibia sebagai satu kelompok. Amerika Selatan dan Australia dikecualikan.

Setelah penyaringan ini, Cael menemukan jumlahnya adalah "300 peristiwa cuaca ekstrem, 1.088 banjir, dan 586 badai, dengan total 940.895 korban jiwa. Berdasarkan wilayah, terdapat 270 peristiwa di Afrika, 1.215 di Asia, 181 di Eropa, 220 di Amerika Latin, dan 88 di Amerika Utara."

Metode dan temuan statistik

Untuk menentukan besaran kematian, Cael menggunakan distribusi Pareto umum (GPD) karena peristiwa-peristiwa ini mewakili ekor atas kematian akibat semua bahaya terkait iklim, yang terdistribusi sepanjang garis waktu.

GPD sering digunakan untuk menganalisis ekor (nilai besar atau kecil) dari distribusi lain, seperti distribusi normal (Gaussian) (juga dikenal sebagai kurva lonceng), distribusi eksponensial, atau distribusi seragam kontinu.

Secara matematis, dapat dibuktikan bahwa ekor dari banyak distribusi konvergen ke GPD. GPD sering digunakan untuk menganalisis bahaya iklim, seperti kerusakan akibat badai.

Karena penelitian Cael hanya mempertimbangkan peristiwa paling mematikan, hasil matematis ini memastikan bahwa GPD merupakan perkiraan akurat dari distribusi sebenarnya kematian.

Ia menemukan bahwa pengamatan yang difilter dapat dijelaskan dengan baik oleh GPD, dan ia membuat GPD untuk setiap wilayah dan jenis peristiwa. Distribusi ini kemudian digunakan untuk memperkirakan apakah peristiwa jenis tertentu di wilayah tertentu menjadi lebih atau kurang mematikan seiring waktu.

(wpj/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |