CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 18:30 WIB
Ilustrasi. Otak masih tetap bisa berkembang, meski sudah memasuki usia lansia. (istockphoto/Marcus Chung)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seiring bertambahnya usia, penurunan kemampuan berpikir kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Padahal, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Studi selama tiga tahun yang melibatkan hampir 4.000 orang berusia 19 hingga 94 tahun menemukan bahwa kesehatan otak masih dapat ditingkatkan pada berbagai tahap kehidupan.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Texas at Dallas tersebut menunjukkan bahwa kemampuan otak, termasuk fokus, memori, ketahanan kognitif, pengelolaan emosi, hingga rasa memiliki tujuan, dapat berkembang ketika seseorang rutin melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan otak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otak tetap bisa berkembang seiring usia
Penelitian ini dilakukan oleh Center for BrainHealth di University of Texas at Dallas dan diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports. Data yang digunakan berasal dari The BrainHealth Project, sebuah inisiatif yang diluncurkan pada 2020 untuk mempelajari cara menjaga dan mengoptimalkan kesehatan otak sepanjang kehidupan.
Mengutip Real Simple, hasil penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia tidak secara otomatis membuat seseorang kehilangan ketajaman mental. Peserta dari berbagai kelompok usia justru menunjukkan peningkatan setelah mengikuti rangkaian pelatihan yang mencakup pembelajaran berbasis strategi, pendampingan, dan penerapan kebiasaan yang mendukung kesehatan otak.
Neurolog dari Kaiser Permanente Maryland, Ejaz Shamim, mengatakan hasil tersebut menantang anggapan bahwa kemampuan kognitif pasti menurun pada usia tertentu.
"Semua kelompok usia menunjukkan peningkatan, yang menantang gagasan bahwa kemampuan kognitif menurun pada usia tertentu," ujar Shamim.
Menariknya, peserta yang memiliki skor awal paling rendah justru menunjukkan potensi perkembangan terbesar. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan kognitif yang kurang baik bukan berarti tidak dapat diperbaiki.
Stacey Vernon, kepala adult assessment di Center for BrainHealth, mengatakan penelitian juga menemukan adanya efek pemulihan ketika kemampuan peserta sempat mengalami penurunan.
Menurut dia, konsistensi menjadi salah satu faktor yang paling berkaitan dengan keberhasilan. Peserta yang melakukan latihan singkat selama lima hingga 15 menit setiap hari dan secara sengaja membangun kebiasaan sehat menunjukkan hasil yang lebih baik.
Cara sederhana menjaga fungsi otak
Kesehatan otak tidak hanya dipengaruhi oleh latihan kognitif. Pola tidur, aktivitas fisik, makanan yang dikonsumsi, hingga cara seseorang menjalani aktivitas sehari-hari turut berperan.
Berikut sejumlah kebiasaan yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga fungsi otak:
1. Kurangi multitasking
Mengerjakan banyak hal sekaligus mungkin terasa efisien, tetapi kebiasaan tersebut dapat membuat otak lebih mudah lelah dan kehilangan fokus.
Vernon menyarankan untuk mencoba single-tasking, yakni mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu. Sediakan waktu hingga sekitar 45 menit untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi tanpa gangguan.
Matikan notifikasi yang tidak diperlukan dan jauhkan sumber distraksi ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan pemikiran mendalam.
2. Rutin bergerak dan perhatikan pola makan
Aktivitas fisik menjadi salah satu cara penting untuk menjaga kesehatan otak. Shamim menyebut sekitar 30 menit olahraga dengan intensitas sedang setiap hari dapat membantu menurunkan risiko kehilangan kemampuan kognitif.
Pola makan juga tidak kalah penting. Pola makan Mediterania yang banyak mengandalkan buah, sayur, biji-bijian utuh, lemak sehat, kacang-kacangan, dan ikan dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung kesehatan otak.
3. Hindari kebiasaan yang meningkatkan risiko
Menjaga kesehatan otak juga berarti mengurangi faktor yang dapat memperburuknya. Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol dapat membantu menurunkan risiko penurunan kognitif.
Kebiasaan tersebut sebaiknya dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika seseorang sudah memasuki usia lanjut.
4. Beri waktu otak untuk beristirahat
Otak juga membutuhkan jeda. Terlalu lama berkonsentrasi pada aktivitas yang menguras pikiran dapat menyebabkan kelelahan dan membuat seseorang lebih mudah terdistraksi.
Karena itu, luangkan beberapa menit untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan. Bahkan, tiga hingga lima menit tanpa teknologi dan tanpa tuntutan untuk memikirkan sesuatu dapat membantu otak beristirahat sebelum kembali beraktivitas.
5. Utamakan konsistensi
Tidak perlu langsung melakukan perubahan besar. Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru dapat lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Shamim menyarankan setiap orang menemukan aktivitas, makanan, dan olahraga yang memang disukai. Dengan begitu, kebiasaan sehat tidak terasa sebagai kewajiban yang sulit dijalankan.
6. Terus tantang otak
Otak membutuhkan stimulasi. Mempelajari bahasa baru, memainkan alat musik, melukis, membaca, atau mencoba permainan strategi seperti catur dapat menjadi cara untuk menjaga otak tetap aktif.
Tantangan juga dapat ditingkatkan secara bertahap. Ketika sebuah aktivitas mulai terasa mudah, tingkatkan kesulitannya agar otak tetap mendapatkan rangsangan baru.
7. Jaga hubungan sosial
Kesehatan otak juga berkaitan erat dengan hubungan sosial. Memiliki hubungan yang bermakna dapat membantu mengurangi kesepian dan isolasi sosial, terutama pada orang lanjut usia.
Stacey Vernon menekankan bahwa kualitas hubungan lebih penting daripada jumlah orang yang dikenal. Salah satu cara sederhana adalah menghubungi orang yang berarti bagi kita. Membangun hubungan dengan orang yang memiliki pandangan berbeda juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat sesuatu dari perspektif lain.
Teknologi pun dapat dimanfaatkan untuk menjaga komunikasi dengan keluarga, teman, maupun komunitas ketika pertemuan langsung tidak memungkinkan.
(tis/tis)


















































