Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang disepakati dengan Iran pada dasarnya bentuk "menyerah tanpa syarat" Teheran.
Trump bahkan mengagung-agungkan keberhasilan MoU AS-Iran ini menunjukkan seberapa luas kewenangan yang dimilikinya sebagai presiden AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami (AS) punya militer paling kuat di dunia, jauh melampaui siapa pun," kata Trump dalam wawancara dengan jurnalis Axios, Marc Caputo, dalam cuplikan yang dirilis pada Kamis (18/6).
Dalam wawancara tersebut, Caputo mengingatkan Trump bahwa pada awal konflik ia pernah mengatakan hanya menginginkan "penyerahan tanpa syarat", sementara isi nota kesepahaman dengan Iran tampaknya tidak mencerminkan hal tersebut dan justru sebaliknya.
"Yah, sebenarnya itu mungkin memang merupakan penyerahan tanpa syarat," jawab Trump.
"Benarkah?" tanya Caputo.
"Saya rasa begitu," balas Trump seperti dikutip CNN.
Dalam wawancara Axios yang akan ditayangkan penuh pada Jumat ini, Trump juga ditanya mengenai pelajaran yang ia peroleh terkait penggunaan kekuasaan serta batas-batas kewenangan presiden setelah perang dengan Iran ini pecah.
"Tidak ada batasan," jawab Trump.
"Tidak, sama sekali tidak ada. Saya belum mempelajari pelajaran itu. Saya tahu secara teori ada batasan, tetapi Anda tahu, tidak ada batasan. Kami mengalahkan mereka sepenuhnya secara militer," tegasnya.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani MoU pada Kamis (18/6). Semula, MoU itu hendak diteken secara resmi dalam pertemuan simbolis di Swiss pada hari ini.
Namun, Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya menandatangani MoU itu lebih dulu secara digital pada Kamis.
MoU ini membuka masa negosiasi selama 60 hari antara AS-Iran untuk mencapai kesepakatan final yang bertujuan mengakhiri perang yang sudah pecah sejak 28 Februari lalu.
CNN melaporkan bahwa ketika sejumlah tokoh penting Partai Republik di Kongres pertama kali mengetahui rincian kesepakatan Trump dengan Iran, sebagian dari mereka begitu terkejut hingga enggan memberikan komentar.
Namun kini, sekelompok senator Partai Republik yang cukup besar mulai secara terbuka meragukan syarat-syarat perundingan Iran yang dijalankan Trump. Banyak di antara mereka mendesak presiden untuk mengubah strategi secara menyeluruh.
Beberapa senator, terutama mereka yang tidak lagi menghadapi pemilihan ulang, bahkan melontarkan kritik keras terhadap kesepakatan tersebut.
Senator Louisiana Bill Cassidy memandang MoU ini menjadikan "Iran menjadi lebih kuat, sementara kita justru menjadi lebih lemah."
(rds)
Add
as a preferred source on Google


















































