Trump Klaim Sudah Direspons Kim Jong Un soal Ajakan Dialog

5 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Presiden Korea Utara Kim Jong Un telah merespons pendekatan terbarunya.

Pernyataan itu disampaikan pada Senin (17/8), sehari setelah AS dan Korea Selatan mengurangi latihan militer bersama. memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

Trump mengatakan komunikasi dengan Kim berjalan "sangat positif". Ia juga memuji hubungannya dengan pemimpin Korea Utara tersebut dan mengklaim hubungan itu membuat situasi "jauh lebih aman".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika ditanya mengapa Kim belum merespons ajakan berbicara sejak Trump kembali menjabat, Trump menjawab, "Bagaimana Anda tahu dia belum menanggapi?"

Saat kembali ditanya apakah Kim benar-benar telah memberikan respons, Trump menegaskan, "Ya, dia sudah menanggapi." Namun, Trump tidak menjelaskan lebih lanjut.

Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama Trump. Namun, keduanya belum kembali bertemu sejak Trump memulai masa jabatan keduanya.

Trump kemudian kembali memuji Kim. "Anda lihat, sebenarnya saya membuatnya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat," ujar Trump.

"Saya memahaminya. Dia memahami saya," tambahnya.

Di sisi lain, Trump mengecam Korea Selatan karena gagal membantu AS melawan Iran. Ia menyebut konflik tersebut bertujuan mencegah Iran memperoleh bom atom.

Trump sebut Korea Selatan "aneh"

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Korea Selatan "aneh" karena dinilai tidak bersedia membantu operasi militer AS-Israel terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Trump setelah sebelumnya menyerang Korea Selatan melalui jejaring sosial Truth pada Minggu malam. Trump kemudian mengumumkan telah memerintahkan Pentagon mengurangi latihan militer bersama Seoul yang disebutnya "tidak pantas dan bermusuhan".

Trump mengaitkan keputusan itu dengan penolakan Korea Selatan untuk membantu perang AS-Israel melawan Iran.

"Tunggu sebentar. Kita punya 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak mau membantu kita dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh," kata Trump di Ruang Oval.

Trump juga mempertanyakan dukungan Korea Selatan dan sejumlah negara anggota NATO yang tidak bersedia berkontribusi dalam perang AS-Israel melawan Iran.

"Kita tidak bisa berkeliling dan melindungi semua negara ini, terutama ketika mereka tidak ada di sana untuk membantu kita," ujar Trump.

Di tengah pernyataan Trump, Korea Selatan memastikan latihan militer bersama AS tetap berlangsung sesuai rencana. Korea Selatan juga menegaskan latihan tersebut tidak bertujuan menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.

Pada Selasa, Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengatakan latihan militer tersebut tidak mencerminkan "niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea," seperti dilaporkan Channel News Asia.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menegaskan bahwa "tujuan mendasar mereka bukanlah untuk memperlakukan entitas tertentu sebagai musuh, tetapi untuk menjaga keamanan dan kedamaian kehidupan sehari-hari masyarakat".

Sementara itu, Korea Utara belum memberikan tanggapan terbuka terkait perkembangan tersebut. Namun, Korea Utara sebelumnya kerap mengecam latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan.

Keputusan Trump mengurangi latihan militer juga mendapat kritik dari anggota Partai Demokrat di Senat AS. Anggota senior Komite Angkatan Bersenjata Senat, Senator Jack Reed, memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat memberikan keuntungan bagi negara-negara pesaing AS.

"Ini adalah keputusan bodoh dan sembarangan lainnya dari Presiden Trump dan pemerintahannya yang kacau," kata Reed.

Reed menambahkan bahwa China dan Rusia "sedang mengamati betapa mudahnya presiden ini meninggalkan sekutu Amerika."

Kecemasan Asia menguat

Kekhawatiran terhadap keamanan Asia kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan menggelar latihan militer Ulchi Freedom Shield. Latihan selama 11 hari itu dirancang untuk mempersiapkan kedua negara menghadapi kemungkinan perang dengan Korea Utara.

Juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan, Kolonel Ryan Donald, mengatakan latihan tersebut akan mensimulasikan pertempuran menghadapi pasukan Korea Utara, seperti dikutip Channel News Asia.

Pasukan Pyongyang dinilai semakin terlatih setelah ditempatkan di Rusia untuk membantu invasi ke Ukraina.

Kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan kepada AFP bahwa Seoul tetap berkoordinasi erat dengan Washington selama latihan berlangsung.

Namun, latihan tersebut mendapat kecaman keras dari Korea Utara. Pyongyang menyebut Ulchi Freedom Shield sebagai gladi resik untuk melakukan invasi.

Korea Utara telah melakukan uji tembak rudal balistik di atas Laut Jepang. Pada Jumat, Pyongyang juga memperingatkan dapat merespons latihan militer tersebut dengan "tingkat pencegahan baru".

Sebelumnya, latihan AS-Korea Selatan juga pernah menjadi sorotan Presiden AS Donald Trump. Saat masa jabatan pertamanya, Trump mengatakan setelah bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Singapura pada Juni 2018 bahwa Washington akan menangguhkan latihan yang disebutnya "provokatif".

AS menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara tersebut. Kehadiran pasukan itu merupakan warisan Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian.

Namun, kritik Trump terhadap aliansi AS-Korea Selatan kembali memunculkan keraguan mengenai komitmen Washington terhadap keamanan Asia Timur.

Kekhawatiran itu semakin besar setelah pengumuman pengurangan skala latihan militer dilakukan. Satu-satunya kapal induk AS yang saat ini beroperasi di Pasifik, USS George Washington, dipindahkan ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln.

(mae/dna)

Read Entire Article
| | | |