Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan yang jauh lebih brutal terhadap Iran jika Teheran menolak mencapai kesepakatan terkait program nuklir, Rabu (28/1).
Trump meminta Iran segera berunding dan memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan lebih keras jika kesepakatan tidak tercapai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semoga Iran segera 'Datang ke Meja Perundingan' dan bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang, TANPA SENJATA NUKLIR, yang menguntungkan semua pihak. Waktu terus berjalan, situasi sangat mendesak!" tulis Trump di media sosial, seperti dikutip Reuters.
"Serangan berikutnya akan jauh lebih parah! Jangan sampai itu terjadi lagi," tambah dia.
Trump mengatakan bahwa kekuatan laut AS yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln kini tengah bergerak mendekati Iran.
Dua pejabat AS mengatakan pada Senin bahwa kapal induk itu serta sejumlah kapal pendukungnya telah tiba di wilayah Timur Tengah.
Kapal-kapal perang tersebut mulai bergerak dari kawasan Asia-Pasifik pekan lalu seiring meningkatnya ketegangan AS-Iran akibat tindakan keras terhadap aksi protes di Iran.
Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi, serta menyatakan AS akan bertindak jika Teheran kembali melanjutkan program nuklirnya.
Di tengah peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah, Trump juga mengingatkan bahwa peringatan terakhirnya berujung pada serangan militer pada Juni lalu.
Ia menyinggung keputusannya menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran pada masa jabatan pertamanya.
Sementara itu, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan di X, bahwa setiap langkah militer yang diambil AS akan membuat Iran menargetkan AS, Israel, serta sejumlah pihak yang mendukungnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga mengatakan bahwa Iran siap bertempur jika diperlukan.
"Angkatan bersenjata Iran siap siaga dengan jari di pelatuk untuk segera dan dengan kekuatan penuh merespons SETIAP agresi," tulis Araqchi di X.
"Namun, pada saat yang sama, Iran selalu terbuka terhadap kesepakatan NUKLIR yang saling menguntungkan, adil, dan setara, tanpa paksaan, ancaman, maupun intimidasi yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir DAMAI dan memastikan TIDAK ADA SENJATA NUKLIR," tambah dia.
Araqchi sebelumnya menyebut bahwa ia tidak menjalin komunikasi dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan tidak mengajukan permintaan perundingan, menurut media pemerintah Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pemerintah Iran berada dalam kondisi sangat lemah dan ekonominya runtuh, serta memperkirakan aksi protes akan kembali muncul.
Pejabat AS juga mengatakan Trump belum memutuskan soal serangan militer dan menilai melemahnya posisi pemerintah Iran memberi keuntungan bagi AS untuk mendorong kesepakatan denuklirisasi dan isu lain.
Uni Eropa kini dilaporkan tengah bersiap memasukkan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teroris, setelah Prancis pada Rabu menyatakan dukungannya terhadap langkah itu.
Para Menlu Uni Eropa akan bertemu di Brussels pada Kamis dan diperkirakan menyetujui sanksi baru atas tindakan keras Iran terhadap aksi protes.
(rnp/bac)

















































