Bandung, CNN Indonesia --
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terus dilakukan. Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menyampaikan bahwa kondisi cuaca menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi jalannya operasi di lapangan.
Menurut Ade Dian, sejak pagi hingga siang hari wilayah operasi diguyur hujan ringan yang merata dengan jarak pandang terbatas. Kondisi tersebut membuat tim SAR gabungan harus melakukan pencarian secara terbatas dan sangat selektif demi menjaga keselamatan personel.
"Situasi ini berdampak langsung terhadap proses pencarian korban, sehingga kegiatan tim SAR gabungan dilakukan secara terbatas, selektif, dan sangat mengutamakan keselamatan personel di lokasi bencana," ujar Ade lewat keterangan tertulis, Kamis (29/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan lapangan serta asesmen potensi bahaya, khususnya terkait stabilitas mahkota longsor, pada pagi hingga menjelang siang hari sektor A2 dan sektor A3 sempat dihentikan karena berada pada jalur rawan longsor susulan.
"Berdasarkan asesmen potensi bahaya, terutama pada stabilitas mahkota longsor, sektor A2 dan A3 sempat kami hentikan sementara karena berada pada jalur rawan longsor," katanya.
Setelah dilakukan evaluasi keselamatan, tim SAR gabungan kembali mengaktifkan sebagian sektor pencarian. Pada pukul 13.00 WIB, sektor A1 dan sektor A2 kembali dibuka untuk proses pencarian dengan pengawasan ketat dari petugas keselamatan di masing-masing sektor.
"Setelah evaluasi keselamatan pada pukul 13.00 WIB, sektor A1 dan A2 kembali kami aktifkan untuk proses pencarian dengan pengawasan ketat dari safety officer," jelasnya.
Di tengah keterbatasan kondisi lapangan, tim SAR gabungan berhasil mencatat perkembangan positif. Pada hari kelima operasi, dua korban kembali ditemukan di sektor A2.
"Pada pukul 11.06 WIB kami menemukan satu body pack di work site A2, kemudian pada pukul 15.46 WIB kembali ditemukan satu body pack di lokasi yang sama. Dengan demikian, total penemuan hari ini adalah dua body pack," ungkap Ade Dian.
Tanah labil
Ia menambahkan, dari lima sektor area pencarian yang telah ditetapkan, seluruhnya sudah dilakukan asesmen awal. Namun, kondisi kabut yang cukup tebal menghambat pemantauan udara menggunakan drone.
"Karena kondisi berkabut, upaya penerbangan drone belum dapat dilakukan secara maksimal. Meski demikian, seluruh sektor tetap kami upayakan untuk dipantau," ujarnya.
Lebih lanjut, Ade Dian mengingatkan bahwa kondisi kontur tanah di wilayah bencana tergolong labil dan rawan memicu longsor susulan, terutama saat curah hujan meningkat.
"Kontur tanah di wilayah bencana ini tergolong lunak dan mudah memicu longsor susulan. Curah hujan ringan hingga lebat dapat menyebabkan genangan air di mahkota longsor dan berpotensi memicu pergerakan tanah kembali," jelasnya.
Selain pencarian di lapangan, pada hari yang sama juga dilakukan integrasi dan validasi data korban antara Posko SAR Gabungan dan Posko DVI. Dari hasil pencocokan data tersebut, ditemukan selisih tiga body pack yang sebelumnya telah tercatat di Posko DVI namun belum terintegrasi dalam laporan Posko SAR Gabungan.
"Terdapat selisih tiga body pack yang sebelumnya sudah tercatat di DVI namun belum masuk dalam laporan Posko SAR Gabungan. Selisih tersebut telah diverifikasi dan kami masukkan secara resmi dalam data operasi hari ini," katanya.
Dengan penyesuaian data tersebut, hingga pukul 16.00 WIB total korban yang berhasil dievakuasi mencapai 53 kantong jenazah atau body pack. Sementara itu, jumlah korban yang masih dalam pencarian masih ada 27 jiwa.
"Hingga pukul 16.00 WIB total korban yang berhasil dievakuasi berjumlah 53 body pack, sementara korban yang masih dalam pencarian sekitar 27 jiwa," tutur Ade Dian.
(csr/dal)

















































