Jakarta, CNN Indonesia --
Ratusan orang mengepung supermarket di sejumlah wilayah di Kota Paris, Prancis, pada Kamis (2/7) demi membeli pendingin udara (air conditioner/AC) harga diskon di tengah gelombang panas Eropa.
Lantaran hanya sedikit AC yang dijual di tempat lain dengan harga kurang dari 1.200 euro (sekitar Rp25 juta), kerumunan besar warga akhirnya menyerbu supermarket Lidl yang menjual AC diskon dengan harga terendah hanya 179 euro (sekitar Rp3,7 juta).
Warga bernama Mousa Traore yang telah menunggu lebih dari satu jam bersama sekitar 200 orang lainnya di salah satu toko Lidl, mengatakan ia diberitahu bahwa hanya ada dua unit AC yang dijual dengan harga diskon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kemudian polisi datang dan kami diberitahu bahwa tidak ada. Petugas polisi yang mengambilnya, saya rasa," kata Traore, sambil tertawa, seperti dikutip AFP.
Warga lainnya bernama Lasana mengaku berhasil mendapatkan salah satu dari dua AC diskon di Lidl, setelah mengantre selama tujuh jam mulai dari jam 4 subuh di utara Paris.
Fatou, seorang nenek berusia 69 tahun, ternyata kurang beruntung. Dia menunggu enam jam dalam antrean, sebelum akhirnya hanya mendapatkan kipas angin meski berada di urutan ketiga antrean.
Banyak orang di luar toko di distrik ke-19 akhirnya marah atas perlakuan yang mereka terima. Fatou dan beberapa orang lainnya menuduh Lidl memberikan "iklan yang menyesatkan" karena mengetahui banyak orang yang butuh AC tersebut.
"Saya tidak akan membuka toko kecuali kalian peegi," teriak seorang manajer Lidl.
Situasi hampir sama juga terjadi di pinggiran kota Livry-Gargan.
"Saya menyerah, ini gila. Saya meninggalkan mobil saya beberapa jalan jauhnya untuk berjalan kaki ke sana, tetapi sudah ada antrean panjang orang di tempat parkir. Ini mustahil," kata seorang warga bernama Lolo.
Layanan cuaca Prancis memperkirakan gelombang panas kembali akan terjadi akhir pekan ini. Prancis sebelumnya memecahkan rekor suhu tinggi pada akhir Juni, yang menyebabkan banyak warga meninggal dunia, rumah sakit kewalahan, dan sekolah-sekolah ditutup.
Sebuah studi menyebut satu dari dua rumah di Prancis "tidak dilengkapi secara memadai" untuk mengatasi suhu tinggi. Kondisi ini akhirnya mengubah rumah menjadi "kawah termal" saat gelombang panas yang semakin terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Perebutan unit pendingin udara terjadi, meski ada keraguan soal pendingin udara di Prancis. Survei menyebut 8 dari 10 orang menganggap AC tidak ramah lingkungan.
Namun sikap itu tampaknya berubah seiring dengan meningkatnya suhu, yang ditandai dengan penjualan pendingin udara terjual habis dengan cepat.
(dna)
Add
as a preferred source on Google


















































