CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 19:30 WIB
Di CNN Indonesia Wellnest Festival 2026, Dokter sampaikan bahaya ngorok saat tidur. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tidur sering dianggap sepele dalam upaya menjaga kesehatan. Padahal, kualitas tidur memegang peran penting, termasuk bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan.
Salah satu gangguan tidur yang kerap diabaikan adalah ngorok atau mendengkur.
Dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika, menegaskan ngorok bukan sekadar suara mengganggu saat tidur, melainkan bisa menjadi tanda masalah serius pada tubuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngorok atau mendengkur memang bisa jadi tanda b ahaya kesehatan, karena ini juga pertnada ada penyempitan di saluran pernapasan" kata Vardian dalam Talkshow di acara CNN Indonesia Wellnest Festival 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat (30/1).
Menurut dia, kualitas tidur yang baik perlu didukung ruangan yang gelap, sejuk, tidak berisik, serta bebas dari distraksi seperti ponsel.
Ia juga menekankan pentingnya olahraga, terutama latihan beban, bagi siapa pun yang ingin menurunkan berat badan. Namun, semua upaya tersebut bisa sia-sia bila tidur terganggu oleh ngorok.
Ngorok dan obesitas, lingkaran setan
Vardian menjelaskan, orang dengan obesitas lebih rentan mengalami ngorok atau mendengkur. Pada kondisi tertentu, ngorok bahkan bisa berkembang menjadi obstructive sleep apnea (OSA), yakni gangguan tidur ketika napas berhenti sesaat saat tidur.
"Ada pasien saya datang mau konsultasi penurunan berat badan. Istrinya menemukan suaminya ngorok dan sempat berhenti napas satu sampai dua detik. Itu sudah termasuk obstructive sleep apnea," ujarnya.
OSA sering kali tidak disadari penderitanya. Padahal, kondisi ini menandakan saluran pernapasan menyempit sehingga suplai oksigen ke tubuh berkurang drastis.
Akibatnya, tubuh terus berada dalam mode siaga sepanjang malam.
"Tubuh seperti terus 'berkelahi' saat tidur. Kortisol naik terus. Dalam kondisi seperti ini, berat badan sangat sulit turun," jelas Vardian.
Lebih mengkhawatirkan lagi, ngorok berat yang disertai sleep apnea dapat meningkatkan risiko stroke. Vardian menyebut, risiko stroke saat tidur pada orang dengan ngorok berat bisa meningkat hingga 90 persen.
"Bisa dibayangkan seberat apa gangguan ngoroknya. Ini bukan hal sepele," ujarnya.
Karena itu, ia menyarankan evaluasi ngorok perlu dilakukan, termasuk analisis apakah kondisi tersebut membutuhkan intervensi medis, seperti alat bantu napas yang digunakan saat tidur.
Bagi mereka yang belum yakin apakah ngoroknya berbahaya, Vardian menyarankan langkah sederhana. Jika memiliki pasangan tidur, kualitas tidur bisa direkam menggunakan ponsel.
"Direkam saja saat tidur, supaya tahu bagaimana kualitas tidurnya. Dari situ bisa terlihat apakah ada dengkuran berat atau henti napas," katanya.
(tis/tis)
















































