Jakarta, CNN Indonesia --
Tim penyelamat masih berupaya keras menemukan ribuan orang yang hilang pada Sabtu (29/8) imbas banjir bandang dan longsoran gletser menerjang wilayah Gunung Himalaya di Nepal dan China.
Per Jumat (28/8) malam, tercatat jumlah orang yang hilang melonjak hingga lebih dari 2.400 jiwa, sementara tim darurat mengatakan telah menemukan 586 korban tewas yang beberapa jasadnya ditemukan terseret arus hingga ke wilayah India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas penanggulangan bencana Nepal menambahkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air ke dalam daftar orang hilang, yang sebelumnya sudah mencakup para pendaki dan peziarah menuju Gunung Kailash yang dianggap suci di Tibet.
Mereka yang berhasil menyelamatkan diri mengatakan telah kehilangan segalanya dan kini harus menghadapi penantian yang menyakitkan untuk mengetahui nasib orang-orang tercinta yang masih hilang.
"Semua permukiman di dekat sungai tersapu. Tidak ada yang tersisa," kata seorang korban selamat, Buddhi Ram Dangol, kepada AFP.
Tim darurat berpacu untuk mengevakuasi para korban selamat dari wilayah terdampak menyusul persediaan makanan dan air mulai menipis.
Upaya pencarian orang hilang juga semakin sulit akibat kekhawatiran akan banjir susulan di wilayah terdampak.
Luapan air yang membawa bongkahan es dan lumpur menyebabkan terbentuknya danau-danau besar, dan salah satu bentukan tersebut kini menjadi ancaman langsung bagi para petugas darurat yang menyisir wilayah itu untuk mencari korban selamat.
Polisi Nepal mendesak seluruh tim penyelamat untuk "segera berpindah ke lokasi yang aman" menyusul laporan bahwa "bendungan air kembali jebol di sisi Tibet" dan banjir susulan bisa terjadi kapan saja.
Di Tibet, otoritas China bahkan menghentikan sementara operasi penyelamatan di wilayah yang paling parah terdampak, Gyirong, karena risiko banjir susulan, sebelum kemudian mengatakan ancaman tersebut telah mereda.
Kantor berita pemerintah Xinhua melaporkan pada Sabtu pagi bahwa dua warga desa telah diselamatkan di wilayah tersebut.
Di sisi perbatasan Nepal, militer menemukan orang-orang yang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A. Mereka tengah berupaya mencari jalan masuk untuk mengevakuasi para penyintas.
"Dua helikopter telah dikerahkan, tetapi situasinya sulit karena bahkan menemukan titik masuk terowongan saja sangatlah sulit," kata juru bicara militer Raja Ram Basnet kepada AFP.
Basnet mengatakan sekitar 350 pekerja dan warga telah dievakuasi ke tempat aman dari lokasi tersebut. Namun, upaya masih berlangsung untuk menyelamatkan lebih dari 100 orang yang terjebak di kawasan yang sama.
Buddha Tamang mengatakan kepada AFP bahwa dirinya selamat hanya karena sedang berada di dalam terowongan di bendungan tempatnya bekerja ketika banjir menerjang.
"Para pejabat senior yang bekerja di sisi lain, mereka semua tersapu," kata Tamang.
Ia dievakuasi menggunakan helikopter pada Kamis setelah terisolasi selama lebih dari 24 jam.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah negara telah menawarkan bantuan. Kanada, misalnya, akan memberikan bantuan kemanusiaan senilai US$3,6 juta (sekitar Rp63,9 miliar) untuk mendukung upaya bantuan darurat di Nepal.
Uni Eropa juga menjanjikan bantuan senilai US$2.3 juta atau sekitar Rp40,8 miliar.
Banjir bandang dan tanah longsor menyapu Nepal pada Rabu (26/8). Laporan awal menyebutkan, bencana ini dipicu gempa bumi yang mengakibatkan longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi wilayah Nepal dan Tibet.
Namun, analisis lebih lanjut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa bumi sebelum insiden tanah longsor dan banjir bandang terjadi.
(rds)


















































