CNN Indonesia
Jumat, 24 Jul 2026 22:00 WIB
Ilustrasi. Kesehatan emosional sering luput dari perhatian saat bicara cara menjaga kesehatan otak. (BlueOlive/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jumlah orang di dunia yang hidup hingga usia 100 tahun semakin tinggi. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan otak saat usia terus menua.
Para ahli neurologi, dalam studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet tahun 2022 lalu, memprediksi kasus demensia akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2050 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahli neurologi di NYU Langone, Amerika Serikat (AS), dokter Jinsy A Andrews mengatakan, orang dengan gaya hidup sedentari dan mengonsumsi banyak makanan olahan memiliki risiko lebih tinggi terkena Alzheimer dan penyakit neurodegeneratif lainnya.
"Di antara kami para ahli neurologi, kami benar-benar mencoba memikirkan cara untuk melindungi otak dan melakukan modifikasi gaya hidup yang dapat menunda atau mencegah demensia," ujar Andrews, mengutip Business Insider.
Kesehatan emosional memegang peran penting
Pola makan dan olahraga boleh sudah jadi komponen penting untuk kesehatan otak dan menyeluruh. Namun, lanjut Andrews, ada faktor yang kurang diperhatikan, yaitu kesehatan emosional.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Ageing Research Review menyebutkan, isolasi sosial dan depresi dapat meningkatkan risiko Alzheimer. Meski tak diketahui pasti keterkaitan antara keduanya, namun kesejahteraan emosional memang diketahui memengaruhi sistem biologis yang relevan dengan kesehatan kognitif dan otak.
Sayangnya, kesejahteraan emosional lebih sulit dilacak dibanding menghitung jumlah langkah harian atau asupan protein dalam makanan.
Dalam praktiknya, Andrews bahkan sering kali menemukan pasien yang bahkan tidak mengetahui apa yang membuat mereka bahagia.
"Sungguh menakjubkan betapa banyak orang yang bahkan tidak memikirkannya [kebahagiaan]," ujar Andrews.
Meski kebahagiaan setiap orang saling berbeda, namun Andrews membagikan setidaknya dua kiat untuk meningkatkan kesehatan emosional dan menjaga otak tetap tajam. Berikut di antaranya.
1. Sosialisasi yang berkualitas
Bersosialisasi telah lama dianggap dapat meningkatkan umur panjang dan kesehatan otak. Namun, interaksi biasa jelas berbeda dengan interaksi sosial yang berkualitas.
Contohnya, interaksi sosial melalui media sosial yang justru dinilai dapat menurunkan kesejahteraan emosional.
"Terutama saat ada interaksi negatif secara online. Hal itu dapat meningkatkan isolasi sosial dan depresi," ujar Andrews.
Kualitasnya jelas berbeda dengan interaksi sosial tatap muka.
2. Mengasah kreativitas
Merangsang otak adalah bagian penting mencegah demensia. Namun, hal ini bukan berarti Anda harus mengisi teka-teki silang setiap hari.
Aktivitas kreatif sederhana seperti mendengarkan musik atau membaca buku bermanfaat baik untuk otak. Semua aktivitas ini, lanjut Andrews, mengaktifkan area otak yang berbeda, membantu neuroplastisitas atau pembentukan tulang otak.
"Berbagai aktivitas [kreatif] yang baik seperti membuat kerajinan tangan dapat meningkatkan sirkuit dan menjaga agar semuanya tetap segar dan baru," jelas Andrews.
Hobi yang menenangkan, seperti kerajinan tangan, juga bisa menurunkan tingkat stres. Stres kronis jangka panjang bisa meningkatkan penanda inflamasi yang dapat merusak sistem saraf dan otak.
"Tindakan merangsang semua bagian otak dengan berbagai cara benar-benar membantu Anda untuk mencegah demensia dan penyakit Alzheimer," pungkas dia.
(asr)
Add
as a preferred source on Google
















































