Cuaca Tak Menentu, Waspada Penyakit Mengintai Salah Satunya DBD

3 hours ago 9

CNN Indonesia

Selasa, 05 Mei 2026 22:40 WIB

Kasus DBD meningkat dan tak lagi musiman. Kenali risiko dan langkah pencegahan komprehensif untuk melindungi keluarga. Ilustrasi. Cuaca tak menentu, DBD makin ganas. (iStockphoto/Noppharat05081977)

Jakarta, CNN Indonesia --

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang kian tinggi, membawa dampak yang tak bisa dianggap sepele bagi kesehatan. Salah satunya adalah meningkatnya risiko penyebaran demam berdarah dengue (DBD), penyakit yang kini tidak lagi mengenal musim dan dapat terjadi sepanjang tahun.

Kondisi ini membuat upaya pencegahan menjadi semakin krusial. Tidak cukup hanya mengandalkan satu cara, pencegahan DBD perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran masyarakat, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bentuk perlindungan yang lebih menyeluruh.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menjelaskan bahwa DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya memang sulit diprediksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat mengalami perburukan yang cepat, seperti perdarahan hebat dan syok. Selain itu, dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran," ujar Hartono dalam keterangannya.

Ia menambahkan, anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekitar 75 persen kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5-44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yakni sekitar 41 persen, terjadi pada anak usia 5-14 tahun. Hal ini dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala.

"Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang menyeluruh. Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi," jelasnya.

Sejalan dengan persetujuan terbaru dari BPOM, imunisasi dengue kini direkomendasikan bagi anak usia 4 hingga 18 tahun sebagai salah satu langkah perlindungan tambahan.

Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, Hartono juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap upaya pencegahan.

"Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD," tutupnya.

DBD sendiri masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan 20 tahun sebelumnya.

Bahkan, siklus puncak kasus kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi tiga tahun atau kurang.

Melihat tren tersebut, kolaborasi lintas sektor menjadi semakin penting. Dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc melakukan kemitraan strategis untuk memperkuat upaya pencegahan DBD melalui peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan.

Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyampaikan bahwa dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa.

"Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting," ujarnya.

Sebagai mitra Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen mendukung target 'Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030' melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.

Senada, CEO & Co-founder Halodoc, Jonathan Sudharta, menekankan pentingnya akses layanan kesehatan yang mudah dan tepercaya di era digital.

"Sebagai ekosistem kesehatan digital dengan lebih dari 20 juta pengguna aktif, Halodoc berkomitmen menghadirkan solusi terintegrasi DBD, mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi," ujarnya.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |