Jakarta, CNN Indonesia --
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Indonesia pada periode Januari-Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, naik 2,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan dari total impor ini, ada tiga negara yang menyumbang kiriman barang terbanyak ke dalam negeri.
"Asal utama impor sepanjang Januari-Desember 2025. Ada tiga besar negara asal impor yakni China, Jepang dan Amerika Serikat," ujar Ateng dalam Konferensi Pers, Senin (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 53,20 persen dari total impor nonmigas sepanjang 2025.
Secara rinci, impor dari China tercatat sebesar US$86,99 miliar (41,60 persen). Komoditasnya adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$19,74 miliar; mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya US$19,05 miliar; serta kendaraan dan bagiannya US$4,93 miliar.
Impor dari Jepang tercatat US$14,42 miliar (6,90 persen). Barang yang dibeli adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$3,11 miliar; kendaraan dan bagiannya US$2,04 miliar; serta besi dan baja US$1,96 miliar.
Selanjutnya, impor tertinggi masuk Indonesia dari Amerika Serikat sebesar US$9,84 miliar (4,70 persen).
Barangnya adalah mesin/peralatan mekanis dan bagiannya US$1,83 miliar; biji dan buah mengandung minyak US$1,03 miliar; serta mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya sebesar US$950 juta.
Sementara, impor nonmigas dari ASEAN tercatat US$32,47 miliar (15,53 persen) dan Uni Eropa US$12,40 miliar (5,93 persen).
Impor Indonesia naik sepanjang 2025 disebabkan oleh bertambahnya impor nonmigas US$10,16 miliar (5,11 persen).
Sebaliknya nilai impor migas justru turun US$3,50 miliar (9,67 persen) yang dipicu oleh berkurangnya impor minyak mentah US$1,04 miliar (10,08 persen) dan hasil minyak US$2,46 miliar (9,51 persen).
Sepanjang Desember 2025 impor Indonesia tercatat sebesar US$23,83 miliar. Angka ini naik 10,81 persen dibandingkan Desmber 2024 yang sebesar US$21,51 miliar.
Impor terdiri dari migas sebesar US$3,35 miliar dan nonmigas sebesar US$20,48 miliar.
Berdasarkan sektornya, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$2,41 miliar atau naik 4,56 persen (yoy). Lalu, bahan baku/penolong sebesar US$16,10 miliar atau naik 5,58 persen (yoy).
Kemudian sektor barang modal tercatat US$5,32 miliar atau naik 34,66 persen dari Desember 2024 yang sebesar US$3,95 miliar.
(skt/sfr)

















































