Disanksi AS, Ada Berapa Maskapai Iran dan Terbang ke Negara Mana Saja?

59 minutes ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) mengumumkan langkah baru yang dapat membuat seluruh maskapai Iran terhenti dari operasi internasional mulai 23 September 2026.

Kebijakan tersebut disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (21/9), ketika Washington memperluas tekanan ekonominya terhadap Iran.

"Pada 23 September, seluruh maskapai Iran akan dihentikan operasinya di seluruh dunia," kata Bessent, seperti dikutip Al Jazeera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bessent juga memperingatkan perusahaan yang menyediakan layanan bagi maskapai Iran bahwa mereka dapat terkena sanksi AS. Kebijakan tersebut tidak berarti AS secara langsung menutup wilayah udara negara lain bagi pesawat Iran.

Washington memberikan tekanan kepada perusahaan dan penyedia layanan yang dibutuhkan maskapai Iran untuk beroperasi di luar negeri.

Perusahaan yang tetap melayani maskapai Iran dapat berisiko kehilangan akses ke sistem dolar AS. Bessent secara khusus menyebut layanan seperti pengisian bahan bakar, layanan pendaratan dan penjualan tiket.

Dengan menargetkan rantai operasional tersebut, AS berupaya membuat maskapai Iran kesulitan menjalankan penerbangan internasional meskipun AS tidak memiliki kewenangan untuk menutup wilayah udara negara lain bagi pesawat Iran.

Dalam kebijakannya, AS menjatuhkan sanksi terhadap 27 maskapai Iran. Washington menuduh maskapai-maskapai tersebut digunakan pemerintah Iran untuk memindahkan senjata, personel dan kargo ilegal.

Sanksi ini menjadi bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Tehran dan mengisolasi Iran dari sistem keuangan internasional.

Sebelumnya, sektor penerbangan Iran juga telah menghadapi sanksi selama bertahun-tahun yang membuat maskapai kesulitan mendapatkan pesawat baru, suku cadang dan layanan perawatan.

Namun, tidak seluruh 27 maskapai tersebut memiliki jaringan penerbangan internasional yang luas. Al Jazeera menyoroti tiga maskapai Iran yang masih beroperasi di luar negeri, yakni Mahan Air, Iran Air dan Qeshm Air.

Mahan Air disebut memiliki jaringan penerbangan internasional paling luas di antara maskapai Iran lain. Maskapai ini melayani sejumlah destinasi di China, India, Irak, Pakistan, Thailand, dan Uni Emirat Arab.

Mahan Air sebelumnya juga memiliki penerbangan ke Turki dan Oman, tetapi rute ke Istanbul, Ankara dan Muscat telah dihentikan setelah AS memberikan sanksi kepada sejumlah perusahaan asing yang dianggap mendukung sektor penerbangan Iran.

Sementara itu, Iran Air merupakan maskapai nasional Iran yang sebelumnya memiliki jaringan penerbangan yang lebih luas ke Eropa, tetapi jaringan tersebut menyusut akibat sanksi, keterbatasan armada dan gangguan penerbangan.

Menurut data rute yang dikutip Al Jazeera, Iran Air saat ini memiliki tiga tujuan internasional, yaitu Najaf dan Baghdad di Irak serta Istanbul di Turki.

Selain Mahan Air dan Iran Air, Qeshm Air juga melayani penerbangan internasional. Maskapai tersebut memiliki tujuan di Turki, Irak, Uni Emirat Arab dan Jerman.

Ketiga maskapai tersebut yang paling berpotensi terdampak langsung dalam hal penerbangan internasional karena masih memiliki jaringan di luar Iran.

Al Jazeera juga menyebut sejumlah bandara yang dapat terkena dampak, antara lain Istanbul, Najaf, Baghdad, Dubai, New Delhi, Lahore, Beijing, Shanghai, Guangzhou, Shenzhen, dan Phuket.

Hingga saat ini, belum diketahui sampai kapan penutupan atau penghentian operasi tersebut akan berlangsung. Pernyataan Bessent menetapkan 23 September 2026 sebagai waktu dimulainya kebijakan, tetapi tidak menyebut tanggal berakhirnya.

Dampaknya juga tidak hanya dirasakan oleh maskapai Iran. Perusahaan penyedia bahan bakar, layanan darat, bandara dan penjualan tiket yang tetap melayani maskapai Iran dapat menghadapi risiko sanksi AS.

Kondisi tersebut berpotensi semakin membatasi pilihan penerbangan internasional dari dan menuju Iran.

(dsd/wiw)

Read Entire Article
| | | |