Jakarta, CNN Indonesia --
Raja Yordania, Abdullah II, memperingatkan dunia mengenai ancaman Israel. Abdullah meyakini Israel bukan hanya ingin mengambil alih tanah Palestina.
"Tidak ada seorang pun di Majelis ini yang boleh berasumsi bahwa ambisi mereka [Israel] berhenti di Palestina," ujar Raja Abdullah dikutip dari Middle East Eye, Rabu (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdullah mengatakan keinginan Israel untuk melakukan 'ekspansi wilayah' merupakan ancaman bagi negara-negara Timur Tengah. Hal itu terlihat dari ambisi Israel ingin mencaplok wilayah Suriah.
"Hasrat ekspansionis pemerintah Israel ini kini menjadi ancaman regional. Selangkah demi selangkah dengan penuh perhitungan, Israel sedang menguji sejauh mana mereka bisa melangkah. Dan hari ini, Suriah adalah peringatan yang justru diabaikan oleh masyarakat internasional," ucap Raja Abdullah.
Raja Abdullah memperingatkan kehadiran dan aktivitas militer Israel di Suriah bagian selatan berisiko mengancam Yordania secara langsung. Raja Abdullah juga menyatakan Yordania akan melakukan segala acara untuk melindungi perbatasan dan keamanan udara mereka.
"Bagi Yordania, tidak ada keraguan sedikit pun. Setiap ancaman terhadap perbatasan utara atau keamanan air kami merupakan ancaman bagi keamanan nasional kami. Yordania tidak akan tinggal diam," kata Raja Abdullah.
Lebih lanjut, Abdullah juga menyebut Israel berusaha memperpanjang penindasan di Gaza dan menghambat upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhirinya.
"Presiden Trump telah berupaya keras mendorong perdamaian dan jalan untuk mengakhiri perang ini. Namun, pemerintah Israel ini terus mengubah ketentuan kesepakatan, melanjutkan serangan serta penghancuran infrastruktur sipil, menolak untuk mundur, dan memojokkan warga Palestina hingga hanya menempati sepertiga wilayah Gaza," ujar RajaAbdullah.
Abdullah kemudian mengatakan genosida di Gaza terjadi akibat dari sikap masyarakat internasional yang memilih untuk "mengelola" konflik Israel-Palestina, alih-alih menyelesaikannya. Abdullah menyebut tindakan berulang Israel, yang dulunya dianggap "sementara", lambat laun telah "menjadi kebijakan."
(har/bac)


















































