Takut Demo dan Ditangkap, Netanyahu Langsung Pulang usai ke Sidang PBB

1 hour ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mempersingkat kunjungannya untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, menyusul demonstrasi, pengamanan ketat, dan ketegangan dengan Wali Kota Zohran Mamdani.

Netanyahu dijadwalkan tiba di AS pada Kamis (24/9) pagi. Ia kemudian akan berpidato di Majelis Umum PBB sekitar pukul 14.00 waktu setempat sebelum kembali ke Israel pada malam hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan jadwal tersebut, Netanyahu diperkirakan tidak akan menginap di AS. Kunjungannya yang semula direncanakan berlangsung lebih lama kini hanya berlangsung selama beberapa jam.

Netanyahu juga membatalkan rencana kunjungan ke Texas untuk bertemu dengan miliarder Elon Musk. Ia juga tidak akan membawa wartawan Israel dalam pesawat kepresidenannya, Wing of Zion.

Media Israel menyebut rencana demonstrasi dan pertimbangan keamanan sebagai sejumlah faktor di balik perubahan kunjungannya yang dipersingkat.

Sementara itu, media Israel, Ynet, melaporkan pesawat Netanyahu kemungkinan tidak akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) di New York. Pesawat tersebut disebut akan menggunakan bandara di New Jersey atau lokasi alternatif di sekitar wilayah tersebut.

Ynet mengaitkan keputusan tersebut dengan ketegangan antara Netanyahu dan Mamdani. Namun, laporan lain menyebut pilihan lokasi pendaratan juga berkaitan dengan pertimbangan logistik dan keamanan pesawat.

Mamdani sebelumnya berulang kali menyerukan agar Netanyahu ditangkap berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November 2024.

ICC menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada November 2024.

Pengadilan tersebut menyatakan terdapat alasan yang masuk akal untuk menduga keduanya bertanggung jawab atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam konteks perang di Gaza.

Israel menolak tuduhan tersebut dan menentang yurisdiksi ICC. Sementara, AS juga bukan anggota ICC.

Pada Juli, Mamdani mengakui bahwa Pemerintah Kota New York tidak memiliki kewenangan hukum secara independen untuk menegakkan surat perintah ICC tersebut.

Ia kemudian menyerukan agar pemerintah federal AS bekerja sama dengan ICC untuk menegakkan surat perintah itu.

"Jelas bahwa kita tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk menegakkan surat perintah ini," kata Mamdani.

Meski demikian, Mamdani tetap menyatakan penolakannya terhadap kunjungan Netanyahu. Ia terus menyebutnya sebagai penjahat perang atas tindakan di Gaza.

Pada bulan yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Netanyahu tidak akan ditangkap di AS.

Pengamanan diperketat

Kunjungan singkat Netanyahu diperkirakan akan mendapat pengamanan luar biasa ketat.

Dinas Rahasia AS dilaporkan akan memainkan peran lebih besar dalam persiapan kunjungan tersebut.

Pengamanan tersebut dilakukan di tengah rencana demonstrasi besar di New York selama kunjungan tersebut.

Mamdani mengatakan dirinya tidak berencana ikut dalam demonstrasi menentang Netanyahu. Ia juga menyatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Kepolisian New York terkait pengamanan selama Sidang Umum PBB.

Netanyahu juga diperkirakan tidak bertemu Trump selama kunjungannya. Pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga belum dikonfirmasi.

Pidato Netanyahu di PBB berlangsung sekitar sebulan sebelum pemilihan umum Israel. Pidato tersebut diperkirakan akan banyak membahas Iran dan sekaligus ditujukan kepada masyarakat Israel.

Menurut laporan Haaretz, Netanyahu bersiap menghadapi sambutan yang tidak ramah, baik di jalanan New York maupun di dalam Majelis Umum PBB.

Pejabat Israel memperkirakan sejumlah duta besar dan delegasi negara lain dapat meninggalkan ruangan atau melakukan aksi protes ketika Netanyahu menyampaikan pidato.

Aksi boikot juga terjadi ketika Netanyahu berpidato di Majelis Umum PBB tahun lalu.

Para pejabat Israel berharap aksi protes di dalam Majelis Umum tahun ini tidak sebesar tahun lalu. Mereka menilai perhatian internasional terhadap perang Israel-Iran dan invasi Rusia ke Ukraina dapat mempengaruhi tingkat aksi protes dalam sidang tersebut.

Tahun lalu, sejumlah delegasi melakukan aksi boikot ketika Netanyahu menyampaikan pidatonya.

Kunjungan Netanyahu berlangsung ketika konflik Timur Tengah menjadi salah satu isu utama dalam Sidang Umum PBB. Perang di Jalur Gaza serta perkembangan konflik antara Israel dan Iran menjadi perhatian dalam pertemuan para pemimpin dunia di New York.

Israel masih menguasai sebagian besar wilayah Jalur Gaza dan melakukan serangan udara, penembakan, serta serangan mematikan meskipun gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 masih berlaku.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 73.900 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 175.000 lainnya terluka. Sekitar 1.400 orang dilaporkan tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku.

Sebagian besar dari sekitar 2,1 juta penduduk Gaza juga masih mengungsi. Sementara itu, pembatasan yang diberlakukan Israel terus menghambat masuknya bantuan kemanusiaan dan proses rekonstruksi yang dibutuhkan di wilayah tersebut.

(mge/rds)

Read Entire Article
| | | |