Jakarta, CNN Indonesia --
Polda Banten merilis temuan jasad salah satu anak buah kapal (ABK) dari Speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis peliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan jasad itu sebelumnya ditemukan tanpa identitas di wilayah Pulau Enggano, tepatnya perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Jasad yang semula disebut sebagai Mr X itu ditemukan pada hari kelima pencarian (SAR), Sabtu (12/9).
Setelah proses pemeriksaan di RS Bhayangkara Polda Bengkulu, jasad Mr X itu diketahui beridentitas Surakman (60), ABK di kapal Arupadhatu 1.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil identifikasi berdasarkan pemeriksaan DVI, secara genetik, jenazah teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK Kapal," kata Hengki dalam konferensi pers di Mapolda Banten, Serang, Rabu (23/9).
Dari penelusuran di situs Google Earth, apabila ditarik garis lurus dari jarak titik terakhir kapal Arupadhatu 1 hilang kontak di sekitar Pulau Sebesi hingga ke titik perairan Sawang Bengkok di Pulau Enggano adalah sekitar 340 kilometer atau sekitar 188 Nm.
Mengutip dari detikcom, berdasarkan informasi dari Komdigi, kapal rombongan jurnalis ini diketahui terakhir terdeteksi di Pulau Sebesi. Pulau ini berada di Selat Sunda, yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.
Sementara itu, Pulau Enggano ini sudah berada di Samudera Hindia, di arah barat daya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pulau Enggano termasuk salah satu pulau terluar Indonesia di sisi barat.
Selain itu, pada saat operas SAR, salah satu istri dari lima jurnalis berharap tim SAR juga melakukan pencarian ke Pulau Sertung. Pasalnya, dia sempat mendapat informasi suami dan kawan-kawannya akan menuju Pulau Sertung.
Adapun bila dilihat dari situs Google Earth, apabila ditarik garis lurus dari titik Pulau Sertung ke Pantai Sawang Bengkok di Pulau Enggano, jaraknya adalah sekitar 342 km atau sekitar 184 Nm.
Pulau Sertung terletak di sebelah barat Pulau Anak Krakatau. Pulau ini termasuk ke dalam perairan Selat Sunda.
"Saya dapat informasi dari yang mengarahkan dia, untuk yang mengasih informasi bahwa adanya kapal yang bisa menyeberang, itu kan dia nanya 'bisa enggak berhenti di Sertung, turun di Sertung bisa enggak'. Saya dari informasi itu sih yang feeling saya yang harus dicari itu ya keSertung itu," ujar istri dari pewarta foto ANTARA M Bagus Khoirunnas, Desi, Pandeglang, Banten, Rabu (9/9) malam.
Hal ini ia sampaikan di hadapan Gubernur Banten Andra Soni, Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad, sejumlah petugas lainnya, dan wartawan.
Sebelumnya operasi SAR besar-besaran terhadap 5 jurnalis dan 3 awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Lima jurnalis itu menaiki kapal Arupadhatu untuk meliput Gunung Anak Krakatau (GAK) yang erupsi.
Kapal itu hilang kontak di Selat Sunda setelah berangkat dari dermaga di Carita, Pandeglang, Senin (7/9). Selama 10 hari masa pencarian, tidak ada temuan yang mengarah terhadap penumpang kapal Arupadhatu 1.
Proses pencarian selama 10 hari ini melibatkan Basarnas Banten, Lampung hingga Bengkulu. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kapal cepat Arupadhatu 1 maupun delapan penumpangnya.
Setelah operasi SAR ditutup, keluarga jurnalis dan awak kapal Speed Boat Arupadhatu 1 yang hilang kontak melaksanakan tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Jumat (18/9).
Awak kapal dalam speedboat itu adalah Warta (55) selaku kapten kapal; Surakman (60) selaku anak buah kapal (ABK); dan Heriyanto (49) selaku guide atau pemandu.
Sementara lima jurnalis dalam kapal itu adalah M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, dan Donal. Mereka merupakan jurnalis untuk sejumlah media, dan ada pula yang jurnalis lepas.
(kid/kid)


















































