Dokter Ungkap Komplikasi GERD yang Bisa Menyerang Banyak Organ

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Selasa, 27 Jan 2026 12:00 WIB

GERD bukan sekadar asam lambung. Jika tak ditangani, penyakit ini bisa memicu komplikasi serius pada kerongkongan hingga organ lain. Ilustrasi. Komoplikasi yang disebabkan GERD bisa menyerang banyak organ di tubuh. (iStockphoto/designer491)

Jakarta, CNN Indonesia --

Penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) bukan sekadar gangguan asam lambung biasa. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi akut yang berdampak serius pada tubuh jika tidak ditangani dengan baik.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, Ari Fahrial Syam, mengatakan peningkatan asam lambung pada penderita GERD berisiko memicu kerusakan organ.

"Penyakit GERD ini berbeda dengan sakit maag biasa, karena memang komplikasi serius dapat terjadi pada pasien-pasien dengan GERD akibat meningkatnya asam lambung," ujar Ari saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (26/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ari, komplikasi GERD yang paling awal dan paling sering terjadi adalah kerusakan pada kerongkongan. Paparan asam lambung yang berulang dapat melukai dinding kerongkongan dan menimbulkan peradangan dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

"Secara langsung tentu yang terdampak adalah kerongkongan. Bisa terjadi perlukaan dan peradangan," ujarnya.

Jika kondisi ini berlangsung lama dan tidak ditangani secara optimal, peradangan kronis pada kerongkongan dapat berkembang menjadi lesi prakanker. Dalam jangka panjang, hal tersebut meningkatkan risiko kanker esofagus.

Ari menambahkan, kanker akibat GERD umumnya baru terdeteksi pada usia 50-60 tahun sebagai dampak kumulatif dari refluks asam lambung yang berlangsung bertahun-tahun.

Tak hanya berdampak pada saluran cerna, komplikasi GERD akut juga dapat menyerang organ lain.

"GERD juga bisa menyebabkan gangguan pada organ-organ lain. Misalnya di telinga terasa berdenging, di hidung sering terasa ingin membersihkan hidung, di sinus, kemudian di pita suara yang menimbulkan suara serak, hingga ke paru-paru," katanya.

Kondisi tersebut membuat sebagian penderita GERD mengeluhkan sensasi tercekik dan rasa sulit bernapas. Keluhan ini kerap menimbulkan kekhawatiran berlebih karena menyerupai gejala gangguan jantung atau paru.

Pada kondisi yang lebih berat, GERD juga dapat memicu perdarahan saluran cerna. Ari menyebut tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain muntah hebat, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Selain komplikasi fisik, GERD akut juga berkaitan erat dengan gangguan psikologis, terutama kecemasan. Hubungan antara GERD dan kecemasan bersifat dua arah dan dapat saling memperburuk.

"Pasien dengan GERD itu sering mengalami kecemasan yang luar biasa. Terus terang saja, stres akan meningkatkan produksi asam lambung," kata Ari.

Meski berdampak luas dan mengganggu kualitas hidup, GERD tidak secara langsung meningkatkan risiko kematian. Namun, dampak jangka panjangnya bisa menjadi serius bila tidak ditangani dengan tepat.

Ari menegaskan bahwa GERD merupakan penyakit yang dapat diobati dan dikontrol. Pasien dianjurkan menjalani pengobatan secara teratur dan melakukan pemeriksaan lanjutan bila keluhan tidak membaik.

"Perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi, bahkan bila perlu pemeriksaan pH metri untuk memastikan apakah terjadi peningkatan asam lambung yang berlebihan," ujarnya.

Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga menjadi bagian penting dalam pengendalian GERD, mulai dari mengontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, hingga menghindari konsumsi alkohol.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |