Inspirasi Asia dalam 'Tafsir' Couture Miss Sohee dan Tamara Ralph

2 hours ago 1

LAPORAN DARI PARIS

Fandi Stuerz | CNN Indonesia

Rabu, 04 Feb 2026 19:30 WIB

Lewat karya masing-masing, Miss Sohee dan Tamara Ralph mengusung Asia sebagai sumber inspirasi couture namun dengan bahasa visual yang sepenuhnya berbeda. Lewat karya masing-masing, Miss Sohee dan Tamara Ralph mengusung Asia sebagai sumber inspirasi couture namun dengan bahasa visual yang sepenuhnya berbeda. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Paris, CNN Indonesia --

Pada musim Spring/Summer 2026, Paris kembali menjadi panggung bagi dua desainer couture, Miss Sohee dan Tamara Ralph.

Lewat karya masing-masing, keduanya menghadirkan pendekatan yang sama-sama matang dalam membaca Asia sebagai sumber inspirasi couture, tetapi dengan bahasa visual yang sepenuhnya berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Miss Sohee dan Tamara Ralph menampilkan dua koleksi yang menjelaskan "Asia" bukanlah satu citra tunggal, melainkan spektrum luas yang dapat ditafsirkan melalui memori personal, warisan budaya, hingga abstraksi estetika global.

Keduanya sama-sama 'berbicara' tentang disiplin, kerajinan, dan tubuh perempuan, namun dari sudut pandang yang berangkat dari latar belakang dan sejarah mode yang berbeda.

Bagi Miss Sohee, musim ini menandai kelanjutan posisinya sebagai anggota tamu Fédération de la Haute Couture et de la Mode, sekaligus desainer Korea Selatan pertama yang mencapai status tersebut. Koleksi Spring/Summer 2026 kali ini menjadi ekspresi artistik yang semakin matang.

"Saya ingin mengeksplorasi emosi melalui bentuk, bagaimana tubuh dapat menjadi wadah bagi memori, lanskap, dan simbolisme", tulisnya dalam shownote yang diterima CNNIndonesia.com.

Tubuh perempuan diperlakukan sebagai patung, sebagai bingkai, bahkan sebagai kanvas, sebuah pendekatan yang mengingatkan pada dialog antara seni rupa dan mode yang pernah dilakukan oleh legenda couture Madame Grès.

Silk taffeta yang didraperi dengan presisi bergerak mengikuti langkah, seolah memiliki kehidupan sendiri. 

Sebanyak 37.000 kristal Swarovski disulam pada 16 look di koleksi ini. Beberapa busana menuntut hingga 2.500 jam pengerjaan, sebuah angka yang fantastis bahkan di tradisi yang ekstrem di dunia couture.

Lapisan organza sutra yang dilukis tangan menghadirkan reinterpretasi sansuhwa, lukisan lanskap tradisional Korea, merujuk langsung pada karya Kim Hong-do. Teknik tinta tradisional menciptakan kedalaman seperti perbukitan yang memudar dalam kabut, dicapai melalui layer sheer yang berlapis-lapis.

Sheerness ini juga ditampilkan melalui organza Jepang yang nyaris tak berbobot yang membentuk kaftan yang tampak cair. Ada gema minimalisme tahun 1960-an dalam siluet yang bersih. Namun yang menarik justru muncul dari proporsi dan kehalusan detail pengerjaan setiap look-nya.

Finale yang berupa gaun pengantin putih menutup koleksi ini secara simbolik. Kristal Swarovski pada veil membentuk pola ombak laut Korea. Yang menurutnya, menggambarkan perempuan Asia yang tidak pasif, melainkan berdaulat atas tubuh dan narasinya sendiri.

Inspirasi Asia dalam Dua Bahasa Couture Karya Miss Sohee dan Tamara RalphMiss Sohee SS26 Couture (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Berbeda dengan pendekatan Miss Sohee yang intim dan autobiografis, Tamara Ralph memandang Asia melalui lensa estetika global dan simbolis.

Dalam koleksi bertajuk La Lumière Dorée, desainer asal Australia ini, yang sebelumnya mencatat sejarah sebagai bagian dari Ralph & Russo, label Inggris pertama di kalender couture sejak satu abad, menunjukkan evolusi yang stabil sejak meluncurkan merek eponimnya tiga tahun lalu.

Siluetnya berangkat dari geometri origami, yakni lipatan yang terstruktur, kipas arsitektural, dan keseimbangan antara ketegasan potongan dan fluiditas bahan yang ia pakai.

Seperti tajuknya, cahaya menjadi elemen utama. Efek pearlescent yang ditampilkan oleh mutiara, metalwork terinspirasi bulu merak, serta sulaman emas memantulkan kilau seperti sinar bulan.

Material seperti kulit buaya, satin berwarna mint, dan mother of pearl merah menegaskan kontrol teknis dan kematangan rumah mode ini, yang semakin konsisten dari musim ke musim.

Jika Miss Sohee berbicara tentang Asia sebagai memori dan identitas, Tamara Ralph menafsirkannya sebagai bahasa universal tentang disiplin dan keanggunan.

Karya Miss Sohee lebih mengakar ke warisan budaya dengan kedalaman emosional, sementara Tamara Ralph mengolah simbol dan struktur menjadi couture yang kosmopolitan.

Keduanya juga membuktikan bahwa Asia, dalam segala kompleksitas dan kemajemukannya, terus menjadi sumber inspirasi yang mendorong couture semakin berwarna. Bukan hanya sebagai tren, tetapi juga sebagai wacana estetika yang hidup dan terus berkembang.

(fef)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |