Intip Daftar Saham Berpeluang Cuan di Pekan Awal September

5 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 3,62 poin atau minus 0,06 persen di level 6.518 pada Jumat (28/8) silam.

Investor melakukan transaksi sebesar Rp15,15 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 35,30 miliar saham.

Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah selama tiga hari. Sementara di satu hari sisanya menguat. Hanya saja, performa indeks tercatat menguat 0,25 persen sepanjang pekan kemarin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan selama periode tanggal 24 sampai dengan 28 Agustus 2026 perdagangan saham ditutup negatif.

Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dari Rp11.449 triliun menjadi Rp11.431 triliun pada pekan lalu. Senada, rata-rata volume transaksi harian turut mengalami penurunan sebesar 28,33 persen dari 50,30 miliar menjadi 36,05 miliar lembar saham.

Kemudian, rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami pelemahan 1,84 persen dari Rp15,57 triliun menjadi Rp15,29 triliun.

Lalu, rata-rata frekuensi transaksi harian turut menurun 2,64 persen dari 2,21 juta kali transaksi menjadi 2,15 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.

"Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp482,24 miliar dan sepanjang tahun 2026 investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp70,360 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (28/8).

Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks saham bergerak mixed cenderung melemah pada awal pekan ini. Ia memperkirakan indeks akan bergerak dalam rentang support 6.430 dan resistance 6.606.

Oktavianus mengatakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh nada hawkish bank sentral AS The Fed yang masih kuat.

Menurutnya, pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh terkait inflasi inti AS yang belum melambat mengindikasikan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer masih berlanjut.

"Nada hawkish Fed masih nyata, seiring dengan pernyataan Warsh terkait inflasi inti belum melambat dan mengkonfirmasi higher for longer masih berlanjut. Hal ini akan berdampak negatif seiring penurunan suku bunga yang belum akan terjadi dan kekhawatiran penurunan demand kredit dan ekspansi," kata Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (30/8).

Di sisi lain, pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh 2,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Selain itu, PMI manufaktur diperkirakan masih berada di zona ekspansif dengan level 50,5.

Oktavianus menilai kedua data tersebut cenderung direspons moderat oleh pasar karena belum menunjukkan adanya perubahan yang material terhadap kondisi ekonomi.

Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Indika Energy Tbk atau INDY yang ditutup menguat 2,17 persen ke posisi 2.830 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi INDY dapat menyentuh level 2.960 pada pekan ini.

Kedua, saham PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk atau VKTR yang ditutup menguat 6,63 persen ke posisi 965 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi VKTR dapat menyentuh level 1.140 pada pekan ini.

Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpeluang menguat terbatas pada perdagangan sepekan ke depan. Dia memperkirakan IHSG bergerak dengan level support 6.230 dan resistance 6.628.

Dari sisi sentimen, investor masih akan mencermati rebalancing indeks MSCI yang masa efektifnya berlaku mulai 1 September 2026. Rebalancing tersebut dikhawatirkan memicu potensi arus dana keluar (outflow) yang besar dari pasar saham Indonesia.

"Rebalancing MSCI diperkirakan masih menjadi perhatian investor yang disebabkan masa efektif per 1 September 26, di mana dikhawatirkan akan adanya potensi outflow yang besar. Selain itu, pasar juga akan mencermati rilis data makro Indonesia seperti PMI Manufaktur yang diperkirakan melandai serta inflasi," kata Herditya.

Selain sentimen tersebut, investor akan mencermati rilis data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) sebelum pelaksanaan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September 2026.

Data ketenagakerjaan AS tersebut berpotensi menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam melihat arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pergerakan harga emas dan minyak dunia juga akan menjadi perhatian. Kedua komoditas tersebut diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi seiring dengan menurunnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya pun merekomendasikan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk atau AMRT yang ditutup di level 1.340 pada pekan lalu. Ia memproyeksi AMRT dapat menyentuh level 1.520 pada pekan ini.

Kemudian, Herditya pun merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF yang ditutup di level 7.300 pada pekan lalu. Ia memproyeksi INDF dapat menyentuh level 7.650 pada pekan ini.

Lalu, Herditya juga merekomendasikan saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk atau LSIP yang ditutup menguat 0,34 persen ke level 1.465 pada pekan lalu. Ia memproyeksikan LSIP dapat menyentuh level 1.590 pada pekan ini.

Catatan Redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

[Gambas:Video CNN]

(pta)

Read Entire Article
| | | |