CNN Indonesia
Rabu, 02 Apr 2025 18:30 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --
Kebijakan kenaikan tarif yang diputuskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi menghantam sektor industri otomotif di Jepang.
Pekan lalu, Trump mengumumkan akan membebankan bea masuk sebesar 25 persen atas impor kendaraan dan suku cadang terhitung sejak 3 April 2025.
Mengutip AFP, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menyebut langkah Trump ini sebagai sesuatu yang "sulit dipahami". Jepang sendiri merupakan salah satu negara yang punya investasi paling besar di negara Paman Sam tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu produsen suku cadang mobil, Asahi Tekko menyampaikan bisnisnya sudah cukup sulit belakangan, dan akan bertambah sukar dengan kebijakan tarif oleh Trump ini. Sebanyak 425 pekerja di perusahaan itu kini khawatir tentang masa depan mereka.
"Tidak ada gunanya mengetahui hal ini (kenaikan tarif) hanya dua atau tiga bulan sebelumnya," kata presiden perusahaan Tetsuya Kimura.
Secara total ada 5,6 juta orang yang bekerja di sektor otomotif di Jepang.
Untuk menutup tarif impor yang tinggi, raksasa otomotif seperti Toyota, Honda, dan Nissan diprediksi akan menaikkan harga jual mereka bagi konsumen AS.
Hal itu berpotensi menurunkan permintaan atas kendaraan dan suku cadang mereka.
"Akan menjadi pukulan keras bagi produksi otomotif, merusak kepercayaan, dan mengurangi pesanan," kata Moody's Analytics dalam sebuah laporan tentang sentimen bisnis Jepang.
Terpisah, ekonom Naxitis Kohei menyampaikan beberapa perusahaan besar sebenarnya dapat memindahkan produksi mereka ke luar negeri. Namun, itu akan berdampak pada perusahaan suku cadang mobil yang lebih kecil.
Dalam satu dekade terakhir, industri otomotif Jepang merupakan salah satu yang tersukses di dunia, tapi saat ini menghadapi tantangan berat seperti kewajiban pengurangan emisi, populasi Jepang yang menua, hingga kemunculan kendaraan listrik.
Pada 2024, sektor otomotif menyumbang sekitar 28 persen dari 21,3 triliun yen atau sekitar US$142 miliar nilai ekspor negara ke AS.
Lalu, sekitar delapan persen dari seluruh pekerjaan di Jepang juga berkaitan dengan sektor ini.
(mnf/afp/vws)