Jakarta, CNN Indonesia --
Kapasitas data center Indonesia diproyeksikan akan tembus ke angka 2,7 gigawatt pada 2030. Penetrasi internet, transformasi digital UMKM, hingga regulasi yang mendukung industri dinilai sebagai faktor-faktor yang menjadi pendorong.
"Apa sih key driver dari kenapa industri ini jadi tumbuh sangat cepat? Pertama, saat ini sudah ada 78 persen penduduk yang sudah memiliki akses internet, jadi ada lebih dari 210 juta penduduk yang men-generate data, mentransfer data, memproses data, atau menyimpan data. Tulang punggung dari seluruh data ini adalah data center," kata Hendra Suryakusuma, Ketua Umum Asosiasi Penyedia Data Center Indonesia (IDPRO) dalam acara Indonesia Digital Fest 2026, Jakarta, Kamis (29/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, banyak sekali UMKM, yang totalnya berjumlah 73 juta, sudah melakukan transformasi digital. Ia mencontohkan sejumlah UMKM yang telah mengintegrasikan sistem POS dengan payment gateway yang tentu saja terhubung dengan server data center.
Ketiga adalah dari sisi regulasi, Hendra menyinggung Peraturan Pemerintah 82 tahun 2012 yang pada pasal 17 ayat 2 mewajibkan perusahaan layanan publik punya data center dan disaster recovery center di Indonesia.
Pada 2013, banyak pelaku industri keuangan melakukan migrasi infrastruktur IT-nya ke Indonesia imbas dari aturan tersebut imbas aturan tersebut.
Selain karena aturan tersebut, ada juga aturan lain dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengharuskan sistem penyedia layanan keuangan berada di Indonesia untuk memudahkan aparat penegak hukum melakukan penelusuran jika terjadi insiden.
Namun, PP tersebut kemudian direvisi menjadi PP 71 tahun 2019 yang memuat relaksasi penempatan data. Dalam aturan tersebut, pemerintah mengklasifikasikan data publik dan privat.
Data publik wajib di Indonesia, tetapi data privat diperbolehkan di mana saja.
Salah satu dampak dari aturan ini adalah kasus ByteDance yang memilih untuk membangun data center pertamanya di Johor Bahru, Malaysia.
Menurut Hendra, pengguna TikTok di Indonesia adalah yang terbesar, tetapi server AI mereka malah berada di Malaysia dan rencananya akan dibangun juga di Thailand.
Faktor pendorong keempat pertumbuhan data center di Indonesia adalah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ia mencontohkan banyaknya pembangunan data center baru yang sudah AI-ready, seperti 120 MW dari BW Digital di Batam dan 120 MW dari Princeton Digital Group di Cikarang.
"Dengan adanya banyak sekali potensi pertumbuhan ini, kita di industri sedang meminta pemerintah di beberapa kementerian, terutama Kemenkeu terkait insentif fiskal untuk AI server," tuturnya.
Hendra mencontohkan bagaimana operator seluler (opsel) seperti Indosat menjadi mitra cloud Nvidia dengan komitmen US$200 juta. Namun, mereka harus bayar pajak dan bea masuk sekitar 23 persen yang dinilainya memberatkan.
Lebih lanjut, Hendra menyebut masalah lain di industri data center adalah perizinan satu pintu. Investor data center harus bertemu banyak kementerian dan butuh waktu 6-9 bulan untuk dapat izin membangun.
Hal ini disebut sangat berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand yang urusannya satu pintu.
Oleh karena itu, Hendra berharap ada penyelarasan regulasi untuk mempermudah masalah tersebut.
Kapasitas data center di Indonesia berada pada angka 500 MW di tahun 2025 dan diproyeksikan tumbuh ke angka 900 MW pada tahun ini. Data center yang sudah AI-ready diperkirakan berada di angka 30 persen.
Menuju proyeksi kapasitas data center 2,7 GW pada 2030, Hendra memproyeksikan pertumbuhan tahunan (CAGR) di angka 25 persen.
(lom/dmi)

















































