Kota di Myanmar Jadi Pusat Penipuan Online Berskala Internasional

18 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah kota di Myanmar yang berbatasan dengan Thailand, Myawaddy, kini menjelma menjadi pusat industri penipuan berskala global.

Salah satu kompleks di kota itu, KK Park, kini dibangun khusus dan disebut para ahli telah menjadi pusat perjudian daring dan penipuan di internet.

Dikutip dari CNN, Kamis (3/4), pusat industri penipuan di Myawaddy dijalankan oleh geng kriminal dan panglima perang yang beroperasi di sepanjang perbatasan Myanmar dengan Thailand.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, banyak orang ditahan di wilayah itu dan mereka dipaksa bekerja menipu warga biasa, termasuk warga negara Amerika, hingga menghabiskan seluruh tabungan mereka.

Beberapa orang menjadi sukarelawan untuk bekerja di kompleks tersebut. Namun, banyak yang tergiur dengan iming-iming pekerjaan dengan gaji tinggi.

Selama bertahun-tahun, industri penipuan siber itu dijalankan oleh sindikat kejahatan terafiliasi ke China, serta telah menjamur di sepanjang perbatasan pegunungan Thailand dan Myanmar.

Mereka meraup miliaran dolar dari penipuan, pencucian uang, dan kegiatan terlarang lain, sehingga pemerintah China dan Thailand akhirnya mengeluarkan tindakan keras pada Februari.

Namun, para ahli dan analis meyakini industri tersebut akan kembali menguat.

"Miliaran dolar diinvestasikan dalam bisnis semacam ini," kata Kannavee Suebsang, seorang anggota parlemen Thailand yang memimpin upaya negaranya membebaskan mereka yang ditahan di pusat penipuan.

"Mereka [sindikat penipuan] tidak akan berhenti," katanya lagi.

Pakar mengatakan dunia penipuan bawah tanah itu tangkas dan profesional. Mereka bisa dengan cepat memperluas jaringan operasi melalui internet untuk menyasar korban dengan demografi baru.

Sindikat-sindikat tersebut mengadopsi mata uang kripto dan berinvestasi dalam pengembangan teknologi mutakhir untuk memindahkan uang dengan lebih cepat, serta membuat praktik penipuan menjadi lebih efektif.

Bahkan, kelompok kriminal ini menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk menulis skrip penipuan, serta teknologi deepfake yang semakin realistis untuk menciptakan persona, berpura-pura sebagai kekasih, dan menutupi identitas, suara, dan jenis kelamin mereka.

"Pada dasarnya, ini adalah situasi yang belum pernah dihadapi kawasan ini sebelumnya," kata John Wojcik, seorang analis kejahatan terorganisasi di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan.

Skala masalah ini terlalu besar untuk ditangani oleh satu pemerintah atau lembaga. Para ahli mengatakan diperlukan respons secara global.

(vws)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |