CNN Indonesia
Jumat, 30 Jan 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Mitos soal bedong bayi cegah kaki O dan X dibantah dokter. (istockphoto/Amax Photo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Mitos soal bedong bayi yang dipercaya bisa mencegah kaki berbentuk O atau X kembali dibantah oleh kalangan medis.
Dokter spesialis ortopedi subspesialis ortopedi anak di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Mohammad Aulia Herdiyana menegaskan anggapan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
"Jelas saya mengatakan itu mitos. Justru kita agak peduli karena studi-studi menyebutkan membedong yang terlalu rapat dapat berpengaruh pada panggul," ujar Aulia dalam temu media di Jakarta, mengutip Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Aulia, kondisi kaki bayi yang tampak berbentuk O (genu varum) atau X (genu valgum) merupakan hal yang wajar terjadi sejak lahir. Pada sebagian besar kasus, bentuk kaki tersebut akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan usia tanpa perlu intervensi khusus.
Namun, perubahan itu bisa berbeda pada bayi dengan faktor keturunan tertentu. "Kalau ada riwayat keluarga, memang ada kemungkinan bentuk kaki tidak banyak berubah," jelas dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah itu.
Alih-alih membantu, membedong kaki bayi terlalu rapat justru dinilai berisiko. Aulia menjelaskan tekanan berlebih pada area panggul dapat membuat posisi bonggol tulang bergeser ke arah luar.
Dampaknya, panjang kaki bisa menjadi tidak sama dan memengaruhi pola gerak anak di kemudian hari.
"Kalau dibiarkan terus, pola jalan bisa berubah karena ada perbedaan panjang kaki," kata Aulia. Kondisi ini dapat membatasi ruang gerak panggul dan mengurangi keaktifan anak saat beraktivitas.
Meski demikian, Aulia tidak melarang orang tua membedong bayi sepenuhnya. Ia menekankan pentingnya memastikan bedong tidak terlalu kencang dan bayi tetap memiliki ruang untuk bergerak dengan nyaman.
Selain bedong, Aulia juga menyoroti kebiasaan duduk anak dalam posisi W, yakni duduk dengan kedua kaki ditekuk ke belakang membentuk huruf W. Posisi ini disebut dapat memengaruhi sudut dan pertumbuhan panggul.
"Ketika anak duduk W, kakinya diputar ke dalam. Kalau terlalu sering, tulang akan terbiasa di posisi itu dan anak akan nyaman berjalan dengan kaki mengarah ke dalam," ujarnya.
Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan anak mengalami intoeing, yakni kondisi berjalan dengan ujung kaki mengarah ke dalam. Untuk mencegahnya, orang tua disarankan rutin mengingatkan anak agar duduk bersila atau duduk di kursi, sehingga posisi panggul dan kaki lebih netral.
Dengan pemahaman yang tepat, orang tua diharapkan tidak lagi terpaku pada mitos, melainkan lebih fokus menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang optimal anak.
(tis/tis)

















































