CNN Indonesia
Sabtu, 05 Apr 2025 01:14 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --
Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama dan eks Wakil Presiden Kamala Harris mengkritik langkah pemerintah di bawah Donald Trump baru-baru ini terkait penetapan tarif resiprokal yang dikritik banyak negara.
Obama lewat pidatonya pada Kamis (4/4), mengkritik tajam Trump terhadap sejumlah isu, termasuk kebijakan kenaikan tarif resiprokal. Meski begitu, Obama mengaku lebih khawatir dengan apa yang ia gambarkan sebagai penyalahgunaan wewenang oleh Gedung Putih.
"Saya lebih khawatir dengan pemerintah federal yang mengancam universitas jika mereka tidak melepaskan mahasiswa yang menggunakan hak mereka untuk bebas bicara bebas," kata Obama kepada kerumunan mahasiswa dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obama mengkritik bagaimana rezim Trump menghadapi perbedaan pendapat, serta mengintimidasi kantor berita dan lembaga hukum.
"Gagasan bahwa Gedung Putih bisa melapor firma hukum, jika anda mewakili pihak yang tidak kami sukai, kami akan menarik semua bisnis kami atau melarang Anda mewakili orang secara efektif. Perilaku semacam itu bertentangan dengan kesepakatan dasar yang kita miliki sebagai orang Amerika," imbuh Obama.
Obama sebelumnya telah memperingatkan bahaya jika Trump terpilih kembali. Pernyataan itu ia sampaikan saat berkampanye untuk Harris Pilpres AS 2024.
"Hanya karena (Trump) bertingkah konyol," kata Obama saat itu, "tidak berarti masa jabatannya tidak akan berbahaya."
Terpisah, Harris menilai langkah-langkah Trump sejak kembali menjabat sebagian besar dapat diprediksi. Dia tak terkejut bahwa kembalinya Trump ke Gedung Oval telah menciptakan ketakutan yang besar.
"Ada banyak hal yang kami tahu akan terjadi," kata Harris dalam sebuah video pernyataannya di Leading Women Defined Summit.
Sebelumnya, Trump mengancam akan meninjau kembali dana hibah US$9 miliar untuk Universitas Harvard. Langkah ini dilakukan menyusul aksi sejumlah mahasiswa Harvard yang mengkritik genosida teroris Israel.
Donald Trump sedang gencar menargetkan universitas-universitas yang protes dipicu perang Israel. Universitas yang ditemukan bersuara terkait antisemitisme dicabut dana federalnya dan mahasiswa asing yang demo dideportasi.
(thr/dal)