Orangutan Tapanuli Sisa 800 Ekor, Habitat Batang Toru Direstorasi

5 hours ago 9

Jakarta, CNN Indonesia --

Upaya pemulihan Ekosistem Batang Toru memasuki babak baru di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Program restorasi berbasis komunitas ini menyasar lahan terdampak bencana banjir dan longsor Sumatra akhir 2025 seluas 159 hektare (ha), sekaligus menjadi langkah kritis dalam upaya penyelamatan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang populasinya hanya tersisa sekitar 800 individu di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Program ini dijalankan melalui dokumen kesepakatan konservasi masyarakat yang disusun oleh Konservasi Indonesia bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI), dengan melibatkan penduduk desa setempat. Desa Aek Haminjon memiliki luas wilayah 11.510 ha dan secara ekologis berfungsi sebagai penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, yang tercatat sebagai bagian dari Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci global.

Sundaland Program Director Konservasi Indonesia Jeri Imansyah mengatakan, model pengelolaan partisipatif ini dirancang untuk mengintegrasikan target perlindungan habitat satwa liar sekaligus keberlanjutan sumber penghidupan pertanian masyarakat setempat.

Ia menjelaskan, mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan. Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru.

"Kawasan tersebut merupakan rumah bagi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), yang kini berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN dengan estimasi populasi global yang tersisa hanya sekitar 800 individu," ucap Jeri, dalam keterangan resminya, Kamis (18/6).

Restorasi ditargetkan menanam 35 ribu hingga 49 ribu batang komoditas utama, meliputi pohon kopi, karet, cokelat, dan durian. Berdasarkan pengamatan citra satelit, teridentifikasi deforestasi seluas kurang lebih 11 ha di wilayah yang berbatasan langsung dengan desa akibat aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.

"Pentingnya pemulihan bagi wilayah Desa Aek Haminjon didasari atas fungsinya yang vital sebagai habitat satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi, seperti orangutan Tapanuli, harimau Sumatra, tapir, trenggiling, serta berbagai jenis fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi," tambah Jeri.

Dua zona restorasi

Pelaksanaan restorasi dibagi dalam dua zona. Zona pertama mencakup area dengan tingkat gangguan tinggi yang dicirikan oleh tutupan lahan terbuka, seperti kebun karet tua dan lahan jagung yang minim pohon besar. Zona kedua berupa area dengan tingkat gangguan rendah berbentuk hutan sekunder relatif rapat, namun tetap memerlukan intervensi vegetasi.

Kebutuhan bibit di masing-masing zona berkisar antara 200 hingga 400 batang per hektare. Sebelum penanaman, dilakukan serangkaian tahapan teknis ilmiah, dimulai dari penyediaan data dasar kondisi tutupan lahan berbasis foto udara, dilanjutkan survei keanekaragaman hayati vegetasi sebagai pembanding evaluasi pascatanam.

Direktur SRI Dony Saputra menyebut, data survei yang terhimpun sejak 2020 menunjukkan kehilangan tutupan hutan sebagai faktor utama penyebab longsor, banjir, dan penurunan populasi satwa.

"Intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang sangat aman, sebab memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus komitmen bersama masyarakat untuk menjaga batas cagar alam secara hukum adat," kata Dony.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, yang hadir dalam kegiatan restorasi menyebut kolaborasi ini sebagai formulasi kebijakan yang aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

"Upaya restorasi di Desa Aek Haminjon ini menjadi model percontohan penting bagaimana pengelolaan kawasan penyangga cagar alam seharusnya dilakukan secara partisipatif. Pelibatan aktif kelompok masyarakat melalui skema kesepakatan konservasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pembibitan, penanaman, hingga pengawasan ke depan diharapkan mampu menghasilkan ekonomi berkelanjutan bagi desa setempat," papar Gus Irawan.

(dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |