Pemimpin Yaman Telepon Trump Minta Bantuan AS Lawan Milisi Houthi

35 minutes ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, disebut melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump untuk meminta dukungan Amerika Serikat melawan Houthi.

Menurut sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak menjanjikan dukungan militer untuk Yaman. Permintaan Yaman ini terjadi setelah Houthi meluncurkan serangan ke ibu kota Riyadh Saudi pada Sabtu (19/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Percakapan yang berlangsung pada Minggu (20/9) itu dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas terhadap pemerintah Yaman yang sedang terdesak, setelah Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan.

Alimi memimpin Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang dibekingi Arab Saudi. Pasukan dewan ini memerangi Houthi dengan bantuan udara dari Saudi.

Sejumlah media AS sebelumnya juga menyebut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MbS) juga telah mendesak Trump untuk menyerang Houthi.

Menurut laporan The New York Times, Pangeran MbS pada Minggu (20/9) meminta Trump membantu membendung pergerakan milisi Houthi, meski permintaan sebelumnya telah ditolak Trump pada pekan lalu.

Houthi kini menguasai wilayah pesisir strategis yang menghadap Selat Bab Al Mandab, setelah merebutnya dari pasukan pemerintah yang didukung Saudi. Penguasaan terhadap wilayah ini semakin memperkuat cengkeraman Houthi yang dibekingi Iran dan sekutunya, atas dua jalur perairan yang menjadi tumpuan kawasan Teluk.

[Gambas:Video CNN]

Trump dilema

Menurut laporan, Trump telah beberapa kali mengubah strateginya terkait Yaman. Dia berada dalam dilema antara tekanan Saudi untuk menyerang Houthi yang dibekingi Iran, dan risiko membuka front tempur baru dalam perang di Timur Tengah.

Pada Minggu, Pangeran MbS disebut menelepon Trump untuk kembali mendesaknya turun tangan membendung laju milisi Houthi yang bergerak cepat.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa ia menolak gagasan tersebut. Namun dia sempat berubah pikiran setelah pembicaraan via telepon dan "memerintahkan Pentagon untuk bersiap melancarkan serangan udara terhadap Houthi".

Namun keesokan harinya, Trump tampaknya kembali membatalkan keputusan itu.

Keputusannya membatalkan serangan terhadap Houthi diambil saat "para komandan menyetujui daftar target, pasukan sedang memuat bom ke pesawat tempur AS, dan gelombang serangan sudah akan dimulai," demikian laporan The Times.

Perang di Yaman yang bermula pada tahun 2014 saat Houthi merebut ibu kota Sanaa, dan sempat mengalami masa jeda sejak tahun 2022. Namun perang kembali berkecamuk pada Juli kemarin.

(dna)

Read Entire Article
| | | |