Pesan SBY ke Trump dan Khamenei soal Potensi Perang AS-Iran

8 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti perundingan dan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sedang berjalan. Menurut SBY Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah.

SBY mengakui dalam proses negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak.

Pasalnya, kepentingan kedua negara sangat berbeda. Menurut SBY, ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun 'harmoni' antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah," tulis SBY lewat akun X pribadi @SBYudhoyono, Jumat (27/2).

Memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, SBY mengaku mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan.

"Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah 'take and give'. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti," tambah SBY.

Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, SBY mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki 'uniqueness'. Keduanya juga memiliki ego, ambisi dan juga 'personal interest'.

"Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta 'legacy' indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan 'he must go'. Berarti, ini merupakan 'survival interest' buat pemimpin Iran itu," ungkap SBY.

Menurut SBY, banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.

"Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya," kata SBY.

Trump dan Khamenei, kata SBY, tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.

Catatan bagi commander in chief

SBY menuliskan catatan penting bagi seorang "commander-in-chief" untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.

Pertama, kata SBY, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut "war of necessity" dan "war of choice". Pada akhirnya, menurut Ketua Umum Partai Demokrat itu, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.

Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei, kata SBY, harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan.

"Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi," kata SBY.

[Gambas:Twitter]

Bagi Amerika, menurut hemat SBY, yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang.

"Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian "exit" atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," kata SBY.

Terakhir, tambah SBY, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.

(tim/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |