Rasuna Said, Orator Islam Pahlawan Nasional Perempuan dari Minang

2 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said adalah segelintir dari pejuang perempuan Indonesia di masa pergerakan yang telah dinobatkan negara sebagai Pahlawan Nasional.

Bersama dia, beberapa tokoh perempuan lain yang telah menjadi pahlawan nasional di antaranya Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) yang merupakan istri dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, tokoh pengajar Jawa Barat Dewi Sartika, hingga aktivis buruh Marsinah yang tewas disiksa dan dibunuh di masa Orde Baru (Orba).

Rasuna Said (1910-1965) asal Sumatra Barat diakui publik sebagai orator ulung dan pengajar sekolah Thawalib. Perempuan asal Minang itu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No: 084/TK/Tahun 1974 pada 13 Desember 1974.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semasa hidupnya, Rasuna Said memperjuang hak politik dan pendidikan perempuan dengan landasan keislaman yang kuat. Dia bisa dikatakan menjadi teladan bagi kaum hawa di bulan suci Ramadan ini untuk memperjuangkan nasionalisme secara islami.

Perempuan kelahiran Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam itu meniti ilmu di kampungnya hingga Diniyah Putri yang didirikan Rahmah El Yunusiyyah (juga telah dinobatkan jadi pahlawan nasional) di Padangpanjang. Rasuna Said muda juga meniti ilmu agama di Pesantren Ar-Rasyidiyah.

Pengalaman menuntut ilmu itu kemudian membentuk pandangannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Rasuna Said mulai mengembangkan pemikiran kritisnya, terutama terkait peran perempuan dalam masyarakat Islam.

Bukan hanya belajar, lalu ikut mengajar di almamaternya, Rasuna juga mulai terlibat sejumlah organisasi pergerakan di masa kolonialisme Belanda itu.

Dia menaruh perhatian pada isu-isu sosial dan ketidakadilan yang dialami kaum perempuan.

Mengutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional repositori Kemendikdasmen, dia bergabung dengan organisasi Sarikat Rakyat dan pernah menjadi sekretaris cabang. Sarikat Rakyat itu menjadi cikal bakal Partai Serikat Islam Indonesia (PSII).

Selain itu, Rasuna juga menjadi anggota Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). PERMI didirikan perhimpunan "Sumatra Thawalib" pada Mei 1930 di Bukittinggi. Rasuna kemudian menjadi pimpinan pengurus besar organisasi itu.

Di organisasi itu dia kemudian menginisiasi sejumlah lembaga atau tempat pendidikan, terutama untuk kaum perempuan di Tanah Minang.

Keberanian Rasuna Said di antaranya terlihat ketika ia berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Ia berpidato di hadapan publik yang berjudul "Langkah-Langkah Menuju Kemerdekaan Rakyat Indonesia".

Dalam pidatonya, perempuan itu mengecam pemerintahan kolonial yang menghancurkan mata pencarian rakyat dan berbagai kerusakan yang dilakukan pemerintah kolonial.

Ia menyampaikan untuk menjadikan imperialisme sebagai musuh karena bertentangan dengan islam dan Al-Qur'an. Puncaknya yaitu ketika ia memproklamirkan "Kita harus mencapai kemerdekaan Indonesia, kemerdekaan harus datang".

Penjara Kolonialisme Belanda

Kepiawaian dan keberaniannya sebagai orator dalam mengecam kolonialisme Belanda dan mendorong kemerdekaan itu membuatnya dijuluki 'Singa Betina'.

Bahkan karena 'panas telinga', pemerintah Belanda kemudian memenjarakannya. Lewat tuduhan Speek Delict atau menebar kebencian (hatespeech), dia dikurung rezim kolonial.

Rasuna Said ditangkap pada 1932 dan dijebloskan ke penjara kolonial di Semarang.

Namun hukuman tersebut tidak membuatnya gentar dalam berjuang. Dia juga menulis surat tentang amanat perjuangannya ke pengurus PERMI dari balik sel kolonialis.

"Kita berjuang dengan keyakinan! Jika kita menang dalam perjuangan kita, kita akan mendapatkan dua manfaat. Pertama, Indonesia akan merdeka; Kedua, surga seperti yang dijanjikan Allah. Dan jika kita gagal tapi tidak boleh maka memang Indonesia merdeka tidak akan tercapai, tapi surga masih menanti. Ini adalah keyakinan kita!".

Bukan sekedar pengajar, aktivis pergerakan, dan pemimpin organisasi. Rasuna Said juga dikenal sebagai tokoh pers. Mengutip dari buku Nama dan Kisah Pahlawan Indonesia, Rasuna Said menjadi pemimpin di redaksi majalah "Menara Putri".

Melalui karya-karya jurnalistik, Rasuna Said memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam batas-batas keislaman dan memuat permasalahan yang dihadapi perempuan kala itu.

Semangat juangnya yang membara membuatnya dekat dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional, salah satunya pahlawan proklamator RI, Sukarno. Setelah kemerdekaan RI, Rasuna Said menjadi anggota DPR-RIS sebelum menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Tulisan ini adalah rangkaian dari kisah ulama dan cendekiawan muslim yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, diterbitkan CNNIndonesia.com pada Ramadan 1447 Hijriah.

(kna/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |