Review Film: Norma, Antara Mertua dan Menantu

10 hours ago 3

Terlepas dari cerita skandalnya yang mungkin aneh bin jijik bagi sebagian orang, penulis sukses menarasikan cerita Norma dengan 'santun'.

Jakarta, CNN Indonesia --

Semestinya, saya kira, tak perlu usaha keras untuk bisa memahami Norma: Antara Mertua dan Menantu. Selain karena cerita aslinya sudah jadi bahan gosip se-Indonesia pada 2022, toh film ini mestinya disajikan untuk para pencinta drama.

Namun rupanya saya agak meleset. Mengangkat kisah yang sangat viral saya akui memang bukan hal mudah, Oka Aurora selaku penulis mestilah memikirkan strategi menyampaikan cerita aib tersebut dengan seksama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oka bukan hanya harus memikirkan cara untuk tidak terjebak dengan kisah yang sudah kadung diketahui khalayak, tetapi juga cara yang pantas mengisahkan cerita bizarre yang biasanya ada di situs-situs dewasa itu ke format film rating 13+.

Usaha Oka pun tidak sia-sia. Terlepas dari cerita skandalnya yang mungkin aneh bin jijik bagi sebagian orang, Oka sukses menarasikan cerita Norma dengan 'santun'.

Saya merasa Oka banyak mengerem untuk menulis aib sebuah keluarga asal Serang, Banten, ini. Bukan cuma itu, Oka tampak merombak sebagian besar kisah Norma Risma supaya menjadi sebuah sajian cerita film yang utuh.

 Antara Mertua dan Menantu resmi tayang di bioskop pada 31 Maret 2025. Film ini diangkat dari kisah Norma Risma yang sempat viral pada 2022.Review film Norma: Antara Mertua dan Menantu: Terlepas dari cerita skandalnya yang mungkin aneh bin jijik bagi sebagian orang, penulissukses menarasikan cerita Norma dengan 'santun'.: (dok. Dee Company via IMDb)

Oka hanya mempertahankan sebagian cerita yang sudah viral, seperti momen foto pernikahan, kisah cinta tak biasa mertua-menantu di warung mie ayam, hingga gongnya adalah penggerebekan di kontrakan.

Meski begitu, saya tak bisa menahan diri untuk membandingkan Norma: Antara Mertua dan Menantu dengan karya Oka lainnya yang serupa nan fenomenal, Ipar Adalah Maut (2024).

Bukan hanya dari pembabakan dan dialog-dialog dengan makna bersayap yang menyebar sebelum skandal terjadi, tetapi hingga soal bagaimana Oka menempatkan penyelesaian skandal tersebut. Kedua film ini punya pola serupa.

Tak cuma itu, bahkan tone warna kedua film ini serupa. Padahal mereka berbeda studio produksi, berbeda sutradara, berbeda DoP. Keduanya hanya berasal dari penulis dan penyunting yang sama.

Namun sayangnya, bagi saya Norma: Antara Mertua dan Menantu belum bisa mengungguli karya Oka sebelumnya itu. Ada banyak hal yang mengerem saya untuk menikmati sajian drama skandal ibu mertua dan menantunya ini.

 Antara Mertua dan Menantu resmi tayang di bioskop pada 31 Maret 2025. Film ini diangkat dari kisah Norma Risma yang sempat viral pada 2022.Review film Norma: Hal yang membuat apresiasi bukan soal kemiripannya dengan sosok perempuan aslinya, melainkan bagaimana Wulan membawakan karakter yang sangat rumit bernama Rina itu.: (dok. Dee Company via IMDb)

Mungkin alasan pertama adalah Oka bukan cuma sekadar menyajikan kisah skandal dalam Norma: Antara Mertua dan Menantu, tetapi juga membebaninya dengan muatan yang lebih 'berfaedah' dari sekadar bahan gibah.

Bila dalam kisah aslinya saya juga tak memahami logika alasan skandal mantan suami dengan ibunda Norma Risma itu bisa terjadi, tapi dalam film ini, saya setidaknya bisa meraba alasan dari perselingkuhan tersebut.

Mulai dari latar psikis dari ibunya Norma yang dimainkan dengan sangat baik oleh Wulan Guritno, hingga bagaimana kibaran 'bendera merah' yang sangat gamblang oleh Irfan dibawakan cukup baik oleh Yusuf Mahendra.

Belum lagi dengan kenaifan Norma yang juga ditampilkan dengan baik oleh Tissa Biyani, serta situasi yang terjadi dalam keluarga yang dipimpin oleh Abah (Rukman Rosadi) tersebut.

Kompleksitas dan lapisan masalah yang dimasukkan Oka itulah yang mungkin sedikit banyak memengaruhi emosi saya dalam menonton Norma, bahwa kejadian itu terjadi bukan hanya karena 'khilaf'.

Bahkan saya harus mengakui ada sedikit rasa empati untuk karakter Ambu, walau tetap saja aksi yang ia lakukan cukup bisa membuat saya geleuh, terutama saat ada aktivitas di atas ranjang dengan berisik.

Satu sisi, kompleksitas psikologis karakter ini mengurangi kadar emosi dan keseruan saya menyaksikan film Norma. Namun di sisi yang lain, emosi saya yang terkenali bisa jadi tanda rencana Oka di awal cukup berhasil.

 Antara Mertua dan Menantu resmi tayang di bioskop pada 31 Maret 2025. Film ini diangkat dari kisah Norma Risma yang sempat viral pada 2022.Norma: Antara Mertua dan Menantu: Kompleksitas psikologis karakter mengurangi kadar emosi dan keseruan menyaksikan film Norma. Namun di sisi yang lain, emosi yang terkenali bisa jadi tanda rencana Oka di awal cukup berhasil. Foto: (dok. Dee Company via IMDb)

Kenapa saya bilang cukup? Saya merasa kisah Oka akan semakin bisa menyentuh tombol emosi penonton bila berada di tangan sutradara yang paham betul memainkan emosi masyarakat Indonesia. Inilah yang jadi pembeda dengan Ipar Adalah Maut.

Guntur Soeharjanto tampaknya belum cukup luwes dalam menerjemahkan naskah Oka Aurora ke layar lebar. Ada sejumlah adegan yang eksekusinya kurang mulus, bahkan terasa tak logis.

Selain itu, Guntur juga tampaknya tak banyak memberikan visinya dalam film ini, atau berusaha menjadikan tampilan Norma berbeda dibanding karya Oka yang sebelumnya. Film ini jelas sangat bertumpu pada narasi Oka dan penampilan trio pemeran utama.

Saya mengapresiasi usaha Wulan Guritno memerankan sosok mertua di luar nalar. Hal yang membuat saya apresiasi bukan soal kemiripannya dengan sosok perempuan aslinya, melainkan bagaimana Wulan membawakan karakter yang sangat rumit bernama Rina itu.

Bila dilihat seksama dan dibandingkan dengan utuh, sebenarnya Rina dengan karakter perempuan yang asli memiliki gelagat cukup berbeda. Perbedaan inilah yang menegaskan bahwa Wulan memang memainkan karakter dari naskah, bukan mengikuti sosok aslinya.

Begitu pula dengan Tissa sebagai Norma dan Yusuf sebagai Irfan. Keduanya juga terlihat memerankan karakter dari naskah yang agaknya berbeda dibandingkan dengan kenyataannya.

[Gambas:Video CNN]

Namun Nunung adalah salah satu penampilan yang membuat film ini lebih berwarna dan menyenangkan. Perannya memang sedikit, tetapi sanggup menjadi penyegar cerita penuh drama ini. Nunung ya cukup menjadi Nunung.

Dengan segala rupa sajian Norma: Antara Mertua dan Menantu ini, saya ingin mengulang apa yang saya tulis di akhir review saya terkait Ipar Adalah Maut:

Dengan tetap mengutamakan penggarapan naskah yang baik, saya rasa tema kehidupan rumah tangga bisa jadi topik menjanjikan seperti kisahnya yang sukses memikat ibu-ibu pencinta sinetron.

Sehingga, industri film lokal tidak cuma bergantung pada horor, cerita cinta remaja, apapun-asal-religi, serta waralaba yang digarap berulang-ulang dan dicacah-cacah.

[Gambas:Youtube]

(end)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
| | | |